Sektor Pertanian Sebagai Motor Penggerak Perekonomian Negara Indonesia

by


          Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan Negara Indonesia. Negara yang diapit oleh dua benua besar yakni, Asia dan Australia. Di kelilingi oleh dua samudera besar yakni, Samudera Pasifik dan Hindia. Negara yang cukup dikenal karena salah satu negara agraris terbesar di dunia, dengan terhamparnya persawahan dan perladangan kita. Indonesia juga salah satu Negara maritim terbesar di dunia, tapi hal inilah yang menjadikan dilema untuk
Indonesia. Dilema dengan julukannya sebagai Negara agraris dan maritim, namun hasil pertanian dan hasil laut di Negara ini sepertinya tidak cukup untuk menopang kehidupan orang banyak, juga untuk menopang kegiatan perekonomian kita. Seharusnya sektor pertanian inilah yang harus jadi motor penggerak kemajuan ekonomi bangsa. Tapi nyatanya kita tidak mampu menjadikan kedua hal tersebut menjadi motor penggerak perekonomian kita. Dan kita hanya bisa mengimpor beras dari Negara tetangga jika persediaan beras di Indonesia semakin berkurang. Diperparah lagi bukan hanya beras yang kita impor tapi buah-buahan juga menjadi komoditi yang di impor oleh Indonesia. Lebih tepatnya kita mengimpor berbagai macam hasil pertanian dari negara tetangga kita, Thailand.
Apa yang salah dengan pertanian kita ? padahal dengan tersedianya modal alam yang sangat mendukung tapi nyatanya pertanian kita belum bisa menjadi motor penggerak perekonomian. Tanah yang terhampar luas itu seharusnya sudah sangat membantu untuk meningkatkan jumlah kuantitas hasil pertanian kita. Tapi nyatanya sepertinya kita acuh terhadap tanah yang luas itu kecuali seseorang yang menggunakan untuk mendirikan bangunan untuk kepentingan dirinya sendiri. Sekarang ini pemerintah sudah memberikan traktor yang sengaja dibuat untuk para petani Indonesia, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas dari hasil pertanian kita. Tapi mengapa kita masih saja belum bisa menggerakannya atau lebih tepatnya mengendarai motor perekonomian kita sendiri ?

            Dalam teori ekonomi pembangunan, ada dua strategi yang secara umum dilakukan pemerintah didalam kebijakan pembangunan ekonominya. Pertama pertanian atau industrialisasi. Kedua ekspor atau impor.
            Strategi pertama merupakan suatu indikator yang sangat menentu dalam melakukan kebijakan pembangunan ekonomi. Terlebih lagi di negara berkembang seperti Indonesia. Biasanya Negara berkembang seperti Indonesia hanya memfokuskan strateginya pada industrialisasi saja. Itu memang baik, tapi tidak selalu baik. Sudah dijelaskan, Indonesia merupakan salah satu Negara Agraris terbesar di dunia. Sudah jelas juga, pertanian memainkan peranan penting dalam aktivitas dan kemajuan perekonomian Negara Indonesia. Di umur Negara kita yang sudah setengah abad lebih ini, sudah sepatutnya kita bisa menopang kegiatan perekonomian kita dari pertanian dan menemukan berbagai keunggulan absolut kita di sektor ini. Seharusnya kebijakan pemerintah ekonomi pemerintah juga harus lebih memprioritaskan serta meningatkan kegiatan pertanian kita. Seperti meningkatkan ahli-ahli kita di bidang pertanian, yang pada saatnya nanti bisa terjadi transfer skill di bidang pertanian kita, sehingga memunculkan berbagai usaha-usaha agribisnis di Indonesia. Usaha Agribisnis merupakan salah satu usaha yang sangat cocok untuk Negara Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus meningkatkan pendidikan untuk para sarjana-sarjana kita dibidang pertanian. Tapi tidak cukup sampai disitu, pemerintah juga harus mau mengeluarkan sedikit modal untuk pembuatan traktor yang lebih banyak yang ditujukan untuk para petani kita. Setidaknya peningkatan teknologi akan meningkatkan kualitas hasil pertanian kita. Sedikit modal lagi untuk biaya mekanisasi pertanian kita, sehingga petani kita tidak menggantungkan hasil pertaniannya kepada alam.
Walaupun pertanian merupakan motor penggerak perekonomian Negara, kita juga jangan sampai melupakan sesuatu yang sering kita sebut industri. Karena, industri sendiri sangat penting bagi kemajuan perekonomian Negara. Dengan industri, jumlah pengangguran akan berkurang. Namun, industri apakah yang cocok untuk Negara kita ?
            Tidak lain dan tidak bukan adalah industri yang berkaitan dengan pertanian, kita bisa memajukan pertanian kita dengan membuat berbagai industri-industri yang berkaitan dengan pertanian. Seperti industri pembuatan traktor, industri pengolahan padi menjadi beras, tebu menjadi gula, dan berbagai macam hal lainnya yang bisa di buat di Indonesia. Walaupun tidak semua hasil pertanian kita bisa diproduksi di dalam negeri—seperti gandum—tapi sedikitnya kita sudah mempunyai komoditi unggulan yang bisa dihasilkan oleh petani kita. Dan jika berbagai keunggulan kita tingkatkan, maka kita akan mempunyai beberapa keunggulan absolut kita dibidang pertanian. Jelas Keunggulan inilah yang akan menggerakan perekonomian kita.
Contoh konkretnya adalah komoditi beras, hasil tani kita yang terbesar merupakan Beras. Beras merupakan salah satu makanan pokok Negara kita. Pepatah lama mengatakan “seseorang belum dikatakan belum makan kalau belum makan Nasi” Maka komoditi inilah yang harus di prioritaskan oleh pemerintah kita. Sudah saatnya kita menghidupi penduduk kita dengan hasil beras kita tidak dengan hasil beras negara lain. Disinilah kita membutuhkan strategi Industri untuk meningkatkan jumlah komoditi beras kita, dalam menopang perekonomian kita. Walaupun kita negara agraris industri lokal kita jangan hanya terpaut dengan industri agribisnis atau pertanian saja. Industri lokal kita juga harus bisa melirik ke hal lainnya, seperti industri dibidang fashion, otomotif, kuliner juga pariwisata.
Karena industri juga merupakan salah satu faktor penting dalam kemajuan perekonomian suatu negara. Dan dengan industri kita bisa mengurangi jumlah pengangguran di negara Indonesia, dan yang lebih esensial dari strategi industrialisasi adalah proses transfer skill-nya. Hal inilah yang merupakan alasan inti bahwa industri kita juga harus tetap eksis didalam kegiatan perekonomian kita.
            Sedangkan kalau kita masuk dengan strategi yang kedua yaitu ekspor-impor. Sudah sepatutnya juga kita harus berani mengekspor berbagai hasil pertanian kita. Tapi sebelumnya kita harus mempunyai keunggulan absolut di salah satu atau lebih dari hasil komoditi kita. Seperti contoh yang diatas, adalah beras. Jika kita sudah mampu menghidupi penduduk kita dengan beras sendiri, dan sudah terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas yang biasa kita sebut adalah swasembada, kita juga harus berani untuk mengekspor hasil beras kita kepada negara yang kekurangan dengan beras. Semakin banyaknya kita mengekspor beras, maka semakin meningkatkan tingkat GDP kita, dan akan membuat neraca perdagangan kita menjadi surplus. Setidaknya hal itulah yang harus kita andalkan, untuk menjadi negara pengekspor kita harus mempunyai setidaknya 1 keunggulan absolut yang negara lain belum tentu bisa menguasainya. keunggulan absolut itulah yang nantinya akan menjadi kebanggaan kita. Seperti Perancis terkenal dengan Fashionnya, perekonmian Denmark yang terkenal dengan usaha Mebelnya. Begitu juga dengan Indonesia. Kita juga harus mempunyai keunggulah absolut. Jangan sampai ada yang menyatakan sesuatu bahwa Indonesia terkenal dengan tingkat korupsinya yang tinggi. Inilah hal yang sangat membahayakan untuk perekonomian kita.
            Indonesia sebagai negara berkembang tidak lepas juga dengan bantuan negara lain yang secara fakta prekonomiannya lebih maju. Kita juga pasti membutuhkan impor untuk komoditi-komoditi yang belum bisa kita produksi sendiri. Namun setidaknya peran pemerintah kembali dibutuhkan. Dalam kebijakan switching-nya, pemerintah harus menfilter kembali komoditi apa saja yang harus di impor negara Indonesia. Berapakan jumlahnya, dan setidaknya pemerintah kita mencegah masyarakat kita untuk tidak konsumtif. Di tengah gencarnya arus globalisasi ini, pemerintah juga harus melindungi berbagai industri lokal milik kita dalam nyatanya praktek perdagangan bebas. Karena memang industri kita masih belum mampu untuk bersaing dengan industri-industri yang lebih maju lainnya. Di karenakan industri-industri Indonesia masih bersifat infant. Namun seharusnya juga globalisasi ekonomi ini yang harus menjadikan motivasi untuk para industri lokal kita untuk lebih memajukan tingkat manajemen industrinya sehingga industri atau perusahaan industri tersebut dapat berkembang kearah yang lebih baik. Industri kita juga harus berani juga untuk bersaing dengan industri dari luar negeri.
            Setidaknya hal itulah yang harus kita gerakan dari motor perekonomian kita. Secara GDP perekonomian kita memang cukup bagus, namun apakah data tersebut data yang valid ? Karena nyatanya, masih banyak berbagai persolan ekonomi yang harus kita benahi misalnya mengurangi jumlah pengangguran, menekan tingkat inflasi, dan kemiskinan penduduk kita yang secara riil itu nyata ada di sekitar kita.
            Walaupun secara GDP perekonomian kita baik, tapi secara riil perekonomian kita masih jauh dari kata “baik”. Maka kita jangan langsung terlena dengan hasil GDP kita. “berbuat secara naluri orang lain akan menganggap itu tindakan rasional, tapi berbuat secara nurani sebagian orang mengatakan itu adalah hal yang baik, dan lainnya berkata itu adalah tindakan orang yang bodoh. Tinggal pilihlah mana yang lebih baik, tidak lupa diukur dengan pendekatan indifferen.”