DIskusi Ekonomi dan Harta Karun Soekarno

by

Awalnya kami sedang melepas lelah dari kesibukan organisasi kami, yakni HMJ, yang pada saat itu sedang adalah hari-hari mendekati acara kami, Talkshow Nasional. Di saat seperti itu, ada seorang junior kami menanyakan atau tepatnya memancing diskusi yang disana gue dengan kedua teman gue sedang istitrahat. Lupa pertanyaan awalnya apa, cuma yang jelas kami berempat berdiskusi tentang kondisi Negara Indonesia saat ini khususnya karena background studi kami adalah Ekonomi Pembangunan otomatis dengan belaga sok banyak tahu kami berdiskusi tentang perekonomian Indonesia juga. Faktanya memang, entah gue dengan yang lain sering berdiskusi, tentang berbagai hal, walau lebih ke sok tahu namun terkadang hal ini menjadi pekerjaan yang asyik.
Tapi ada yang lain dari Diskusi pada tersebut. Pada waktu itu gue tidak terlalu mengikuti alur diskusi tersebut, dikarenakan pas lagi lelah juga, terus didekat gue ada gitar akustik lagi nganggur, otomatis gue memainkan gitar itu, sambil menikmati angin sore untuk mengeringkan keringat. Jadinya gue tidak terlalu mengikuti diskusinya seperti apa, tepatnya lebih cenderung masa bodoh. Ditambah lagi kedua teman gue yang ikut berdiskusi itu, bisa dibilang cetek dan banyak omong, masa bodoh guesemakin menjadi terhadap diskusi itu.

Jadi inti dari diskusi tersebut adalah mereka tidak puas dengan perekonomian Indonesia saat ini yang mereka sendiri menyimpulkan bahwa perekonomian Indonesia terjadi Stuck. Kata mereka “gitu-gitu aja, tidak ada yang berubah tentang perekonomian Indonesia.” terus mereka juga menyimpulkan bahwa dalam pemerintahan SBY, tidak ada hasil yang memuaskan dari pembangunan ekonomi Indonesia, tidak ada yang baru, dan kembali mereka mengkritik pemerintahan Indonesia karena lebih mengutamakan hasil GDP daripada hasil Sektor Riil.
Sejujurnya gue setuju juga dengan inti diskusi itu, karena hasil diskusi itu sependapat dengan apa yang gue pikirkan sampai sekarang. Tapi satu yang paling-paling aneh menurut gue adalah pendapat teman gue yang mengatakan bahwa perekonomian Indonesia akan lebih baik jika Harta karun milik Soekarno kembali terkuak.
Statement itu yang membuat gue kembali mendengarkan diskusi tersebut dengan saksama. Teman gue yang lain juga berpendapat kalau harta Soekarno tersebut di simpan di Bank of Swiss. Dalam hati, gue mencela dia, “Sok Tahu banget lo.” Terus dia melanjutkan “kalau semua harta Soekarno yang disimpan di Bank of Swiss itu diambil, maka Bank of Swiss juga akan terkena dampaknya, alias kolaps atau bangkrut dalam bahasa gampangnya.” Makin terlihat kan Begonya.
Kalau dipikir-pikir hubungannya apa harta Soekarno diambil, terus Bank of Swiss akan Kolaps. Sebanyak apa sih hartanya Soekarno itu, jika dibandingkan dengan nasabah-nasabah Bank of Swiss yang ada dunia. Itukan sama saja jumlah harta Soekarno yang disimpan dari kapan tahu di Bank of Swiss itu setara dengan seluruh aset-aset yang dimiliki oleh Bank of Swiss sampai saat ini, kalau pernyataan dia seperti itu. berdasarkan penyataan tersebut sudah jelas kan tuh orang cuma omong doang, tidak disertai dengan bukti-bukti yang jelas dan data-data yang valid, okelah ini Cuma diskusi kecil-kecilan, Cuma diskusi ini kan sudah diskusi mulai masuk ke ranah ilmiah sangat tidak etis banget kalau dia bisa bicara begitu. Gue juga tahu persis temen gue bisa membuat pernyataan seperti itu palingan cuma tahu dari orang alias cuma diceritakan oleh orang lain tidak baca referensi-referensi lain, ya gue tahu karena gue juga sering diceritakan oleh orang lain tentang kekayaan Harta Soekarno tersebut. Gue sarankan daripada Anda berpernyataan seperti itu, lebih baik Anda balik rumah cuci kaki cuci tangan terus tidur daripada sok-sokan ikut diskusi ranah ilmiah, ya kalau sempat sih lebih baik Anda baca referensi lain, biar nantinya misalnya Ikut diskusi lagi lebih mengerti. Terus yang Ironi lagi adalah dia itu mahasiswa Ekonomi Pembangunan ranah masa depannya itu bagian kebijakan, khususnya Makroekonomi, masa iya dia bisa berpendapat seperti itu.
Logikanya, bidang gue dan temen gue kan Ekonomi Pembangunan, ketika ada suatu permasalahan tentang perekonomian, khususnya tentang Welfare Economics yang kebetulan pembahasan ini begitu kental di kampus gue, akan terlihat sangat bodoh jika kita berharap perekonomian Indonesia akan lebih baik jika harta karun milik Soekarno terkuak. Ini sudah tahun 2012 bro, dan Anda juga sudah menjabat sebagai Mahasiswa selama 2 tahun. Rasional dong, masa iya kita harus menunggu harta Soekarno terkuak dulu biar kejahteraan ekonomi Indonesia membaik. Pertanyaannya bukan hanya sampai kapan kita harus menunggu ? tapi, misalnya Harta karun milik Soekarno ini hanyalah mitos, apakah kita akan tetap menunggu ?
Kalau seperti itu percuma kita berdiskusi-diskusi panjang lebar kalau hasil diskusi tersebut bukanlah suatu solusi, tapi hanya ketidakpastian dari “menunggu terkuaknya harta karun Soekarno”. Kecuali kita berdiskusi tentang mitos harta karun tersebut waktu kita masih SMP atau SMA, yang masih senang-senangnya wawasan-wawasan baru tanpa menyertai analisis sebelumnya. Tapi kalau diskusi di Ranah Ilmiah dan membuat pernyataan seperti itu, sama saja Anda memperlihatkan betapa bodohnya Anda sebagai Mahasiswa.
~ Sekedar saran, perbanyak referensi dulu sebelum Anda melakukan Diskusi apalagi debat. Jangan hanya terfokus di satu referensi saja, biar tidak ada kesalahpahaman terhadap sesuatu. Mengerti dengan siapa Anda berdiskusi, pantas atau tidaknya orang tersebut Anda ajak berdiskusi, atau mungkin sebaliknya pantaskah Anda berdiskusi dengan orang tersebut. Dan walaupun Anda sedang dalam diskusi-diskusi sederhana tapi kalau sudah ranah Ilmiah kalian harus Objektif, dan kebenaran dari suatu pernyataan anda pastinya akan dipertanggungjawabkan.