Anda Bukan Anda Yang Sebenarnya

by



Yea, gue kembali setelah sekian lama menghilang dan tidak mengurusi Blog kesayangan ini. satu hal yang menjadi catatan adalah ketika gue membuat postingan yang satu ini pada saat gue sedang di Jakarta. Gue sedang menikmati minggu tenang dari kampus dengan pulang ke kampung halaman. Dan setelah gue telisik dan gue ingat-ingat tentang Blog gue itu, bahwa mayoritas postingan dari blog gue itu didapat pas di Jakarta (terhitung sejak gue kuliah di Undip Semarang). Nggak tahu kenapa, padahal banyak yang gue pikirkan selama gue hidup semarang, tapi selalu saja gairah dan inspirasinya secara-secara tiba-tiba datang pas gue mulai di Jakarta. Ironi.
Benar, seperti postingan gue yang sekarang, gue sedang di Jakarta gue memikirkan—lebih tepatnya mendapatkan—inspirasi dari berbagai hal-hal yang telah gue amatin di Semarang.
Tapi sepertinya postingan yang satu ini lebih ke pertanyaan.

Langsung ke persoalan aja, ada suatu hal yang nggak gue dapatkan ketika gue di semarang. Kemarin hari minggu malam sampai senin dini hari, gue diajak sama teman gue—bisa dibilang sahabat—untuk nonton bareng pertandingan Bola antara Swansea VS MU (23 Desember 2012) di Gading. Setelah sekian lama menonton dan sedikit sharing disana akhirnya kami melanjutkan sharingnya di Sevel Cempak Putih. Ya yang namanya sharing dan saling diskusi kita membicarakan berbagai macam hal dan sampai lupa waktu, saking serunya pembicaraan kita, sampai dilihatin orang. Jelas aja, di area itu hanya kami yang pembicaraannya sampai ramai banget. Setelah sekian lama ngobrol terus, akhirnya kami pulang pada senin dinihari, lama banget kan ? pertandingan bola aja selesai palingan jam 11, dan di perjalanan palingan berapa lama sih, dan lama lagi ketika sharing itu deh.
Intinya gue senang banget ketika gue sharing dengan mereka-mereka. Nggak tahu kenapa yang gue tangkap dari pembahasannya cara berbicaranya, mereka cenderung apa adanya, ya cerita, cerita aja. Susah juga mendeskripsikannya lewat tulisan. Intinya mereka itu berbicara apa adanya lah, tapi apa adanya mereka semua itu sangat berwawasan dan cerdas, dan gue sangat yakin hal itu. Terkadang aja gue sempat mikir kalau wawasan gue kalah jauh dengan mereka semua, jadi minder sendiri gue nya.
Disinilah yang nggak gue dapat di Semarang, mungkin lebih tepatnya belum mendapatkan. E­ntah kenapa sharing yang seperti itu sangat langka gue dapatkan di semarang, bahkan kalau diingat-ingat nggak pernah. Gue juga nggak tahu kenapa gue merasa mayoritas teman-teman gue yang di Semarang itu seperti memakai topeng. Sejauh yang gue tangkap sih, bagaimanapun juga ini Cuma pengamatan gue terhadap lingkungan gue. Tapi benar, seakan-akan mereka itu memakai topeng, dimana dia melakukan interaksi terhadap kawan-kawannya, seperti Drama. Gampangannya, mereka seperti memerankan suatu karakter tertentu didalam berinteraksinya. Terkadang banyak banget orang yang terlalu Jaga Image. Terkadang banyak banget orang yang sok-sok bijak. Terkadang banyak banget orang yang sok seperti ilmuwan dalam berbicaranya. Padahal orang yang paling pintar di jurusan gue aja nggak seperti itu kok. Dia biasa aja dalam berinteraksi. Ada juga yang kritisnya terlalu berlebihan. Sumpah banyak banget karakter-karakter yang diperankan dalam satu individu. Yang jadi pertanyaan dimanakah karakter asli Mereka ? dan yang lebih parah kenapa kok rasa-rasanya mereka begitu menikmati peran palsu yang mereka ciptakan sendiri ? lagi juga untuk apa sih mereka melakukan berbagai macam hal, berbicara berbagai macam hal dengan nada tinggi dan suara lantang seakan-akan dengan kepercayaan tinggi mereka mempertontonkan semua wawasan yang mereka miliki agar bisa dipandang orang sebagai seseorang yang memiliki intelektual tinggi ? Ya itulah pertanyaan besar yang gue tangkap dari mereka semua. Padahal yang mereka bicarakan dengan lantang terlihat jelas kalau mereka sendiri masih mengawang dengan apa yang mereka bicarakan. mungkin gue sedikit sombong, tapi hal itu terlihat begitu jelas dimata gue. banyak sekali ragamnya. Yah begitulah, mungkin juga emang guenya yang berlebihan menanggapi mereka, terlalu lebay, tapi sekali lagi gue Cuma mengungkapkan apa yang gue lihat, apa yang gue rasakan dan apa yang gue pikirkan.
Nggak habis pikir memang, kenapa kok rasa-rasanya mereka lebih mudah memerankan karakter orang lain daripada menjadi diri sendiri. Memang benar ungkapan dari suatu lagu, bahwa dunia ini panggung sandiwara. Ya segala yang ada di permukaan itu hanya sandiwara, seakan-akan tidak ada yang nyata. Ada juga yang gue amatin itu seperti melakukan pencitraan-pencitraan. Batin gue berkata “Duuuuh, lo mau pencitraan kepada siapa ?” Seakan-akan mereka semua itu ingin sekali dianggap dan dipuja. Tapi coba pikirkan deh, untuk apa Anda bisa dikenal dan dipuja, atau dianggap tapi yang sebenarnya mereka sama sekali tidak memuja Anda. Sama sekali Tidak ! Tapi karakter yang Anda perankanlah yang mereka Puja. Kalau gue lebih Interest lebih baik nggak ada yang memuja daripada mereka semua memuja karakter palsu dalam diri Anda. Seakan-akan karena terlalu menikmatinya peran buatan mereka sendiri, jadinya karakter asil mereka hanyut tenggelam entah kemana, bisa saja karakter asil mereka lenyap dengan sendirinya beriringan dengan semakin mereka menikmatinya karakter palsu mereka sendiri. Kalau emang jadi diri sendiri lebih susah dan malas untuk memerankannya atau mungkin gengsi dengan karakter asli kita ? Mungkin, saran gue sih mending ambil tali aja digantungin ke atap, terus ikat di leher. Atau ambil Silet, terus iris nadi lo. Ya bagaimanapun gue lebih suka diri gie sendiri dan jadi diri gue sendiri, terserah dipuja atau nggak dipuja, yang jelas inilah diri gue, daripada inilah karakter yang gue perankan. Teringat dengan salah satu Quote yang sangat berkaitan dengan hal ini “I’d Rather Be Dead Than Cool.” (Kurt Cobain). Ya walaupun secara arti nggak ada kaitannya sama sekali tapi kalau secara harfiah apa yang gue rasakan dengan Quote tersebut sangat berkaitan.
Ya mungkin kurang lebih itu yang gue rasakan. Bisa jadi emang guenya yang salah yang terlalu berlebihan dalam berinteraksi, sampai-sampai gue memiliki pandangan yang seperti ini. tapi gue jujur dalam postingan ini, peran-peran tersebut benar-benar terasa oleh gue. Namun sangat sulit untuk merangkai kata-katanya, seperti gue mencoba menuliskan contoh kasusnya. Sebenarnya masih lebih banyak yang gue rasakan, tapi sepertinya ini juga sudah mewakili.
Oiya mungkin aja gue juga memerankan karakter yang nggak tahu itu siapa tanpa gue sadari, tapi semoga aja nggak, dan semoga aja gue selalu bisa untuk jadi diri sendiri, tidak memerankan karakter palsu. Buat teman-teman gue yang masih memerankan karakter orang, cepat sembuh aja deh.