Dilema Manusia Waras

Fakta saat ini, “Satu orang yang waras, berkumpul ditengah-tengah kerumunan orang gila, maka orang waras lah yang dianggap gila!”

Itu fakta paling gila yang ada di Indonesia, hmm mungkin di Dunia. Nggak tau juga deh. Tapi yang jelas, Indonesia mengalami defisit moral. Parahnya defisit moral tersebut sistemik. Parahnya lagi sistem tersebut dibudayakan. Ada seorang wanita Indonesia, yang sangat berjasa untuk Negara Indonesia dengan berbagai kontribusi kebijakannya, tapi malah dianggap gila. Tidak bias diajak kompromi. Malah disebut manusia goa. Beliau pernah menjabat posisi penting di republik ini, dan sangat strategis dalam hal kebijakan ekonomi Indonesia. Namun institusi yang dikepalainya bisa dibilang sangat “basah”. Dia datang dengan ke institusi tersebut dengan membawa suatu nilai, yakni tidak untuk korupsi. Bernyali.

Coba aja dibayangkan, institusi sebasah kementerian keuangan, yang pada saat itu tidak transparan, tidak independen juga pegawainya tidak kompeten, tapi dia langsung mengepalai sistem tersebut dengan nilai yang dia bawa. “Tidak ingin terlibat untuk korupsi dan institusinya harus bersih dari korupsi.

Read more »

(Masih) Karena Korupsi ?

Kemarin-kemarin sempat heboh di media elektronik mengenai jembatan yang sudah mulai rubuh dan putus di Kabupaten Lebak, Banten. Sekilas dilihat jembatan tersebut relatif panjang, dan sangat tinggi. Jembatan tersebut seperti nadi di dalam tubuh manusia yang mengalirkan darah dari jantung ke bagian dalam tubuh lainnya. Sehingga dapat dikatakan jembatan tersebut sangat penting dalam kehidupan kedua desa yang terhubung tersebut. Walaupun hanya sekedar fasilitas penghubung, tapi dampak negatif yang dirasakan sangat besar, dan gue yakin itu. Sangat menghambat anak kecil yang ingin pergi kesekolah, bahkan sempat diberitakan ada siswa SD yang terjatuh dari jembatan tersebut.

Coba deh dibayangkan, anak kecil, Ingin sekolah aja hambatannya complicated sekali. Belum lagi bagi para kaum produktif diantara kedua desa tersebut dimana dapat menghambat kegiatan pencarian nafkahnya. Hampir dapat dipastikan jika jembatan tersebut dibiarkan seperti itu pastinya akan membuat salah satu desa terisolasi, ya pastinya pembangunan jadi tersendat. Untuk sekedar info, jembatan kayu yang telah putus tersebut, sebelumnya juga mengizinkan kendaraan bermotor bebas melewati jembatan tersebut, dan katanya jembatan tersebut sudah ada atau beroperasi sejak tahun 1960-an.

Menurut gue kalau sampai sepeda motor melewati jembatan tersebut itu adalah kegilaan. Mereka tidak berfikir panjang untuk keselamatan dirinya dan keselamatan antara dua desa tersebut. Mungkin bisa dibilang hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tapi yang terpenting dari poin ini bukan “kegilaan” tersebut. Mungkin saja memang sudah kebutuhan zaman sekarang, yang dituntut untuk memiliki mobilitas yang lebih cepat, sehingga para pengguna jembatan rela melakukan “kegilaan” tersebut. Kalau alasannya seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin hanya jembatan tersebut satu-satunya akses yang bisa dilewati. Poin utama yang perlu digarisbawahi adalah siapa yang tidak peka atau pura-pura tidak peka terhadap “kegilaan” tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Skripsi temen gue, Provinsi Banten termasuk dalam kondisi daerah tertinggal. Ya jelas aja, sampai sekarang masih banyak daerah-daerah yang terisolasi, dan suku badui-nya masih kental. Namun yang gue sesalkan adalah masih kentalnya suku badui di Provinsi Banten selalu disebut-sebut sebagai keberagaman budaya. Menurut gue itu omong kosong belaka, karena menurut gue fenomena seperti itu adalah contoh pembangunan yang tidak meretas sampai kebawah (Trickle Down Effect).

Read more »

Percaya Atau Kenyataan ? Awas Ada Black Hole!

Kamis kemarin, saya sempat wawancara dengan petinggi di kemenko bidang ekonomi makro dan keuangan. Mungkin dia sendiri Deputi I. Sempat gugup, karena sudah lama juga tidak me­-review tentang perkuliahan, sehingga ketika ditanya mengenai “ekonomi pembangunan, ekonomi publik, ekonomi moneter itu apa saja yang dipelajari?” Dari awal wawancara gue emang nggak terlalu berharap. Diterima Alhamdulillah, nggak lolos ya yaudah, belum rezeki dan bahkan gue cukup bersyukur karena sudah mendapatkan kesempatan untuk wawancara.
Pas waktu wawancara kemarin ada sesuatu yang menarik, pewawancara menanyakan sesuatu yang menjebak. Pertanyaan seperti ini “Dalam menyusun sesuatu, sudut pandang manakah yang harus dimulai, percaya atau kenyataan?” Jujur sempat kaget ditanya seperti itu, tapi gue berani dengan lantang dan tetap senyum, menjawab “percaya”. Seketika pewawancara membantai habis gue dengan logika Strawman Fallacy-nya, “Kalau seperti itu, berarti hasil dari penelitian kamu bisa tidak valid dong, kamu mengutak-atik segala macam agar semua hasilnya bisa sesuai dengan yang kamu percayai.” Kesal sebenarnya ditikam seperti itu, tapi gue tetap jawab dengan argumentasi gue dan mengklarifikasikan mengapa gue lebih memilih “percaya” daripada “kenyataan”. Panjang lebar gue jelasin alasan gue juga dengan cara yang tidak ambisius.

Read more »

and Once Again, Do Not Judge The Book by its Cover!

Ada yang bilang gini:
“kalau kita menjadi orang lain, maka identitas diri kita akan hilang.”
Yap, gue pastinya setuju dengan pernyataan tersebut. Tapi, karena emang dunia ini panggung sandiwara dan seiring berkembangnya zaman, suka atau tidak suka, banyak juga indentitas kita sebagai individu yang seutuhnya menghilang. Gue menduga rahasia umum tersebut terjadi karena ada satu faktor utama. Hmm... dugaan gue adalah karena keinginan manusia ingin dipuja sehingga tidak tanggung-tanggung mereka menjadi apapun dan mengorbankan apapun untuk mendapatkan pujaan. Sangat perlu untuk diketahui, bahwa fenomena perilaku tersebut terlah di prediksi oleh ekonom Amerika sebelum terjadinya depresi besar yakni, Veblen (Kritikus pemikiran Neoklasi disaat berkembang-berkembangnya). Salah satu pengamatan empiris beliau adalah bahwa manusia—khususnya konsumen—cenderung tidak rasional dalam kegiatan ekonominya. Veblen mengemukakan bahwa manusia tidak selalu berlandaskan ekonomi dalam bertindak, namun lebih keinginan pengakuan mereka sebagai manusia yang eksis. Dan kalau boleh gue menambahkan kecenderungan tersebut membuat manusia hidup dalam kehampaan, karena dengan semakin diakuinya mereka akan semakin dipujanya mereka, dengan demikian tujuan hidup mereka pun tercapai.

Read more »

Selfish dan Ilmu Ekonomi

Sebelumnya gue pernah menulis tentang kodrat ilmu ekonomi. Mari kita sedikit review, intinya ilmu ekonomi merupakan merupakan ilmu sosial/humaniora. Manusia sebagai objek dari berbagai kajian ilmu ekonomi. Serumit apapun itu model matematika dan model ekonometrika, dan kerumitan berbagai analisis data dari ilmu statistik tidak akan sanggup merubah kodrat ilmu ekonomi sebagai salah satu ilmu sosial. Se“tomboy-tomboy”nya perempuan pun tidak akan merubah dia sebagai laki-laki. 

Oleh karena itu, dalam perumusan kebijakan mengenai ilmu konomi, harus dimulai dengan kepekaan. ekonom harus peka terhadap lingkungan sosial. Bukan berarti mengarah golongan “kiri” (baca: Sosialisme), namun lebih melihat bagaimana seorang ekonom menjawab/mencari jawaban mengenai problematika ekonomi, tidak hanya mendahulukan sifat selfish-nya. Sebab jika dalam perumusan kebijakan ekonomi, lebih mengedepankan kompetisi diantara para ekonom dan memiliki tingkat selfish yang tinggi maka yang dikhawatirkan berbagai kebijakan ekonomi yang dirumuskan akan salah sasaran atau keliru. Perlu ditekankan lagi, bahwa kodrat ilmu ekonomi adalah ilmu sosial/humaniora, maka kebijakan yang salah sasaran atau keliru 250 juta orang Indonesia yang menanggung kerugian.

Read more »