Ikhlas

by

Finally, gue dapet inspirasi yang benar-benar nyata, dan gue masih bisa memperhias blog gue ini yang semoga dengan postingan yang bermanfaat. Ya kali ini gue baru aja mendapatkan suatu inspirasi untuk menambah jumlah postingan di blog tercinta ini. sebelumnya gue pernah mendapatkan Inspirasi dari sebuah Quote indah, yakni “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, Hari esok harus lebih baik dari hari ini.” dimana di postingan tersebut gue menuliskan apa yang gue pikirkan berdasarkan imajinasi ekstrim gue dan hasilnya gue berhasil menuliskan dengan sejumlah 1295 kata, nyaris 1300 kata. Wow. Hehehe :D
Tapi beda untuk hal ini. Kali ini gue nggak menceritakan Imajinasi gue, dan gue dapat inspirasi menulis ini dari satu kata yakni Ikhlas. Juga didorong, oleh sebuah twit yang sangat nyesss banget kalau buat gue. Ya iniliah twitnya kawan-kawan :
Tingkatan tertinggi dari ibadah itu “iklas” jadi yang ibadah masih mengharap surga atau takut neraka, level ibadahnya masih “pemula.”
-          Negativisme (official Account Twitter) @negativisme
Ya Twit diatas yang mendorong gue untuk menulis. Ikhlas. Setelah gue iseng meng-kepo akun tersebut, terus gue menemukan twit tersebut, langsung terlintas, bahwa twit tersebut twit luar biasa, dan cukup menyadarkan. Ya coba deh lihat sendiri dan pahami sendiri twit tersebut, kata per kata. Jadi sebenarnya sudah kah kita bersikap Ikhlas, kepada Tuhan yang kita sembah. Kalau gue ngaku sih gue belum ikhlas, sama sekali belum. Dari situ gue sadar, bahwa untuk menjadi pribadi yang ikhlas itu sulit. Sangat-sangat sulit. Mungkin aja memang hanya orang yang terpilih saja yang bisa merasakan Nikmat Ikhlas.
Coba deh kita nggak usah munafik, semua manusia berdoa, beribadah menghadap Tuhannya pasti ada tujuannya kan. Mengharap surga dan takut siksa akan api neraka itu juga suatu pengharapan seseorang yang tingkatannya masih lebih baik daripada kita-kita yang mengharapkan sesuatu yang bersifat materi/kebendaan. Logikanya gini, ketika seseorang itu beribadah terhadap Tuhannya, dengan memasukkan didalamnya, harapan masuk neraka, dan takut siksa api neraka, tingkat keimanan orang tersebut pastinya lebih tinggi, dibandingkan dengan seseorang yang ketika beribadah seperti Sholat, Baca Al-Qur’an, atau ke Gereja, dengan mengharapkan terkabulnya doa yang diinginkannya di dunia. Contoh, kita mendadak rajin sholat dan rajin baca Al-Qur’an ketika masa-masa ujian masuk perguruan tinggi—ini pengalaman Pribadi si penulis—atau ketika mahasiswa tingkat akhir mendadak alim ketika menghadapi musuh besar utama Mahasiswa S1, yakni skrpsi. Ya mereka beribadah, mungkin dengan intensitas yang lebih banyak, berdoa terus, sepanjang waktu berdoa untuk dimudahkan menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya, seperti dimudahkan saat sidang skripsi nanti. Dari luar sih kelihatannya, wih alim banget nih orang. Tapi setelah gue pikir-pikir pengalaman gue yang dulu-dulu, ternyata berbuat ikhlas itu susah banget. Sangat-sangat susah. Setelah gue masuk Undip nyatanya gue malah kebanyakan bolong-bolong sholatnya.
Emang sih, kepada siapa lagi kita meminta kecuali kepada Tuhan kita Sendiri. Masa iya kita menyekutukan Tuhan kita sendiri ? nggak mungkin juga kan ? tapi masa iya sih, kita beribadah, memanjatkan doa, bersimpuh tapi dengan begitu banyak keinginan yang kita pinta kepada Tuhan kita, tanpa memikirkan sebenarnya apakah kita sudah pantas mendapatkan apa yang kita inginkan. Gue selalu menyebutkan kita, disetiap pembahasan blog ini, ya karena gue juga termasuk orang yang seperti itu. Ketika gue beribadah gue kebanyakan minta. Ya jadi yang gue pikirkan disini, kita itu dalam menjalankan kewajiban agama, kita tidak mendapatkan esensinya. Ikhlas yang seharusnya kita sedang didalam aktivitas yang menyibukkan, dan tibanya waktu Sholat, kita dengan ikhlas mencari musholla atau masjid untuk sholat, hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Ya Keridhaan Allah. Kita bersedia meninggalkan sebentar pekerjaan kita, bersedia melakukan memfokuskan diri/khusuk untuk sesuatu yang mungkin diluar akal manusia, Tapi manusia itu percaya bahwa amalannya adalah hanya untuk Tuhan-Nya semata, tidak ada didalamnya dicampuri dengan keinginan dunia, keuntungan, pangkat, harta, kemasyhuran, kedudukan tinggi, meminta pujian, menuruti hawa nafsu dan yang lebih berbahaya adalah kita menjalankannya hanya sebagai kewajiban semata.
Kita tuh Ikhlas, disaat pulang dari Kuliah atau Kerja bertepatan pada waktu sholat Ashar, terus kita Ikhlas untuk mandi membersihkan diri, untuk terlihat bagus dan bersih ketika kita menghadap Tuhan kita. Kita aja pengennya terlihat bagus, ganteng, bersih dan wangi kan ketika mau ketemu Pacar atau gebetannya. Masa kita menghadap Tuhan, yang telah memberikan kita hidup dalam keadaan kotor. Ya itu emang bagian yang sulit. Ikhlas itu sulit.
Jadi ya yang pernah gue dengar itu, ketika kita memeluk suatu agama, terserah agama apapun. Kita mengikhlaskan diri kita sendiri untuk melebur didalam agama tersebut. Makin ribet kan penjelasannya ? melebur kedalam Agama tersebut ? apaan tuh maksudnya ? gue sendiri agak kurang paham dengan maksud kata-kata tersebut, tapi yang gue tangkap sedikit adalah sesuai dengan doa ifititaf yang selalu kita panjatkan didalam sholat sebelum membaca Surat Fatihah. “Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, Hidupku, Matiku hanya untuk Allah.” (idih mulai sok alim kan tuh).
Ya jadinya kalau menurut gue, itulah yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu, bukan doa kita kepada Tuhan kita yang bersifat keduniawian. Kita sholat ya sholat aja, masalah doa, keinginan, harapan atau permintaan setelah sholat, itu hanya pelengkap saja. Kalau menurut gue sangat absurd kalau yang pelengkap-pelengkap tersebut dijadikan prioritas. Dan menurut gue yang paling parah adalah ketika kita sholat hanya sebagai kewajiban (masih mencotohkan diri gue sendiri). Jadi tuh analoginya adalah seperti mahasiswa yang memiliki kewajiban untuk mengerjakan tugas kuliahnya, jika tidak dikerjakan atau terlambat mengumpulkan, nilai kita yang menjadi ancaman. Nah, kalau kita melakukan serangkaian amalan-amalan hanya sebatas kewajiban-kewajiban kita itu tidak sepenuhnya ikhlas. Soalnya dalam melakukan kegiatan amalan tersebut secara tidak langsung kita mengharapkan untuk dijauhi dari siksa api neraka.
Ya kalau ikhlas sih, seharusnya kalau menurut gue, kalau emang lo harus masuk neraka karena Allah, ya lo harus ikhlas. Kan Dia yang punya Kuasa. nggak usahlah menyogok Tuhan kita sendiri dengan ibadah kita.
Tapi setidaknya ya masih lebih baik lah, mereka yang sudah bisa menjalankan ibadahnya walaupun belum bisa Ikhlas, udah bisa menjalankan ibadahnya itu aja sudah bagus kok, walaupun ada maksud pribadi dalam ibadah tersebut, nggak kaya manusia seperti gue, yang lebih banyak omong, menulis panjang lebar, tapi guenya sendiri masih belum bisa menjaga Ritme Sholat gue.
Ya jadi itu lah Ikhlas, Kiayi, Ulama, Ustadz itu manusia kok, dan apalagi gue, cuma manusia banyak omong, sangat mungkin penjelasan tentang ikhlas yang masih mengawang tersebut salah. Ya namanya juga pemikiran orang, bukan pemikiran Tuhan. Ya Semoga aja kita semua termasuk gue didalamnya, bisa ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan kita, Ikhlas se Ikhlas-ikhlasnya. Amin Ya Allah. 
Tetap aja sih, Mereka yang beriman kepada Tuhan terus mengamalkan ajaran Tuhan-Nya masih lebih baik walaupun belum Ikhlas (masih mengharapkan sesuatu), dibandingkan dengan orang yang ngaku-ngaku beriman kepada Tuhan tapi tidak mengamalkan Ajaran-Nya, dan tetap aja yang lebih berhak menentukan siapa yang baik dan yang lebih baik hanya Tuhan, bukan gue.
Hehehehe :D