Kesetiaan hanya khayalan

by


Makin tua, kayaknya gue semakin mengerti bahwa teman yang sejati dan setia itu sama sekali nggak, dan buat gue itu Cuma khayalan. 

Kok bisa ? 

Jelas, dan gue akan menjabarkan alasan gue dengan persepektif ekonomi. Emang pengaruh dari Adam Smith bahwa tiap-tiap orang itu akan berfikir rasional dan bertindak yang sesuai dengan manfaatnya. Inilah alasan simpelnya bahwa teman yang sejati itu nggak ada. Yaa dikarenakan seseorang atau individu akan berteman dengan seseorang atau individu lainnya untuk mendapatkan manfaat. Gue yakin kita semua sudah melakukan hal yang seperti ini termasuk juga gue. Dan gue yakinin seseorang berteman untuk bisa memanfaatkan temannya. Bisa juga hal ini mikronya dari seorang penjilat.
Namun apa itu salah ? dimanakah letak kesalahannya ?


Kalau menurut gue secara rasional itu tidak salah, sebab peraturan yang melarang hal tersebut juga nggak ada kan. Sudah jelaskan hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang. Semua orang pasti akan cenderung memanfaatkannya, baik itu yang pintar, agar bisa dicontekin, baik itu yang kaya biar ada bendaharanya, baik itu yang serem biar ada bantuan misalnya pas ribut. Yaa itulah cara kita berteman selama ini. Pertemanan akan secepatnya berakhir jika yang kita temani itu sudah tidak bermanfaat buat kita lagi. Sepertinya biadab banget, itu emang seperti itu adanya.

Teman bukan lagi tempat mencurahkan hati, tapi udah sebagai tempat persekongkolan. Bukan lagi untuk saling mensupport tapi bekerja sama untuk menjatuhkan yang lain, bukan lagi untuk tempat cerita.
Definisi teman yang sekarang gue rasa sudah menyempit daripada yang dulu-dulu. Ya seperti yang gue jelasin teman adalah tempat kita untuk memaksimalkan manfaat bukan untuk mengeratkan tali silaturahmi.
Dan begitulah cara kita berteman secara rasional, dimana hal ini dianggap biasa. Tapi itu dari segi rasional bukan dari segi moral. Bagaimana dari sudut pandang moral bicara hal itu ?

Pasti sudah jelas kalau dari sudut moral hal itu benar-benar salah. Namun siapa peduli ? hanya sebagian kecil orang-orang memikirkan hal ini dari sudut moral. Sebagian besar dari kita sudah terpengaruh atas tindakan rasional kita. Kita selalu berbuat untuk mencari manfaatnya HANYA secara materi, kita justru melupakan esensinya. Esensi dari teman sendiri, seperti saling mensupport, saling memahami dan saling mengerti. Sepertinya hal tersebut sudah langka didunia ini. 

Gue jadi inget tentang kata-kata mutiara tentang pertemanan seperti “kesetian itu diuji pada saat titik terendah.” Inilah yang menurut gue cukup mewakili bagiamana kesetiaan zaman sekarang ini tidak ada, mungkin kalau ada hanya segelintir orang. Karena kebanyakan dari kita akan meninggalkan orang tersebut jika orang tersebut berada dalam titik terendah, tetapi jika orang tersebut sudah mulai diatas lagi, mulailah pemujaan kembali lagi. Pemujaan ini juga bukan semata-mata karena hormat, namun karena ada sesuatu ingin dicapai dari pemujaan tersebut, Peristiwa saling menjilat pun kembali. Yaa itulah dunia di zaman kita tinggal.