Kita Adalah Makhluk Materialistis, Karena Kita Manusia

by



Secara tidak sengaja gue menemukan ungkapan tersebut. Tapi ungkapan tersebut tidak muncul dengan tiba-tiba melainkan berdasarkan pengamatan-pengamatan yang tidak penting menurut orang lain tapi begitu penting menurut gue. Dan baru akhir-akhir ini ungkapan tersebut muncul dan hinggap di kepala gue dan sepertinya ungkapan tersebut akan terus tinggal di kepala gue. Tidak tahu sampai kapan dia akan tinggal tapi gue sangat berharap ungkapan tersebut tidak universal.
Berdasarkan pernyataan Marx aja yang berbicara tentang materi. Beliau berpendapat bahwa sejarah manusia ditentukan oleh kebutuhan ekonominya yang paling dasar yaitu kebutuhan akan materi. Dengan demikian, ia menyimpulkan seluruh tindak-tanduk manusia didorong oleh motif ekonomi, yaitu pemuasan materi. Ide atau gagasan, etika, seni, sosial, dan politik hanya ikut mewarnai. Namun, yang paling menentukan adalan motif ekonomi.
Mau setuju atau tidak setuju realitanya pernyataan tentang Karl Marx tersebut itu benar, dan cukup universal. Apalagi di era modern ini Manusia seperti berlomba-lomba untuk mengejar apa yang disebut materi tersebut. Manusia saat ini sepertinya sudah menggeserkan hakikat hidup mereka untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. Manusia pada saat ini sudah lebih menuliskan tujuan hidupnya untuk mendapatkan materi, sehingga tanpa sadar dengan sendirinya mereka diperbudak oleh tujuan mereka sendiri. Namun ada juga seseorang yang bilang bahwa Uang atau Materi itu bukan seagalanya, namun dengan cepat pernyataan itu terbalaskan. “tapi segalanya membutuhkan uang.” Cukup realistis kalau menurut gue. Untuk menjadi Agung manusia pada saat ini harus mencari materi yang banyak sehingga secara tidak langsung manusia sudah mulai menuhankan Materi. Kalau mungkin satu orang memiliki dua kepercayaan—polytheisme—pastinya Materi merupakan Tuhan yang pertama baru Tuhan dari agama-agama yang diaykininya menjabati sebagai Tuhan kedua.
Bukan bermaksud provokatif, dan bukan bermaksud menyindir keyakinan seseorang. Tapi realitanya kita sebagai manusia sudah mulai Menuhankan Materi. Saat ini hubungan antar manusia lebih didorong oleh motif ekonomi, berdasarkan benefit yang akan kita dapatkan, tidak lagi karena hubungan emosional manusia. Dapat kita analisis bahwa hakikat manusia sebagai makhluk sosial itu karena manusia adalah makhluk ekonomi. Mereka berfikir rasional, kita berfikir rasional, semua orang berfikir rasional, jadinya hubungan antar manusia yang berhakikat sebagai makhluk sosial, dimana dalam kehidupannya tidak bisa memenuhi kehidupannya sendiri didasarkan oleh dasar berfikir yang rasional dengan menganalisis manfaat apa yang dapat kita ambil dari hubungan tersebut. Realita ini begitu jelas kalau menurut gue, sudah jarang seseorang memiliki hubungan makhluk sosial didasarkan karena kebutuhan akan emosionalnya tapi saat ini Materi lah sebagai dorongan utama semua manusia untuk melakukan suatu hubungan sosial.
Kalau kita analisis kembali bahwa seseorang yang melakukuan hubungan sosial dengan orang lain didasarkan karena kebutuhan emosionalnya, juga termasuk kebutuhan materi. Jadi sesuati dengan ungkapan Marx, bahwa Manusia dalam kegiatannya didorong oleh motif ekonomi, segalanya didasarkan untuk kepentingan ekonomi, mungkin kejadian yang begitu universal ini adalah suatu syndrome yang tidak disadari oleh masyarakan dunia. Beginilah dunia tempat kita tinggal pada masa sekarang, dimana kegiatan hidupnya dengan materi sudah melekat, ibarat manusia itu tulang, maka materi merupakan darahnya. Semua begitu melekat dan menjadi pendorong utama manusia untuk melakukan aktivitasnya. Setidaknya seperti inilah amatan gue terhadap dunia saat ini, amatan yang begitu psimis namun realistis. Hubungan-hubungan sosial yang pernah kita jalin semuanya adalah kebutuhan kita akan materi. Dan saat ini gue sudah mulai megnerti bahwa materi tidak hanya uang. Tapi uang adalah salah satu dari materi. Akhirnya aktifitas-aktifitas kita adalah sebagai produk-produk materi. Seperti itulah manusia, seperti itulah kita, Makhluk yang materialistis.
Kalau semua aktifitas kita adalah karena dorongan materi, lalu yang seperti apakah aktifitas manusia yang tidak didasarkan dari dorongan materi ?
Sudah dijelaskan seperti diatas, Manusia adalah makhluk rasional, segala tindak-tanduk manusia diukur seberapa besar benefit yang didapat, inilah manusia sebagai makhluk ekonomi, sebagai makhluk bermateri, dan sebagai hamba materi. Jadi menurut gue tidak ada aktifitas manusia yang tidak didasarkan oleh materi kecuali manusia itu sendiri yang tidak begitu menuhankan materi. Kasus gampangnya adalah berperilaku tanpa pamrih, mereka rela kegiatannya tidak menerima imbalan sedikitpun.
Namun bagaimana kenyataannya ?
Gue sangat yakin orang-orang yang seperti yang sudah sangat jarang kita temui saat ini. Orang-orang seperti ini hanya mucul di komunitas kecil atau didalam hubungan sosial yang relative sederhana. Yang sederhana saja masih ada sifat materinya, apalah yang hubungan sosial antar manusia yang kompleks.
Ada satu contoh menarik yang menurut gue ini merupakan salah satu contoh aktifitas materi. Kita dalam beribadah untuk agama masing-masing memiliki alasan-alasan yang berbeda kenapa kita melakukan hal tersebut. Sebagian lain menyatakan bahwa takut dosa. Sebagian lain biar dapat pahala. Lainnya bahkan sampai berharap biar bisa masuk surga. Ada juga mereka yang berdoa atau melakukan ibadah kalau lagi butuh, seperti kalau ada ujian akhir, atau ada musibah. Sudah jelaskan aktifitas keagamaan tersebut, sebetulnya lebih didorongkan oleh materi, mau disangkal atau tidak setidaknya itulah pandangan gue terhadap dunia yang dipenuhi dorongan-dorongan materi, bahkan dorongan-dorongan materi pun sampai pada aktifitas keagamaan manusia. Cukup beralasan juga jika gue berpendapat bahwa Materi adalah Tuhan utama kita, bukan dari Tuhan agama kita.
Bukan berarti gue menulis seperti ini karena gue seorang atheist. Bahkan gue ingin sekali di setiap aktifitas-aktifitas gue khususnya agama gue lebih didorongkan dari hati nurani gue bukan naluri gue. Gue makhluk beragama yang berusaha meredam aktifitas-aktifitas kegamaan gue dari dorongan Materi. Walaupun saat ini masih. Mungkin disinilah gue harus mencari hidayah gue sendiri. Keyakinan gue akan materi sepertinya tidak akan bisa mematahkan keyakinan gue terhadap Tuhan. Gue sangat yakin Tuhan itu ada, dan salah satu hal yang membuat gue yakin adalah bahwa tidak ada didunia ini sesuatu yang kebetulan.