Perubahan Pemikiran Ekonomi Neo-Klasik

by

Buku-buku textbook ekonomi menjelaskan bahwa perekonomian Neoklasik mengasumsikan kalau aktivitas-aktivitas ekonomi didasarkan oleh pemikiran-pemikiran rasional dari para pelakunya. Pelaku ekonomi—produsen dan konsumen—selalu didasarkan atas benefit tertinggi yang diperoleh dari suatu aktivitas perekonomian. Hal ini sesuai dengan teori yang ada dan hingga saat ini pemikiran tersebut masih dipelajari oleh Mahasiswa-mahasiswa ekonomi. Sisi rasional produsen dapat dapat diukur melalui penjelasan yang terkenal dari Law of Diminishing Return, dimana dalam memproduksi suatu barang, produsen harus berpikir rasional seberapa banyak barang yang harus diproduksi agar mencapai keuntungan yang maksimal. Tidak berbeda jauh dari sisi konsumen, bahwa tindak-tanduk perkonomiannya juga didasarkan atas kerasionalitas seseorang. Ekonom, Neoklasik sangat percaya bahwa barang-barang yang akan dikonsumsi oleh konsumen semuanya didasarkan atas kebutuhan mereka atas barang tersebut.
Kedua sisi tersebut pun saling dipertemukan oleh Ekonom yang ktia kenal sebagai Bapak Neoklasik, Alfred Marshall, bahwa perekonomian akan mencapai keseimbangan ketika kedua sisi tersebut saling bertemu dan saling tarik ulur dalam perkeonomian. Contoh mudahnya adalah setiap produsen ingin menjual barangnya dengan harga tinggi namun konsumen menginginkan harga yang rendah. Sehingga jika kedua sisi tersebut dipertemukan akan terjadi proses tarik ulur untuk harga yang saling memuaskan keduabelah pihak.  

Sepertinya asumsi rasionalitas dalam aktivitas ekonomi cukup terbukti hingga saat ini, namun belum cukup relevan dalam menjelaskan fakta-fakta empiris yang berlaku di masyarakat. Thorstein Bunde Veblen mengatakan bajwa manusia bukan hanya makhluk rasional tapi juga makhluk emosional yang memiliki perasaan, selera, nilai, dan kecenderungan (instink) yang terikat dengan budaya[1]. Berdasarkan pandangan Veblen tersebut dapat disimpulkan bahwa kerasionalitas tidak selalu mempengaruhi seseorang dalam aktivitas ekonominya. Contoh yang mudah yang dapat ditemukan dewasa ini salah satunya adalah kecenderungan masyarakat Indonesia saat ini sebagai konsmumer Smartphone. Semua orang tahu, kalau Handphone, esnsinya adalah sebagai sarana komunikasi, dimana fungsi utamanya adalah untuk Menelepon dan SMS. Namun, yang terjadi saat ini adalah masyarakat Indonesia seakan-akan saling berlomba untuk memiliki gadget  yang canggih, namun lupa dengan kebutuhan utama mereka didalam produk smartphone tersebut. Fakta empiris yang terjadi adalah sisi emosional masyarakat Indonesia sangat mempengaruhi aktivitas aktivitas ekonominya. Mereka pun tetap membeli produk-produk buatan Apple, walaupun sesungguhnya mereka tidak terlalu membutuhkannya, tapi karena nilai “Gengsi” yang tersirat dan terkandung didalam produk tersebut memotivasi mereka. Inilah contoh kasus yang dinamakan Veblen sebagai Conspicious Consumption.
Asumsi perekonomian Neoklasik yang mana ekonomi dalam persaingan sempurna, dimana terdapat informasi yang sempurna yang mudah didapat oleh pelaku ekonomi sering mendapatkan kritik. Fakta empiris lagi, bahwa perkonomian sesungguhnya memiliki informasi yang tidak sempurna. Para pelaku usaha, seperti tesisnya Veblen cenderung melakukan trik-trik bisnis kotor untuk mengalahkan para pesaingnya. Trik-trik curang ini dapat menyebabkan informasi yang tadinya sempurna menjadi tidak sempurna, sehingga secara tidak langsung para pengusaha tersebut melakukan entry barrier untuk perusahaan-perusahaan yang baru. hal ini sudah menjadi rahasia umum untuk saat ini. Informasi yang tidak sempurna tersebut, menyebabkan munculnya biaya transaksi, dimana pada tesis Neoklasik, sama sekali mereka tidak membicarakan tentang biaya transaksi. Mulai dari mazhab kelembagaan inilah konsep tentang biaya transaksi mulai diakui. Berbagai hambatan masuk kedalam pasar, sampai produsen mulai menjual produknya pastinya mengeluarkan biaya. Semakin Asimetris informasi dalam perekonomian maka biaya transaksinya akan semakin tinggi.
Ketidaksempurnaan informasi tersebut membuat sistem insentif tidak bekerja sempurna. Kerap kali insentif-insentif yang diberikan pemerintah salah sasaran padahal tujuannya dilakukan insentif adalah untuk menstabilkan kebijakan yang telah dilakukannya. Contoh kasus nyata yang pernah terjadi adalah ketika Pemerintah melakukan kebijakan menaikkan BBM Bersubsidi untuk menghemat anggara pemerintah, namun untuk membantu masyarakat menengah kebawah dalam mengahdapi inflasi pemerintah juga memberikan insentif berupa Subsidi kepada masyarakat menengah kebawah atau yang biasa disebut BLT (Bantuan Langsung Tunai). Insentif yang dilakukan pemerintah tersebut nyatanya tidak kompatibel karena BLT yang diberikan dari pemerintah kepada rakyat miskin malah membuat masyarakat semakin malas secara psikologi, tentunya hal ini juga tidak baik untuk perekonomian mendatang, Karena secara institusi masyarakat semakin malas dan ketergantungan.

Dari Tabel disamping dapat kita jelaskan secara fundamental perekonomian menurut aturan main Neoklasik dengan perekonomian menurut mazhab Kelembagaan, dimana didalam kedua perekonomian tersebut saling menegasikan satu sama lain. Terutama pada Mazhab Kelembagaan sehingga disebutkan aliran perekonomian non-mainstream. Mungkin nilai-nilai yang terkandung didalam mazhab kelembagaan bisa dipakai untuk merubah nilai-nilai dari perekonomian Neoklasik.

[1] Amin Pujiati dalam jurnal Fokus Ekonomi, Menuju Pemikiran Ekonomi Ideal : Tinjauan Filosofis dan Empiris