Disparitas Pendapatan

by


Terkadang saya bingung sendiri dengan permasalahan sosial yang terjadi di indonesia. Dan salah satu masalah sosial yang bisa dibilang sangat complicated adalah disparitas pendapatan. Sungguh ini sangat memalukan untuk negara yang sudah berumur setengah abad lebih. Dan hal ini nampak sekali perbedaannya.
Ketika saya ikut kegiatan kampus—pada waktu itu ada acara Echa (economy Charity Act) merupakan acara tahunan di FeUndip—ke daerah tem
anggung jawa tengah, tepatnya di dusun Jumprit. Saya cukup menghiba, walaupun tidak sampai menuturkan air mata. Di karenakan di dusun ini masih begitu banyak orang-orang atau masyarakatnya yang masih serba kekurangan, tingkat ekonomi keluarga yang begitu rendah, dan apalagi ketika kami mengadakan pasar murah. Masyarakat dusun tersebut begitu antusias untuk menyambutnya, ya sudah jelas hal ini disebabkan pendapatan mereka yang sangat kurang. Mereka sungguh antusias ketika kami mengadakan pasar murah, mungkin mereka berpikir bahwa pasar murah merupakan peristiwa yang jarang terjadi di dusun mereka, di tambah lagi kemampuan daya beli mereka yang sangat tipis untuk membeli suatu barang-barang kebutuhan ekonomi dengan harga yang sesuai di pasar yang sebenarnya.
Namun disisi lain, banyak masyarakat kita yang begitu antusias yang berdatangan ketika terdapat pameran-pameran mobil-mobil terbaru. Dan pamerean tersebut juga sebagai ­Launching untuk memperkenalkan mobil-mobil keluaran terbaru dari beberapa perusahaan. Dan yang saya amati, msayarakat kita begitu menunggu-nunggu hal ini. Mungkin yang di pikirkan juga, pameran mobil ini akan sangat jarang diadakan dan kalau mereka datang kemungkinan besar mereka akan mendapatkan mobil yang bisa jadi lebih murah dari pada harga yang sesuai di pasar.
Kalau di teliti memang tidak ada bedanya, namun pasar yang murah dengan pameran mobil mewah sepertinya memperlihatkan kita bahwa terdapat jurang yang begitu lebar untuk memisahkan antara si KAYA dan si MISKIN.
Mereka yang kaya sangat antusias sekali untuk mendapatkan sebauh mobil baru yang mewah dan tentunya dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta, mungkin juga mencapai milyaran. Dan yang miskin mereka cukup senang kalau mereka bisa makan nasi hari ini. Sungguh sangat di sayangkan mengapa jurang ini begitu terlihat jelas.
Dan banyak juga masyarakat kita yang berdesak-desakan dan bersaing dengan yang lainnya, hanya untuk mendapatkan 1 nasi bungkus. Mereka berdesak-desakan hingga menimbulkan kericuhan ketika bungkus nasi itu diberikan. Namun disisi yang lain juga, banyak masyarakat kita yang berdesak-desakan karena takut kehabisan tiket konser Justin Bieber. Konteksnya memang sama. Sama-sama berdesakan, tapi skalanya sangat jauh berbeda. Harga tiket itu bisa mencapai ratusan ribu, sedangkan harga bungkus nasi mungkin hanya Rp 10.000 jika di uangkan. Memang masalah disparitas pendapatan begitu krusial dan hal ini benar-benar nyata.
Lalu sebenarnya dimanakah akar permasalah ini ? apakah ini peninggalan-peninggalan pada zaman soeharto. Dimana pembangunan pada masa itu begitu sentralistik, dan hanya terfokus di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta. Memang pembangunan masa Soeharto memang melupakan potensi-potensi ekonomi yang ada di desa. Saya setuju bahwa masalah disparitas pendapatan merupakan akibat dari kesenjangan pembangunan. Pemerintah kita sampai saat ini hanya terfokus oleh kota besar, merepa hanya membangun infrastruktur di kota-kota besar, tapi seakan-akan tidak peduli bahwa ada suatu tempat yang seharusnya lebih membutuhkan pembangunan infrastruktur.
Menurut saya, disparitas pembangunanlah akar masalah yang menyebabkan terjadinya masalah baru, yakni disparitas pendapatan. Sampai saat ini pemerintah kita begitu sentralistik di dalam pembangunannya. Jadinya mereka yang kaya adalah mereka yang hidup dengan bantuan infrastruktur pemerintah. dan sudah kita ketahui, infrastruktur pemerintah merupakan faktor penentu untuk para investor yang ingin berinvestasi. Seorang investor tidak akan berinvestasi di tempat yang tidak strategis.
Karena pemerintah hanya melaksanakan pembangunan yang sentralistik atau di tempat-tempat tertentu, maka para investor hanya berinvestasi di tempat tertentu juga dimana sudah lengkap juga fasilitas-fasilitas untuk kebutuhan investasinya. Dan kita juga tahu bahwa Investasi juga merupakan faktor penggerak roda perekonomian. Oleh karena itu, pembangunan yang sentralistik hanya memutarkan perekonomian yang di daerah sentralistik juga tidak akan mungkin di tempat lain. Dan dengan roda perekonomian yang terus berputar, maka akan memunculkan pertumbuhan pendapatan-pendapatan seseorang.
Namun bagaimana mereka yang tidak merasakan pembangunan yang sentralistik, yang tidak merasakan infrastruktur pemerintah, dan tidak merasakan pendidikan yang baik ?
Mereka hanya memikirkan untuk kepentingan perutnya, tidak ada pikiran-pikiran lain. Asalkan bisa makan hari ini, hal ini sudah sangat cukup untuk mereka. Hari esok adalah misteri untuknya, berbeda dengan orang kota, yang masih bisa memprediksi hari esoknya.
Memang tidak semua dari mereka hanya memikirkan perutnya, banyak pemuda-pemuda di desa ingin berubah nasib. Setidaknya mereka bisa merubah keluarganya sendiri. Dan mereka berpikir salah satu cara untuk merubah keluarganya mereka harus mendapatkan kerja sehingga mendapatkan upah untuk bisa menghidupi keluarganya. Namun karena keterbatasan pendidikan yang mereka dapatkan di desa atau dusun, mereka tidak mampu untuk mengolah segala potensi ekonomi yang ada di lingkungannya, mereka tidak mengerti bagiamana cara mengolah potensi ekonomi ayng ada di desanya. akhirnya mereka tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan jika terus berada di desanya, mereka tidak akan bisa menghidupi keluarganya jika terus menerus tinggal disana.
Akhirnya faktor psikologi itulah sebagai faktor pendorong mereka untuk ke kota-kota besar di Indonesia. Khususnya banyak dari mereka yang merantau ke jakarta tanpa modal pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dengan tujuan mencari pekerjaan. Di samping itu juga ter-setting di pikiran mereka bahwa di kota pasti banyak pekerjaan yang tersedia. Tidak heran banyak pemuda-pemuda desa yang berani mengadu nasib ke kota besar tanpa bekal sedikitpun. Memang di kota-kota besar tersedia cukup lapangan pekerjaan namun hal ini ditujukan bagi orang yang sudah mempunyai keterampilan sebelumnya, mereka yang mempunyai skill. Bukan mereka yang tidak memiliki apa-apa. akhirnya mereka yang tidak mempunyai bekal ketrampilan hanya memperburuk kondisi kota tersebut. Pengangguran semakin bertambah sehingga kondisi perekonomian juga semakin memburuk.
Dan nyatanya kondisi pengangguran tersebut merupakan masalah baru yang diakibatkan disparitas pembangunan tersebut dan hal ini sudah menjadi masalah yang sangat rumit untuk di selesaikan.
Seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah tidak lagi melakukan pembangunan yang sentralistik, pemerintah harus adil didalam pembangunan, sehinggal tidak ada kesenjangan yang terjadi di daerah satu dengan daerah yang lain. Pemerintah indonesia tidak bisa hanya membangun kota-kota besar saja, tapi juga harus mulai membangun daerah-daerah yang sekarang sudah tertinggal. Sudah saatnya pembangunan daerah tertinggal menjadi agenda pemerintah didalam kebijakannya. Pemerintah juga harus melihat berbagai potensi-potensi ekonomi yang dimiliki di tiap-tiap daerah, karena dengan memanfaatkan berbagai potensi ekonomi di tiap-tiap daerah maka roda perekonomian akan bergerak, namun kita juga harus bisa menjaga kelestarian dari berbagai potensi ekonomi yang ada di suatu daerah. Karena potensi itu ada untuk dirawat serta di lestarikan tidak hanya untuk di eksploitasi secara terus menerus.
Dan seorang yang cocok untuk bisa mengolah potensi ekonomi itu adalah para pemuda-pemuda desa. Pemuda yang tentunya mempunyai keterampilan dan pemahaman yang luas. Hal inilah di desa-desa juga membutuhkan pendidikan yang layak untuk di tempati. Tidak lagi ada genteng-genteng yang bocor tidak ada lagi  tembok-tembok yang rusak dan retak. Disinilah letaknya pentingnya sebuah pendidikan. Tingkat pendidikan yang baik ditujukan untuk memperbaiki kondisi sosial yang berada di daerahnya. Disinilah pemerintah harus rela mengalokasikan sebagian APBN-nya untuk pembangunan sekolah-sekolah dan perpustakaan. Karena pendidikan juga sebagai tempat untuk menumbuhkan jiwa-jiwa kritis para anak muda. Anak-anak muda inilah yang nantinya ditujukan untuk tidak lagi merubah nasib keluarganya tapi juga merubah nasib desanya.