Iri Seiri-irinya…

by


Gue itu salah satu manusia yang sering kali dilanda rasa iri. Sering banget gue merasa iri dengan yang lain. Mungkin Iri hati merupakan sifat yang gue banget kali ya. Bodo Amat.
Rasa iri gue pun macam-macam, bisa dalam berbagai bentuk. Baik itu iri yang positif atau iri yang negative. Bisa juga gue iri dengan ketidakmampuan gue, atau bisa juga dengan keinginan gue yang gagal terpenuhi tapi den Ignore warning gan mudah dapat dipenuhi dengan orang lain. Sumpah gue itu orang yang sering banget dilanda rasa iri, dan untungnya aja gue nggak sampai dengki sama orang yang gue iri, gue nggak pernah sampai jahat dengan orang yang gue iri dan InsyaAllah tidak akan berbuat yang enggak-enggak buat orang yang gue Iri.
Pernah suatu waktu gue iri dengan cerita teman gue, yang dimana cerita temen gue tersebut mendeskripsikan cerita temannya lagi. Jadi teman gue menceritakan tentang temannya gitu. Deskripsi temen gue tentang temannya itu orangnya malas banget pas SMA kelas 3, suka cabut-cabutan kalau sekolah, dan tergolong dalam salah satu siswa yang nakal lah, tapi yang bikin gue iri adalah dia bisa lolos masuk UI lewat jalur SIMAK. Sumpah pas zaman-zamannya itu gue sangat terobsesi bisa masuk UI, sangat-sangat terobsesi. Gue semenjak memiliki obsesi tersebut, sangat rajin belajar, rajin les, berdoa juga nggak lupa tapi apa gue gagal masuk UI lewat jalur SIMAK. Bukannya gue kufur nikmat sama Takdir Allah, tapi gue Cuma nggak ngerti kenapa gue yang sudah lebih inten dalam belajar, nggak lolos SIMAK UI malahan yang model begituan bisa masuk UI. Kan kesel sendiri jadinya, tapi sekarang gue udah melupakan masa-masa itu. Karena gue sudah menikmati kehidupan gue sebagai Mahasiswa Undip. Gue juga pernah iri sama teman gue karena IP Semester dia tinggi banget. Padahal kalau pemahaman gue juga nggak kalah kok dari dia, (sombong banget emang gue disini). Tapi itu beneran, ada beberapa orang, yang IP Semesternya tinggi lebih tinggi dari gue, tapi gue juga berani jamin gue juga nggak kalah pemahaman gue dari mereka, tapi rasa iri yang ini justru bikin gue bersyukur, karena beberapa mata kuliah yang masih dapat C gue anggap emang itu jalannya yang di Atas untuk memberi gue kesempatan mendalami lagi matakuliah yang C Tersebut. Yang jelas gue masih Alhamdulillah, karena IP gue masih dalam kategori baik dan gue nggak terlalu memikirkan urusan IP lebih tinggi atau lebih rendah, karena IP itu ya untung-untungan, seenggaknya juga IP gue sudah On The Right Tracks. Tapi emang ada yang objektif dari beberapa matakuliah, tapi hanya beberapa. Yang jelas gue Cuma berusaha IPK gue nantinya bisa mencapai target yang ingin gue capai. Udah gitu aja, nggak muluk-muluk gue masalah IP.
Sudah cukup gue memberikan 2 contoh rasa Iri gue pada masa-masa terdahulu, yang jelas gue mmebuat postingan ini dalam keadaan Iri. Nggak tahu kenapa gue merasa Iri yang gue rasakan ini sepertinya Iri yang paling parah selama hidup gue. Tetap gue masih Iri dengan Orang lain. Tapi gue nggak tahu pasti orang itu siapa. Yang jelas iri gue yang satu ini bukan bidang perkuliahan, bukan masalah uang atau kekayaan, bukan masalah gadget, bukan masalah wawasan (terkadang gue juga suka iri terhadap wawasan orang lain, soalnya didalam diri gue tertanam untuk selalu memiliki wawasan yang luas), bukan masalah Gitar. Tapi masalah Feel. Benar, gue iri banget sama orang tersebut karena bisa-bisanya itu orang mendapatkan apa yang sangat gue inginkan. Sungguh beruntung sekali orang itu. Seperti konteks Iri yang SIMAK UI dan masalah IP, kalau gue iri sama IP teman gue yang lebih tinggi tapi gue juga nggak merasa kalau pemahaman gue lebih sedikit. Nah kalau yang satu ini, kok bisa-bisanya orang tersebut bisa mendapatkan apa yang sangat gue inginkan, dan gue rasanya juga nggak kalah dibandingkan orang yang beruntung tersebut. (maaf, gue sombong untuk kedua kalinya di postingan ini, gue nggak bermaksud seperti itu).
Udah gue ceritakan diatas kalau seiri-irinya gue sama orang gue nggak pernah menyakiti, bahkan niatpun tidak ada. Tapi kalau iri yang satu ini, sampai muncul rasa dengki. Naudzubillah. Tapi emang jujur, walaupun gue nggak tahu persis orang itu seperti apa bagaimana dia kesehariannya, tapi gue tahu dan sangat tahu, kalau orang tersebut sangat seribu kali sangat beruntung bisa mendapatkan apa yang gue inginkan. Dan gue Cuma bisa kesel dalam hati karena dia bisa melakukan apapun dengan yang gue inginkan, intinya gue belum ikhlas menerima kenyataan. (ckckck semoga gue cepat sadar)
Gue Cuma berharap gue juga bisa beruntung seperti dia, bisa mendapatkan apa yang gue inginkan tentunya dengan cara-cara yang baik, tidak melukai seseorang, ya walaupun rasa kesel itu masih ada, rasa belum ikhlas juga masih ada.
Tapi gue mencoba bersabar aja, soalnya yang gue tau itu Man Shabbara Zhafira, siapa yang sabar akan beruntung. Gue masih percaya kalau yang di Atas itu lebih mengerti apa yang sesungguhnya yang kita butuhkan dibanding kita sendiri.
Tapi tetap harapan utama gue adalah yang di Atas bersedia memberikan apa yang gue Inginkan tersebut, tapi sepertinya yang gue inginkan itu sesuatu yang gue butuhkan. Ya semoga yang di Atas mengerti lah.
Selamat kau wahai yang beruntung…