Mekantilisme dan Potensi Ekonomi Indonesia

by

Jika kita menelisik lebih jelas tentang potensi-potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia, tentu kita begitu takjub bahwa begitu bahagianya letak negara kita yang di support penuh oleh hasil alam-alam yang tak terhingga, sungguh anugerah yang sangat besar dari sang pencipta. Bahkan seorang pemikir hebat indonesia pada masa penjajahan, Tan Malaka pernah mengatakan “Di dunia ini tak ada letaknya negara yang lebih berbahagia dari letaknya Indonesia. Buat siasat perang tak ada tempat yang lebih teguh. Barang siapa yang mendudukinya, walaupun hal lain bersamaan, dia mesti menang perang.” Tentu hal ini menjadi suatu dorongan yang kuat bagi bangsa yang kecil seperti Belanda memiliki ambisi yang kuat untuk menaklukan negara kita, Bahkan taklukan itu terjadi selama 350 tahun. Penaklukan tersebut bukanlah waktu yang singkat, tapi sangat panjang. Dan karena taklukan tersebut pula berdampak sangat buruk dalam mental bangsa kita saat ini. Bahkan lebih buruknya Belanda menyebut kita dengan suatu istilah INLANDER. Absolutely, you know that word! Bahkan setelah Indonesia merdeka Belanda pun masih tetap kekeh untuk kembali menaklukan Indonesia, hal ini dicatat dalam sejarah dengan terjadinya peristiwa Agresi Militer Belanda selama 2 kali. Dan Belanda pun tetap ingin menguasai Irian barat setelah Indonesia benar-benar sudah merdeka.
Tidak heran juga negara kita menjadi perebutan bangsa Inggris dan Belanda, jelas pada tanah Jawa di masa pendudukan Raffles. Kedua pihak—Belanda dan Inggris—terus berseteru untuk mendapatkan kembali tanah jajahan mereka di Indonesia. Tapi mungkin garis sejarah lebih menunjuk belanda untuk menduduki indonesia bukan Inggris, sehingga Inggris pun harus hengkang dan kemudian mereka menduduki tanah Malaya—sekarang Malaysia. Bahkan sebelumnya juga sempat ada perseteruan antara negara Portugis dan Spanyol di Maluku. Dan perseteruan dari tiap-tiap negara tersebut disebabkan rasa ingin menguasai negara Indonesia karena memiliki sumber daya yang sangat banyak dan begitu melimpah. Inilah suatu dorongan yang kuat mengapa Inggris dan Belanda berseteru untuk memperebutkan Indonesia. Dan berikut ini merupakan kutipan sederhana tentang bagaimana melimpahnya sumber daya alam di negara kita ini.
“Minyak di Sumatera, Kalimantan, Irian sudah begitu terseohor di seluruh dunia, tak perlu dibicarakan lebih panjang lagi. Bauksit danaluminium keduanya buat melebur baja  yang kuat keras sudah dikerjakan di riau dan akan dikerjakan Asahan. Benda perang yang lain-lain, seperti : timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang maha dahsyat itu minyak kelapalan yang dipakai) didapati di Indonesia lebih dari di seluruh bagian dunia lain digabung jadi satu.”
“Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa kalau satu negara seperti Amerika mau mengusai samudera dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. Si Amerika tadi tiada meramalkan mungkin kelak rakyat Indonesia sendiri menguasai negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara lain, seperti itulah dari 300 tahun belakangan ini.” (Madilog Tan Malaka)
Sungguh merupakan anugerah yang tak terhingga yang diberikan Sang Pencipta kepada negara kita. Namun sayangnya kekayaan ini bukan bangsa indonesia yang menikmati tapi bangsa lain yang kecil yang jauh dari wilayah geografis Indonesia yang bisa menikmati. Dan selama 350 tahun bangsa tersebut mengekspoitasi secara besar-besaran potensi ekonomi negara kita, sumber daya kita dan lebih biadabnya eksploitasi tersebut hanya untuk kepentingan bangsa tersebut dengan melupakan tanggung jawab mereka atas apa yang mereka lakukan. Sungguh sangat keterlaluan.

Namun tidak ada gunanya kita menyalahkan masa lalu. Tapi yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita memanfaatkan potensi ekonomi kita tersebut dengan semaksimal mungkin namun tetap bertanggung jawab. Karena alam diberikan kepada kita sebagai titipan bukan sebagai kepemilikan.
Pada masa itu belanda merupakan salah satu negara yang tingkat perekonomiannya terbaik di dunia. Hal itu disebabkan karena mereka berhasil menaklukkan negara kita dan mereka bebas sesuka hati mereka untuk memanfaatkan potensi ekonomi kita untuk diolah kemudian dijual kembali kepada negara-negara eropa yang lainnya. Tapi tidak hanya Belanda yang melakukan penaklukan ke negara lain, tapi negara Eropa lainnya juga ikut menaklukan negara lain. Seperti Inggris menaklukan India, Malaysia dan Singapura. Perancis menaklukan Aljazair dan Libya, serta negara Eropa lainnya. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan negara-negara Eropa tersebut didorong oleh tersedianya dengan melimpah sumber daya dan potensi ekonomi dari bangsa-bangsa ditaklukan. Potensi ekonomi tersebut yang nantinya dijadikan negara-negara Eropa untuk memperbaiki kondisi perekonomian negara mereka.
Tapi tindakan negara-negara Eropa tidak sampai pada disitu. Eropa menjadi sangat terdorong untuk mengeksploitasi sumber daya dan potensi ekonomi negara yang ditaklukannya tanpa ada rasa tanggung jawab dan hanya memikirkan untuk kepentingan negaranya sendiri yang nantinya sumber daya yang telah di eksploitasi tersebut mereka ekspor ke negara Eropa lain yang membutuhkan serta negara-negara Eropa pun mendapatkan sejumlah keuntungan yang tinggi. Hal ini juga dicatat dalam sejarah dunia yaitu dengan istilah 3G (Gold, Glory, Gospel).  Tiga hal tersebutlah yang sangat mendorong bangsa Eropa untuk menaklukkan bangsa jajahan, khususnya mereka menjajah negara-negara di kawasan Asia, dan Gold merupakan tujuan utama bangsa Eropa untuk melakukan serangkaian penaklukannya.
Karena hal inilah di barat berkembang suatu kebijkan ekonomi politik baru, yakni ekonomi politik merkantilisme. Kebijakan merkantilisme ini yang digunakan pemerintah-pemerintah jajahan untuk memperbaiki kondisi perekonomian negara penjajah. Dan kebijakan yang hanya berpihak kepada negara penjajah tersebut yang akhirnya muncul suatu penindasan terhadap negara yang dijajah.
Secara singkat merkantilisme dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk meningkatkan ekspor dan membatasi jumlah impor, sehingga tercipta surplus perdagangan yang penting bagi penciptaan kekayaan & kekuasaan. Dan merkantilisme sendiri hanya berpihak atau berobjek pada negara dan bangsa dan hanya bertujuan untuk memaksimalkan kepentingan nasional dan tidak untuk kesejahtaraan global.
Definisi merkantilisme yang diatas merupakan gambaran yang bisa kita ambil dari perekonomian abad 15,16, atau 17. Objek negara dan bangsa tersebut adalah bangsa-bangsa penjajah. Hanya pihak merekalah yang diuntungkan dalam kebijakan tersebut dan mereka seakan-akan tidak peduli atau mungkin mereka memang tidak peduli dengan kesejahteraan global yang dimana dalam konteks ini adalah negara yang dijajah. Mungkin karena itulah adanya kata Penjajahan. Bukan suatu penjajahan namanya kalau tidak ada suatu penindasan.
Kita bisa ambil contoh dari negara kita sendiri dan negara yang telah menjajah kita selama 350 tahun. Setelah Belanda berhasil menggulingkan para Raja-raja yang ada tengah berkuasa di Indonesia, Belanda mulai menancapkan kekuasaan kepada negara kita. Diutusnya Gubernur-gubernur yang dari Ratu belanda sendiri untuk memerintah negara kita. Gubernur-gubernur tersebut yang menjadi tokoh sentral dalam melakukan kebijakan ekonomi politik merkantilismenya. Karena keberhasilan Belanda juga dalam menguasai negara Indonesia otomatis, mereka juga menguasai potensi ekonomi dan sumber daya yang melimpah di Indonesia. Potensi-potensi ekonomi tersebut yang dipergunakan belanda untuk tujuan ekspor ke negara-negara lain yang membutuhkan, dan dengan hasil ekspor tersebut belanda mendapatkan keuntungan nasional yang sangat tinggi. Keuntungan nasional yang dapat mengusir pendudukan Perancis di tanah belanda sendiri. Kemudian Belanda secara sengaja untuk terus mengeksploitasi potensi ekonomi kita untuk kepentingan mereka sendiri sehingga menjadikan belanda kekuatan ekonomi yang besar pada masa itu. Hal itu sudah jelas disebabkan karena mempergunakan dengan sebebas-bebasnya potensi ekonomi Indonesia dan Belanda mempergunakan penduduk Indonesia sebagai tenaga kerja tanpa upah atau sering disebutkan dalam sejarah adalah sistem kerja rodi, sehingga tidak heran Belanda menjadi salah satu kategori negara yang perekonomiannya terbaik dan mempunyai peran yang sangat besar dalam pergulatan ekonomi dunia pada masa itu. Begitulah gambaran kebijakan Merkantilisme yang digunakan para gubernur Belanda dan nyatanya kebijakan tersebut sangat menguntungkan pihak mereka namun sangat merugikan pihak negara yang dijajah, yakni Indonesia.
Namun bagaimana Indonesia memanfaatkan potensi ekonomi tersebut dalam konteks merkantilisme dan dalam perekonomian yang modern ini ? karena kita ketahui dengan melihat faktor-faktor sumber daya negara kita sangat mendukung untuk melakukan kebijakan tersebut. Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita mempergunakan kebijakan tersebut tidak lagi untuk kepentingan sepihak namun untuk kepentingan global, tidak lagi hanya memfokuskan keuntungan negara tapi memfokuskan kepada kesejahteraan nasional.
Hal itu mungkin menjadi pertanyaan besar untuk ekonom-ekonom saat ini yang dimana mereka sendiri sedang memperdebatkan antara ekonomi pasar bebas dengan pro kontra intervensi pemerintah. Tapi, seorang ekonom juga harus melihat tentang potensi-potensi  ekonomi atau sumber daya yang dimiliki indonesia yang dimana hal itu dapat membangkitkan serta memperbaiki perekonomian Indonesia dari keterpurukan.
Kebijakan merkantilisme mungkin sangat cocok untuk kita gunakan lagi namun yang kita tidak gunakan bukanlah teori merkantilis yang terdahulu, yang hanya bertujuan untuk kepentingan dan keuntungan nasional tanpa melihat kesejahteraan global yang terjadi di Indonesia. Sebab kita tahu jumlah kemiskinan dan pengangguran kita masih sangat tinggi. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk mempraktikkan kembali kebijakan merkantilis ini namun semata-mata demi kesejahteraan global dan perbaikan ekonomi Indonesia bukan untuk keuntungan sepihak. Sudah saatnya kita bisa dan harus memanfaatkan sumber daya kita atau potensi ekonomi kita semaksimal mungkin namun tetap bertanggung jawab. Tidak mungkin juga kita mengeksploitasi sumber daya kita yang terhampar. Karena hal itu sama saja kita mempraktikkan merkantilisme yang sama dengan masa pendudukan Belanda. Harus diingat bahwa sumber daya yang ada sekarang hanya suatu titipan untuk masa yang akan datang bukan sutu kepemilikan yang absolut.
Setidaknya hal ini sudah menjadi tugas para ekonom dan saintis-saintis Indonesia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki Indonesia. Salah satu potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia adalah tanah pertanian. Kita tahu dan semua orang juga pasti tahu kalau tanah Indonesia memiliki kesuburan yang sangat baik dan didukung dengan terhamparnya tanah pertanian kita. Hal ini merupakan suatu modal bagi para saintis-saintis kita dibidang pertanian dan peternakan dalam mengembangkan komoditas-komoditas hasil pertanian kita.
Beras atau padi. Hampir tiap-tiap elemen masyarakat Indonesia mengenal komoditi ini. Beras merupakan makanan pokok bangsa Indonesia. Tapi sayangnya komoditi ini nyatanya belum dapat diproduksi dengan kualitas baik oleh para petani kita, tapi sekalinya ada beras yang berkualitas baik pasti dijual dengan harga yang relatif mahal, beas ini yang tidak akan terjangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah. Beras juga merupakan salah satu komoditi yang sangat berpengaruh terhadap inflasi negara kita. Sudah jelas diketahui bahwa beras tersebut merupakan komoditi yang sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonmian kita. Jika kita melihat tanah pertanian kita yang luas dan sangat subur, seharusnya kita sudah memiliki hasil pertanian yang berkualitas baik, khusunya beras. Disinilah yang menjadi pertanyaan bagaimana kita dapat mengolah tanah pertanian kita untuk dijadikan suatu hasil pertanian yang berkualitas baik, khususnya komoditi beras. Sebab kita tahu beras merupakan komoditi yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat kita.
Sudah jelas hal ini menjadi pekerjaan rumah kepada para saintis kita dibidang pertanian untuk mengembangkan komoditi ini demi kepentingan dan kesejahteraan nasional, dan hal ini sangat berkaitan dengan teori keunggulan absolut dan komparatif suatu negara. Kalau kita telisik lagi tentang terhampar luasnya tanah pertanian kita, khususnya padi, tentunya komoditi pertanian kita sudah menjadi andalan komoditi untuk siap ekspor. Tapi realita berkata lain, kita belum mampu memanfaatkan secara penuh potensi ekonomi kita ini, kita malah mengimpor komoditi pertanian kita dari negara Thailand. Seharusnya ide pokok merkantilisme pada kasus ini dapat diterapkan secara penuh untuk negara indonesia, mengekspor lebih—tentunya juga, kebutuhan nasional akan hasil-hasil pertanian sudah terpenuhi—dan membatasi impor, karena dapat kita ketahui, kita mempunyai modal dan memiliki keunggulan dalam potensi ekonomi pertanian kita dibandingkan negara-negara lain.  
Namun kendala-kendala yang terus menghambat kita adalah kurangnya keterampilan dari SDM kita untuk mengolah potensi ekonomi. Sudah jelas peran dari pendidikan menjadi sangat sentral dalam meningkatkan perekonomian kita ini.
Karena sangat berhubungannya antara pengembangan kualitas hasil pertanian kita dengan teori keunggulan komparatif dan keunggulan absolut suatu negara, tentunya komoditi beras tersebut harus mempunyai tittle terlebih dahulu sebagai keunggulan absolut perekonomian bangsa indonesia sebelum kita mengekspor komoditi tersebut ke negara lain atau mulai menganut kebijakan merkantilisme.
Praktik merkantilis ini juga bisa kita lakukan untuk komoditi lain selain beras, namun tentunya kita juga harus memperbaiki berbagai kualitas-kualitas yang dari hasil produksi kita. kita harus bisa mengembangkan kualitas produk kita dan mengekspor hasil komoditi tersebut dengan kualitas yang sudah baik.
Namun kita harus ingat, merkantilis yang kita gunakan tidak seperti merkantilis pada abad 16 atau 17-an. kita tidak menggunakan kebijakan merkantilis hanya untuk keuntungan nasional, tapi lebih untuk mensejahterakan warga negara kita. Prioritas komoditas hasil produksi kita tidak segalanya untuk di ekspor. Karena jika hal ini dilakukan maka sama saja kita kembali ke merkantilis pada masa terdahulu. Komoditas yang kita hasilkan, khususnya sektor pertanian, harus lebih di prioritaskan kepada warga negara sendiri sebelum di ekspor. Dan hal inilah yang akan membedakan merkantilis kita dengan merkantilis pada masa terdahulu.
Tapi sudah dijelaskan sebelumnya, untuk meningkatkan kualitas komoditas hasil tani kita harus membutuhkan tenaga SDM yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu peran pendidikan kembali di perhitungkan untuk melahirkan SDM-SDM yang kreatif dan inovatif yang nantinya akan sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas dari hasil produksi tani kita. Mungkin dewasa ini sudah memiliki banyak sarjana dan saintis-saintis di bidang pertanian dan lainnya, namun sepertinya pemerintah kurang memberikan tempat untuk para sarjana-sarjana kita, dan mereka hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri padahal ilmu yang mereka dapati bisa diamalkan untuk orang lain bahkan untuk negara tentunya.
Namun walaupun kita memakai kebijakan merkantilis, kita harus mengerti bahwa tidak ada suatu orang yang tidak membutuhkan orang lain sama halnya dengan negara. sekaya apapun negara tersebut pasti mereka akan tetap membutuhkan negara lain, baik itu China, Amerika atau Eropa, Terlebih lagi untuk negara Indonesia. Mungkin kita akan tetap mengimpor suatu komoditas yang komoditas tersebut belum bisa produksi dengan efektif oleh indonesia, seperti roti, keperluan alutsista atau mungkin kita mengimpor SDM-SDM dari luar negeri, tapi kita harus ingat, yang seperti ini tidak bisa dilakukan secara terus menerus, kita juga harus belajar dari SDM-SDM luar yang lebih pintar dari kita, dan tentunya kita harus tetap mencoba memperbaiki dari hasil produksi yang masih belum efektif jika diproduksi di Indonesia. Transfer skill harus tetap ada disetiap kita mengimpor SDM-SDM dari luar negeri. Sehingga hal itu akan meningkatkan kekreatifitas dan keinovatifitas dari SDM kita. Dan peningkatan SDM kita merupakan salah satu tolak ukur suatu kemajuan negara.
Setidaknya begitulah gambaran besar kebijakan merkantilis model baru untuk era global ini. Sudah saatnya kita menggunakan potensi ekonomi dan sumber daya alam kita secara optimal dan efisien dan tidak untuk mengeksploitasinya.