Pendidikan, Ijazah, dan Tanggung Jawab Moral Mahasiswa Serta Proyeksinya di tahun 2020

by

Pendidikan merupakan aspek penting pembangunan bangsa. Tanpa Pendidikan tidak akan ada datangnya suatu pandangan hidup, ideology, pemikiran, dan kreatifitas, dan inovatif. Tetapi pentingya aspek pendidikan tersebut, tidak didorong dengan kesadaran manusia terhadap pendidikan, baik itu mereka yang menuntut pendidikan atau mereka yang memiliki amanah untuk mendidik masyarakat.
Disini gue berpikir kalau pendidikan bukan hanya sebagai human investment saja. Ada beban tanggung jawab bagi seseorang yang sudah mengenyam pendidikan. Tapi kesadaran umum masyarakat ini membuat pendidikan terfokus pada fungsi Human Investment. Dan khususnya sebagai mahasiswa, cari pekerjaan itu susah makanya mereka kuliah setidaknya memudahkan mereka untuk mencari kerja. Ya hal ini ada di benak masing-masing individu, gue nggak berhak untuk terlalu jauh mencampuri urusan yang satu ini. tetapi gue mencoba untuk realistis aja. Emang gue juga butuh izajah S1 gue nanti untuk memudahkan dalam mencari kerja. Butuh banget malahan. Sarjana yang menganggur banyak, nggak mungkin buat gue kalau gue bilang “gue nggak butuh Izajah S1”. Walaupun dalam motivasi kuliah gue, bukan izajah yang utama melainkan emang dasarnya gue ingin belajar, gue suka, gue ingin meningkatkan pengetahuan tapi Izajah lah yang memiliki peranan tinggi dalam kegiatan kuliah gue di Semarang. Izajah sebagai kunci disini. Tapi gue mencoba untuk tidak terlalu ketergantungan sama Izajah tersebut, karena sesuai motivasi awal gue pergi ke Semarang, yaitu gue emang ingin kuliah Ekonomi, dan emang gue ingin memperluas pemahaman gue terhadap ilmu Ekonomi.

Ya walaupun IPK standar aja, bahkan kalau gue nilai sendiri cenderung mengecewakan, dan terkadang bawaannya males banget pengen belajar. Tapi motivasi gue tetap kayak yang dulu, masih pengen belajar. Tapi sesekali ada seorang dosen yang memberikan gue motivasi tambahan untuk kuliah, mungkin juga motivasi tambahan untuk temen-temen gue.
Pada saat itu pelajaran Analisis Kependudukan, dia bilang bahwa ada suatu masa setiap Negara akan mengalami komposisi penduduk mudanya banyak, dan dia bilang di Indonesia akan terjadi pada tahun 2020, setelah itu dia melanjutkan hal tersebut terjadi hanya sekali, kalaupun terjadi 2 kali itu pun jangka waktu yang lama, Dosen gue meneruskan, pada masa itu harus di lakukan dengan efektif, jangan sampai disia-siakan. Kenapa bisa tahun 2020 ? dia menganalisis sendiri, gue kurang tahu bagaimana caranya, katanya dia sudah menganalisis tahun 2020 itu sudah dari dulu. Tapi nggak tahu kenapa gue langsung percaya dengan pembicaraan Dosen tersebut, disamping itu gue juga ingat kata-katanya Bung Karno yaitu “dibutuhkan 3 periode untuk membentuk suatu generasi baru” periode tersebut dia bilang biasanya 30 tahun. Berarti interval 30 tahun akan membentuk suatu generasi baru. Sepertinya hipotesis ini benar, kita lihat saja pergerakan Mahasiswa pada decade 60-an, disana demo besar mahasiswa yang pertama di Indonesia yang ditujukan untuk Presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno. Dengan Soe Hok Gie sebagai aktor utama demo besar tahun 66 tersebut, kalau nggak salah mahasiswa angkatan tersebut menuntut untuk memundurkan Soekarno. Terus misalnya dilanjutkan 30 tahun sesudahnya terjadi demo besar-besaran juga oleh mahasiswa pastinya orang 90-an pada mengerti demo besar ini. Diawali krisis ekonomi yang parah, nilai tukar rupiah yang tinggi, hingga klimaksnya mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR pada tahun 99, tujuan utamanya adalah menggulingkan pemerintahan Soeharto. Nah, beda-beda dikit kan, sama yang dibilang Bung Karno. Ya bisa jadi prediksi dosen gue memang benar, kalau decade 2020-2030 Indonesia memiliki generasi baru, dimana banyak anak-anak muda yang jauh lebih kritis dan cerdas daripada sekarang, dan pastinya anak muda tersebut dapat berkontribusi maksimal untuk Negara Indonesia. Gue cuma bisa bilang Amin.
Terus maksudnya masa tersebut harus dilakukan dengan efektif apaan ? Belum tau juga sih pastinya, tapi setelah dipikir-pikir, pada generasi tersebut kan banyak anak mudanya, dimana kita tahu yang namanya anak muda itu produktif, pastinya hal ini akan sangat berprospek untuk pembangunan ekonomi Indonesia yang berdaulat, teringat lagi dengan perkataan dosen gue, kalau bisa saat-saat tersebut lah, kebijakan by the people dapat terlaksana.
Sekali lagi gue Cuma bisa mengiyakan, yaiyalah, secara kan penduduk muda lagi banyak-banyaknya kan, pastinya penduduk produktif lagi banyak-banyaknya juga. Rasio angka ketergantungan pastinya mengecil, dan inilah yang hasus dipersiapkan oleh Pemerintah dari sekarang. Atau mungkin aja pemerintah sudah memikirkan hal ini duluan ?
Kita berfikir minimal aja deh, asumsikan aja semua mahasiswa hanya dimotivasi oleh ijazah dalam kuliahnya, dan pastinya ekspektasi mereka ijazah mereka bagus, dan mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus juga. Kita asumsikan juga, karena adanya perbedaan teknologi dari masa ke masa, pastinya pada masa nanti tingkat produktifitas anak muda akan jauh lebih tinggi dari masa sekarang ya walaupun masih mengharapkan Ijazah, tapi gue percaya kok mereka akan lebih produktif dari pada masa kita. Nah, inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah, mereka anak muda decade 2020-an mungkin sudah siap berperang, setidaknya melawan untuk kehidupan dunia kerja, permasalahannya mampukah pemerintah membuat lapangan pekerjaan untuk mereka yang sudah siap perang tersebut ? harus diingat peristiwa ini hanya terjadi sekali, kalau terjadi dua kali bisa saja tapi pastinya akan membutuhkan jangka waktu yang sangat lama. Sangat disayangkan jika masa-masa ini harus terjadi bentrokan lagi, demo besar-besaran lagi karena pemerintah tidak mampu membuat lapangan kerja untuk menampung angkatan kerja yang meningkat. Sudah cukuplah kalau menurut gue 2 kali demo besar-besaran, turun kejalan. Sudah cukup, dan tidak perlu lagi adanya Reformasi Jilid 2. Sekarang, tinggal gimana pemerintahnya siap atau nggak menyediakan fasilitas untuk mereka ? seminimalnya adalah lapangan pekerjaan. Hal ini merupakan pekerjaan rumah untuk Pemerintah saat ini.
Pastinya juga, praktek-praktek tak bermoral harus mulai dikurangi sejak sekarang, Contoh gampangnya deh, Korupsi. Ya hal itu pastinya akan sangat sensitive buat anak-anak muda yang kritis. Demonstrasi mahasiswa tahun 98/99 juga ada sangkutpautnya sama korupsi kan. Akan sangat disayangkan, jika pada decade 2020 nanti, korupsi di kalangan pemerintah semakin merajalela. Apa jadinya kalau hal ini memotivasi angkatan muda tahun 2020 untuk kembali turun kejalan, mengadakan demo besar-besaran ? Akhirnya terjadi kerusuhan dimana-dimana. Kan sayang banget kan. Peristiwa jarang lho ini, tapi disia-siakan oleh pemerintah. Ekstrimnya Indonesia terjadi Vacuum of Power, ya masa dijajah lagi, 350 tahun + 3,5 tahun lho kita jadi budak. Masa jadi budak lagi ? Tapi gue memandang optimis kok pada decade 2020 nanti, gue yakin Pemerintah juga sudah mulai memproyeksikan apa yang harus dilakukannya pada masa nanti. Setidaknya dengan pemerintah mempersiapkan lapangan pekerjaan yang luas nantinya perekonomian Indonesia akan jauh lebih baik. Pasti. Ya walaupun masalah kebijakan terutama bidang ekonomi tidak segampang membalikan telapak tangan. Baru kemaren jumat (5 April 2013) gue merasakan bagaimana rumitnya mereka para pengambil kebijakan dalam menentukan kebijakannya. Apalagi Ilmu Ekonomi salah satu ilmu pengetahuan yang terdiri dari berbagai-bagai mazhab, pastinya masalah kebijakan akan menjadi lebih sulit. Tapi tetap Optimis.
            Tapi itu dari sudut pemerintah, bagaimana dari sudut pandang Anak Muda ? gue ulangi lagi, tahun 2020 merupakan tahun dimana komposisi anak mudanya tinggi, setidaknya ini analisis dosen gue. kita tahu, anak muda yang banyak nantinya, mereka semua pasti lahiran 20 atau 30 tahun yang lalu, iya kan ? Jadinya mereka yang mengatasnamakan generasi 2020-an, mereka semua pastinya lahiran decade 90-an, dan periode millennium. Argumen gue sih berdasarkan data BPS aja. Otomatis, mereka yang hidup digenerasi 2020-an, pastinya kita-kita sekarang nantinya di masa depan. Ya kita semua nantinya akan menjadi saksi atas peristiwa membludaknya anak muda nanti. Implikasi dari peristiwa ini, untuk para anak muda adalah sama dengan pemerintah. Intinya sudah siapkan diri kita untuk menghadapi tantangan decade 2020-an ? kalau gue sih, ya siap nggak siap harus siap. Mau gimana lagi, yang jelas, persaingan pekerjaan akan semakin tinggi, persaingan untuk jabatan akan semakin tinggi. Untuk itulah, gue berfikir, sangat tidak etis kalau kita sebagai mahasiswa, hanya memikirkan ijazah sebagai modal hidup kita, ya walaupun ijazah kita bagus. Tapi ingat persaingan akan semakin ketat. Anak muda Indonesia akan semakin banyak. Coba aja berfikir seburuk-buruknya kalau Pemerintah ternyata tidak mampu membuat lapangan kerja yang luas nantinya, pastinya tidak ada lagi teman, dalam urusan pekerjaan. Karena kita semua bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, hal itu keharusan karena kita harus Survive. Ungkapan yang sesuai sih gini “Bunuh atau dibunuh”. Kejam sih, tapi yang namanya persaingan, mau gimana lagi kita ? pastinya semua orang ingin hidup pangjang kan ?
Untuk itulah ijazah penting, tapi kalau menurut gue esensi kita kuliah jauh lebih penting. Sudah saatnya kita-kita harus bisa memikirkan hal lain selain Ijazah, entah lewat keorganisasian yang melatih soft skill, atau lewat komunitas-komunitas, ataupun meningkatkan bakat kita yang lain. Pastinya hal ini akan membantu. Tapi tetap Esensi kita kuliah yang utama.
Dosen gue yang tadi pernah berbicara juga, kalau kami (mahasiswa IESP) memiliki tanggung jawab moral yang sangat tinggi. Kenapa ? Dosen gue bilang gini “sesungguhnya kalian mahasiswa Fakultas Ekonomi, memiliki subsidi pendidikan yang sangat tinggi, terlebih kalian mahasiswa IESP”. iya Beliau menjelaskan secara angka kalau tidak salah mahasiswa IESP seharusnya membayar SPP sebesar 40jt per semester, dan sekarang gue memiliki beban SPP sebesar 2,3 juta per semester. Artinya Subsidi sebesar 37,7 juta program kuliah kita dibiayai oleh subsidi pemerintah, dan pengeluaran untuk subsidi itu tidak lain karena adanya sumber penerimaan Negara, yakni sumber utamanya adalah Pajak. Nah, siapakah yang membayar pajak itu ? Berdasarkan pemikiran yang gue tangkap dari dosen gue, walaupun orang kaya yang memiliki beban pajak yang tinggi, tapi orang-orang menengah kebawah juga membayar pajak. Jadi intinya, kegiatan perkuliahan kita, dibiayai oleh mereka para orang tua yang sudah memiliki pendapatan sendiri, baik mereka para orang kaya dan orang tidak kaya. Inilah yang jadi dasar oleh dosen gue sebagai tanggung jawab moral Mahasiswa zaman sekarang. Dosen gue kembali mempertanyakan, “apa balas budi kalian untuk mereka yang sudah menyekolahkan kalian ? Bukan hanya orang tua kalian yang menyekolahkan kalian, tapi para orang tua-orang tua zaman sekarang, baik mereka yang kaya atau tidak kaya. Terus apa balas budi kalian nantinya untuk mereka yang sudah membuat kalian kritis dan cerdas, masihkah kalian memikirkan diri sendiri ? yang penting mendapatkan pekerjaan nantinya ?”.
Pertanyaan sulit kan ? Jujur, gue juga belum bisa menjawabnya. Setidaknya dari hal tersebut, gue berfikir, ada hal yang lebih penting dari selembar Ijazah. Ijazah penting tapi ada yang lebih penting. Ya tanggung jawab moral kita apa nantinya ? apakah kita masih memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Gue kembali mengingat teori tentang beban ketergantungan. Baiknya pada tahun 2020 nanti, mumpung rasio beban ketergantungan mengecil seharusnya hal inilah yang harus bisa dimaksimalkan oleh para Anak Muda nantinya, gue yakin kalau hal ini terealisasi pastinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik, tapi kebijakan management by the people akan terealisasi. Pemerintah bersatu padu dengan anak muda untuk meningkatkan kesejahteraan, kesejahteraan meningkat tingkat pendidikan akan meningkat, tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan dan kebersihan akan meningkat, dan berimbas angka harapan hidup meningkat. Indonesia akhirnya berhasil keluar dari jerat Lingkaran Kemiskinan. Ya sekali lagi gue berimajinasi dalam tulisan gue ini. Pastinya, kesemuanya itu tidak semudah dengan membalikkan telapan tangan. Setidaknya kita harus bisa melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan kapan pun dimana pun, dan berbuat lebih baik setiap harinya. Itu hasil diskusi isen gue sama teman kuliah gue.
Bermimpi untuk merubah orang lain akan percuma kalau kita tidak bisa merubah diri kita sendiri. Termasuk gue dengan postingan gue, yang banyak omong, padahal nonsense.
Satu lagi, masalah Korupsi itu bukan problem Pemerintah, Tapi problem kita semua, karena Korupsi itu sudah melembaga di Indonesia, makanya tidak jarang, mereka yang dulunya aktivis, toh pas jadi anggota DPR, mereka meleburkan kedalam sistem dan akhirnya mereka tidak kuasa menolak, sehingga mereka pun berkorupsi juga. Nah, problematika kelembagaan inilah yang harus digeser. Yang gue tangka dari problematika kelembagaan ini adalah dengan gue menganalogikan orang yang memiliki penyakit syaraf yang kejepit lah atau apalah. Intinya problematika ini bisa disembuhkan dengan jangka waktu yang panjang dan dengan keseriusan untuk penyembuhannya, berbeda dengan orang yang sakit patah tulang, paling lama mungkin 6 bulan sudah baikan, tapi akan berbeda kalau Syaraf yang sakit.
Quote Terakhir untuk Postingan ini adalah "Seribu orang tua hanya bisa berharap satu anak muda hanya bisa mengubah dunia." - Bung Karno (Si Penyambung Lidah Rakyat)
Sekian :D