Tentang Free Trade

by


“Mau tidak mau kalau kita mau berkembang kita harus Free Trade.”
                -Evi

Pernyataan tersebut sangat membuat saya bimbang terhadap pandangan ekonomi saya. Dosen bilang, bahwa sistem perekonomian yang paling baik adalah sistem pasar atau lebih tepatnya pasar persaingan sempurna bisa disebut jug
a, Kapitalis. Yaa kebebasan pasar memang satu-satunya alternative pilihan kita untuk bisa sedikitnya berkembang dari keterpurukan ekonomi. Tapi entah mengapa, walaupun saya cukup setuju juga mendukung pernyataan tersebut, tapi saya tidak percaya kalau sistem itu merupakan sistem yang paing baik. 

Bukan berarti juga sistem tersebut buruk. Kata dosen lagi, didalam sistem pasar, jumlah barang-barang yang diproduksi sangat banyak juga ditawarkan oleh perusahaan dengan harga yang cukup murah. Hal ini cukup membuat seorang konsumen senang, karena bisa mendapatkan barang yang diinginkannya dengan full substitution, juga dengan harga yang relative murah. Seorang produsen mendapatkan kepuasannya karena dengan menjual produk dengan harga yang rendah, produsen tersebut juga akan mengalami profit yang cukup besar. Dan perekonomian akan selalu berada dalam kondisi equilibrium. Walaupun terkadang kurva keseimbangan menyimpang, namun merekalah yang disebut tangan tak terlihat akan menyesuaikan kembali perekonomian kedalam posisi equilibrium. Yaa setidaknya dari sedikit deskripsi diatas, kita bisa ungkapkan, gagasan dari sistem pasar itu cukup baik. Tapi apakah benar sistem pasar merupakan sistem yang paling baik ?

Lalu bagaimana suatu keadaan yang tidak diinginkan naik, seperti kenaikan bahan-bahan pokok dipasar ? secara logika, kenaikan harga ini sama saja mengurangi pendapatan riil masyarakat, pendapatan masyarakat yang menurun, akan menyebabkan daya beli masyarakat berkurang, dan masyarakat biasanya akan melakukan penuntutan untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Salah satu pilihan perusahaan  dalam menyikapi hal tersebut adalah, dengan meningkatkan jumlah upah kepada buruh, namun juga harus mem-PHK-kan beberapa buruh. Hal ini dikarenakan, perusahaan tidak akan, menaikan semua jumlah pekerja, jumlah biaya untuk menghasilkan suatu output semakin mahal. Yaa salah satu pilihannya adalah dengan menaikan jumlah upah masyarakat dan mem-PHK-kan sebagian pekerja. Tapi dengan jumlah pekerja yang berkurang, otomatis jumlah output yang diproduksi juga akan berkurang. Dan jumlah, output yang berkurang, akan menyebabkan harga-harga menjadi lebih tinggi, harga-harga yang lebih tinggi akan menyebabkan membuat permintaan masyarakat terhadap suatu barang tersebut semakin rendah.
Pada hal ini seorang produsen akan kehilangan sebagian dari profitnya, dalam jangkan panjang hal ini akan menyebabkan gulung tikar, karena semakin tinggi harga output maka pendapatan masyarakat akan semakin berkurang dan penuntutan buruh terhadap kenaikan gaji akan semakin meningkat, dan perusahaan juga akan meningkatkan jumlah upah dengan syarat mengurangi jumlah pegawai. Dan jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka semakin banyak juga perusahaan meninggalkan pasar persaingan sempurna. 

Lalu bagaimana dengan para angkatan pekerja yang baru dipecat. Kejadian seperti ini akan menyebabkan pengangguran semakin bertambah banyak, dan semakin meningkat. Peningkatannya pengangguran ini menghambat perkembangan suatu Negara. Dan suatu kondisi perekonomian suatu Negara akan menjadi tidak stabil, dan kembali dalam keterpurpukan. Dalam hal ini, apakah Sistem Pasar merupakan sistem paling baik ?

Saya sendiri belum bisa menjawabnya, walaupun begitu, saya juga sangat hormat dengan Nabi Ilmu Ekonomi kita, Adam Smith. Mungkin masih banyak hal darinya yang belum saya pahami, tapi dalam keyakinannya saya pasar juga tidak akan bisa melakukan kondisi perekonomian untuk selalu didalam keseimbangan. Dalam hal ini saya juga sangat menghormati dengan bapak Ilmu Ekonomi Makro, John Maynard Keynes, setidaknya dia tidak memandang kapitalis itu sistem yang salah, walaupun dalam perkataannya terkadang sangat pedas terhadap kaum klasik. Tapi dialah yang bermaksud untuk memperbaiki sistem Kapitalis, Lain dengan Karl Marx yang menganggap sistem kapitalis sebagai sistem yang salah dan harus dihentikan dengan ekstreme, juga harus segera dengan digantikan dengan Sistem Sosialis, namun dia tidak melakukan sistemnya secara matematis. Dalam hal ini saya tidak memihak kepada kapitalis, juga sosialis.
Entah kenapa pikiran saya mengkaji dengan sendirinya, bahwa sistem kapitalis itu sistem yang baik namun masih rapuh, dan sistem sosialis sistem yang cukup baik, tapi tidak bisa berdiri sendiri. Dan walaupun banyak yang saya setuju dengan gagasan-gagasan Keynes, tapi hati saya tidak bisa untuk sepenuhnya menganggap saya salah satu penganut Keynesian. Sepertinya hormat saya kepada Adam Smith harus lebih ditingkatkan. 

Saya juga ingat perkataan Nabi Muhammad kepada salah seorang. “Yaa Rasulullah hendaklah engkau menentukan harga”seseorang berkata kepada Nabi Muhammad. “Sebenarnya Allah lah yang menentukan harga, yang menahan dan melapangkan rezeki. Sangat aku harapkan bahwa  kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.” Dan begitulah tanggapan nabi kita Rasulullah SAW.

Bahkan seorang nabi pun tidak berani untuk menentukan harga. Maka juga tidak salah seorang Adam Smith, mengkonsepkan invisible hand. Walaupun perbedaan keyakinan, tetapi pandangan mereka tentang ekonomi setidaknya memang sama. 

Dan sangat tidak mungkin saya acuhkan perkataan Nabi Muhammad tersebut. dan setidaknya sejak SMA saya mempunyai pandangan ekonomi bahwa sistem yang baik adalah keseimbangan diantara segala sistem diatas. Dan entah kenapa 100 % saya percaya bahwa, sistem Ekonomi syariah lah, atau sistem ekonomi islam lah, merupakan solusinya. Walaupun pengetahuan saya terhadap perekonomian syariah masih relative sedikit. 

Dan semoga saya bisa menananggapi pernyataan dosen saya tersebut dengan sistematis, matematis, masuk akal, dan tetap dengan perasaan, sesuai juga dengan pandangan ekonomi saya sendiri.