Dilema Pendidikan

by

we do not learn for school but for life
-someone

Kata-kata tersebut, akhir-akhir ini sudah menjadi dilema tersendiri buat gue. Ya dikarekan jarang ada orang berprinsip seperti itu. yang saya amati dari para mahasiswa dan pelajar-pelajar, mereka berangkat sekolah dan kuliah, hanya sebagai object penderita dari lembaga pendidikan tersebut. Ya mereka belum mempunyai pemikiran jauh kedepan tentang sekolah, atau tentang pendidikan. kebanyakan dari mereka yang tiap hari pagi-pagi datang kesekolah, hanya untuk bermain. Ya termasuk juga buat gue di waktu SMA dulu. Tapi Alhamdulillah sekarang ini gue sudah mulai berpikir, dan mulai merubah Mindset gue tentang belajar. 

Kebanyakan dari parah siswa atau mahasiswa, mereka belajar, karena suatu kewajiban, bukan suatu kebutuhan dan kesenangan. Berbeda dengan gue yang sekarang jalanin. Walapun gue terkadang tidak masuk kuliah, tapi gue mencoba, gue merantau, karena suatu kebutuhan gue, dan yang terpenting gue suka dengan ilmu yang gue dalamin sekarang ini. Gue sangat bersyukur sebelumnya gue bisa kuliah jurusan IESP di Undip. Dan karena kuliah ini gue merasa bagaimana rasanya gue cinta dengan ilmu pengetahuan. Hal itu bisa dibuktikan kok. Cinta itu butuh pengorbanan, dan karena gue cinta Ekonomi, gue relain merantau ke semarang, meninggalin keluarga gue yang di Jakarta, gue juga rela berpuasa untuk Nge-Band. 
Tapi yang nggak gue habis pikir, mengapa ketika gue berkorban sesuatu dengan ilmu pengetahuan, tapi masih ada sekelomok orang yang kurang menghargainya. Terutama di kelas kuliah gue sendiri. Banyak dari mereka yang sepertinya kuliah hanya sebagai tuntutan dari orang tua saja, atau motif lainnya hanya untuk mencari kertas yang berharga yang nantinya akan sangat berguna untuk pelamaran kerja. Yakni Ijazah. Padahal ada seseuatu yang bisa diraih daripada hanya menggapai kertas tersebut. Dan yang menjadi dilema adalah mengapa mereka yang mampu kuliah yang kurang peduli terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan yang sedang mereka dalami. Tetapi mereka yang kurang mampu, mereka tidak dapat mendalami ilmu yang mereka inginkan karena keterbatasan anggaran. Padahal bakat, minta serta kecerdasan mereka sangat cocok untuk mendalami ilmu pengetahuan tetapi mereka ternyata terbuang dari seleksi karena keterbatasan anggaran. 
Saya mengamati dan berpikir, mengapa peristiwa ini begitu banyak terjadi di negara kita ? padahal mereka mampu, baik secara materi atau nonmateri. Dan menurut saya hal yang seperti inilah disebut sebagai mahasiswa Irasional. Kembali gue melihat dari sudut pandang Ekonomi. Kita sudah membayar SPP untuk 1 semester kedepan, uang itu mencapai jutaan. Dan tiap hari mereka bangun pagi kembali kuliah pagi dan bahkan ada yang sampai kuliah sore, dan mereka kembali pulang dengan kondisi otak yang masih bersih. Mereka tidak mengerti tujuan mereka sendiri, untuk apa tujuan mereka kuliah. Inilah bentuk dari Mahasiswa yang rugi. 
Mereka sudah bayar SPP, sudah berangkat kuliah pagi, tetapi mereka tidak mendapatkan manfaat yang sesuai. Kalau menurut gue sendiri, dari uang jutaan tersebut buat bayar SPP, lebih baik buat investasi, atau mulai membuat Usaha, dibandingkan dengan membayar kuliah, tetapi tidak mendapatkan manfaat yang sesuai. Jika mereka benar-benar mengikuti pelajaran yang ada di perkuliahan seharusnya mereka megneri suatu kata "Opportunity Cost". dari sinilah seseorang bisa dilihat bagaiman kerasionalitas mereka didalam bertindak. Walaupun sesekali kita pasti akan melakukan tindakan yang Irasional.

Padahal jika mereka yang kaya, yang mampu untuk kuliah secara materi dan nonmateri, pasti mereka akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan Bangsa Indonesia. Coba kita berpikir secara logika. Bagaimana jika semua Mahasiswa yang mampu tadi sangat memikirkan arti pentingnya sebuah ilmu pengetahuan, pasti mereka akan semangat sekali kuliah, dan transformasi ilmu pengetahuan dari dosen atau hal sekitarnya, dapat ditalari lebih cepat dan cermat, ditambah dengan pemikiran yang cerdas. Dan transformasi ilmu yang cepat itu dapat mempercepat kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kita. Dan mahasiswa-mahasiswa yang cerdas tadi yang sudah memikirkan pentingnya suatu ilmu pengetahuan, pastinya mereka akan sangat dibutuhkan kepada para perusahaan-perusahaan. Contoh sederhananya adalah Perusahan Sido Muncul sangat membutuhkan tenaga-tenaga atau ahli dibidang teknologi atau gizi. Pastinya mereka akan langsung mencari ahli-ahli orang Indonesia. Karena jika mereka mendatangkan ahli dari luar, bukannya tidak mungkin, tapi hal itu sangat membuang-membuang biaya. Tapi nyatanya hal inilah yang terjadi kepada perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia. 
Kebanyakan dari mereka mendatangkan ahli dari luar negeri, hal inilah yang membuat Mahasiswa Indonesia sekarang, sering kali ketika lulus hanya menjadi budak di negara sendiri. Seandainya kalau semua Mahasiswa kita peduli terhadap ilmu pengetahuan, dan mereka mulai belajar, tetapi bukan untuk sekolah, tapi untuk hidup, pastinya mereka akan mendapatkan hidup yang lebih baik, dan Indonesia akan lebih baik. Indonesia akan mengurangi ketergantungannya terhadap-terhadap ahli-ahli dari luar negeri. Dan Negara kita bisa berjalan kearah yang lebih baik. Semua bukan berawal dari pemerintah. Tapi semua berawal dari kitanya sendiri. Sangat percuma pemerintah memberikan fasilitas sekolah yang modern, yang bagus dan lengkap, tapi dari kitanya sendiri tidak menghargai pemberian tersebut. Fasilitas yang baik tersebut, bukan hanya dirawat, tapi untuk digunakan seoptimal mungkin untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa, dan mahasiswa. Sesungguhnya perubahan yang besar itu berawal dari sesuatu yang kecil. Dan keagungan itu berawal dari kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.