Dekade 2020 Permulaan Bencana yang Sesungguhnya

by


Pendahuluan
Hampir semua orang, semua lapisan masyarakat Indonesia sangat berharap bahwa pada dekade 2020 nanti dapat dijadikan momentum sebagai awal kebangkitan negara Indonesia dalam menanggulangi berbagai keterpurukan khususnya pada aspek Ekonomi. Hal ini cukup beralasan. Dimana pada dasawarsa tersebut penduduk muda Indonesia sedang banyak-banyaknya. Pada tahun 2010 saja, jumlah penduduk Indonesia pada usia Produktif (15-64 thn) mencapai 154.053.112 jiwa[1], serta didukung dengan tingkat rasio ketergantungan Indonesia sebesar 51,31[2]. Tentunya jika kita diproyeksikan kembali pada dekade 2020 dimana usia produktif Indonesia yang kembali mengalami peningkatan akan berdampak positif kepada angka rasio ketergantungan yang semakin kecil. Disinilah yang dimaksud dengan konsep Bonus Demografi dimana berawal dengan jumlah penduduk Usia Produktif sedang banyak-banyaknya diharapkan mampu menjadi Leader sebagai garda terdepan dalam pembangunan ekonomi Indonesia, kita juga sangat berharap bahwa selagi tingkat rasio ketergantungan yang semakin kecil  Penduduk usia produktif tersebut mampu melakukan hal konkret dalam kewajibannya untuk menanggung mereka usia-usia yang tidak produktif secara optimal, sehingga pembangunan berbasis manusia dapat terlaksana.
 Mungkin ada benarnya apa yang banyak dibilang orang-orang bahwa “terlalu berharap banyak itu tidak baik”. Sama seperti kasus diatas. Dimana kita sangat berharap bahwa penduduk usia produktif tersebut sebagai modal kebangkitan Indonesia pada umumnya dan kebangkitan ekonomi pada khususnya. Bukannya pesimis, namun mencoba untuk realistis bahwa secara fundamental perekonomian Indonesia sedang goyah, Tingkat kemiskinan dan pengangguran yang relatif masih cukup tinggi, ditambahnya melemahnya kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika hingga mencapai kisaran Rp. 11.900,- per Dollar serta diperparah dengan kebijakan BI meningkatkan suku Bunga sekitar 7,50%, juga ditambah dengan impor beras yang mencapai volume 50.778.040,00 atau sekitar US$ 26.996.107.00.
2020 Adalah Awalnya
“…Humans species would increase as the number 1,2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256, and substance as 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. In two centuries the population would be to the means of subsistence as 236 to 9; in three centuries as 4096 to 13 and two thousand years the difference would be almoust incalculable…”
(Malthus, edisi Fogarti, 1948—Prof Ida Bagus Matra dalam Demografi Umum.)
Selain permasahalan fundamental ekonomi Indonesia yang sedang goyah saat-saat ini, perekonomian Indonesia juga mengalami permasalahan struktural positif. Dimana normatifnya Indonesia sebagai Negara agraris seharusnya dapat mengoptimalkan produksi pertaniannya, namun nyatanya perekonomian Indonesia lebih didukung oleh sektor Industri. Hal ini bisa ditunjukkan dengan grafik dibawah ini :
           
Berdasarkan Grafik disamping iniini mengindikasikan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang lebih mengedapankan hasil-hasil dari sektor Industri tidak lagi dengan sektor pertanian, hal ini dapat dilihat bahwa sektor Industri sangat unggul dalam PDB dibandingkan dengan sektor Industsi dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Indonesia yang kerap kali terdengar sebagai Negara agraris namun secara riil Indonesia tidak lagi menjadi Negara agraris. Sektor pertanian bukanlah sektor yang penyumbang utama pada pembentukan PDB Indonesia melainkan Sektor Industri Pengolahan, dan Listrik, Gas dan Air Bersih sebagai kedua sektor pembentuk PDB Indonesia terbesar.[3]
Disinilah masalah utama yang muncul pada dekade 2020 nanti serta proyeksinya pada beberapa puluh tahun mendatang. Mungkin sesuai dengan yang diramalkan oleh Malthus. Ekonom kondang abad 18 dimana salah satu pemikiran pesimisnya menjelaskan bahwa pertumbuhan pangan berdasarkan deret hitung dan pertubumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur.
Berangkat dari landasan inilah dikhawatirkan Indonesia pada dekade 2020, yang digadang-gadang sebagai momentum Bounce Back­­-nya perekonomian Indonesia malah sebagai awal bencana jika tidak disikapi seacara serius dan komitmen. Secara umum pada tahun 2020 nanti penduduk-penduduk usia produktif sedang banyak-banyaknya. Diproyeksikan pada tahun 2020 nanti penduduk Indonesia mencapai 261.005,00 jiwa, dengan di huni oleh usia produktif yang mencapai 180.403,5 jiwa[4]. Penduduk-penduduk usia produktif tersebut yang sedang banyak-banyaknya nanti pastinya sangat membutuhkan banyak asupan kalori, tentunya asupan kalori yang didukung dengan tingkat gizi yang semakin baik. karena kebutuhan akan kalori dengan tingkat gizi yang semakin baik itu sebagai penunjang utama dalam meningkatkan produktifitas penduduk usia produktif tersebut. Pastinya nanti Indonesia akan sangat membutuhkan penambahwan supply beras yang cukup besar disertai dengan kualitas yang semakin baik. Disinilah tantangan peratama dalam menyikapi tahun 2020 sebagai permulaan era bonus demografi dimulai. Dapatkah para petani kita menyediakan kebutuhan pangan penduduk Indonesia pada dasawarsa 2020 nanti dengan gizi yang jauh lebih baik. Berdasarkan artikel yang tertulis pada media Gatranews, tercatat bahwa “dalam 9 tahun ini saja, jumlah petani berkurang sekitar 14 juta. Tahun ini, petani di Indonesia tinggal 26,1 juta orang.” (Sumber : dikutip dari Gatra.com)
Sedangkan dengan semakin membludaknya pertumbuhan penduduk, secara lambat laun akan mengikis lahan-lahan produktif yang tadinya sebagai lahan pertanian dan kemudian diganti dengan kebutuhan akan properti dalam rangka memenuhi pangsa pasar dimana penduduk usia produktif yang digadang-gadang sebagai agent of change menjadi objek industri properti di Indonesia. Ironi memang, ketika usia produktif tersebut diharapkan dapat menjadi agent of change namun manjadi objek pasar properti dimana banyak investor asing yang bergelut dalam industri tersebut. Perlu dicatat bahwa hampir 100 ribu hektare lahan pertanian berubah fungsi setiap tahunnya.
Bagaimana tahun 2020 menghadapi persoalan ini ?
Bagaimana para petani yang diproyeksikan nanti jumlahnya kian menurun, men-supply kebutuhan pangan Indonesia khususnya beras, dengan kualitas yang baik juga. Dalam hal penyerapan tenaga kerja memang Sektor Pertanian masih unggul dibanding dengan sektor lainnya. Namun justru disinilah yang menjadi dilema kedua. Tingginya penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian tidak berbanding lurus dengan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB. Hal ini mengindikasikan rendahnya produktifitas sektor pertanian. Rendahnya produktifitas sektor pertanian tersebut kembali memberikan pertanyaan krusial, yakni apakah petani Indonesia mampu untuk memberikan penduduk usia produktif tersebut supply beras dengan kuantitas yang besar disertai dengan kualitas tinggi.
Jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut yang dikhawatirkan adalah pesimisme Malthus terjadi di Indonesia, dimana Indonesia tidak mampu men­­-supply kebutuhan pangan Indonesia sedangkan—kecuali meningkatkan impor pangan Indonesia—sedangkan pertumbuhan penduduk kian membludak sepanjang waktu, tuntutan akan nutrisi pun semakin tinggi. Ditambah lagi dengan terus terkikisnya lahan pertanian dikarenakan alih fungsi lahan karena banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan misalkan kelapa sawit. Juga di tambah dengan usia produktif Indonesia sampai saat ini lebih tertarik bekerja untuk sektor Industri dan Jasa, tidak lagi pertanian, berbagai problema tersebut akan menyudutkan Indonesia Indonesia kedalam krisis baru, yakni krisis pangan. Malthus memang tidak memasukan unsur teknologi dalam pemikirannya, namun bagaimana jika mensikapi semakin tingginya pengikisan lahan yang terus terjadi pada lahan pertanian. Apa mungkin Indonesia membuat pulau seperti Dubai ?
Kesemuanya seperti menyatu menjadi suatu masalah besar nasional yang harus dengan cepat disikapi mulai sekarang juga jika Indonesia benar-benar ingin memetik keuntungan dari adanya Bonus Demografi nanti. Namun, jika sejak dini problematika tersebut tidak ditangani secara serius maka kita dimasa depan hanya bisa menunggu kalau pesimis ala Malthus menjadi kenyataan, karena jika diproyeksikan lagi pada tahun-tahun selanjutnya setelah era bonus Demografi, para penduduk yang dikategorikan usia produktif akan bereproduksi kembali, dan lahan-lahan pertanian kembali terkikis sehingga krisis semakin parah.
Sampai Kapan Kita Harus Impor ?
            Akhirnya hanya impor lah, sebagai senjata terakhir dalam menanggulangi problematika tersebut. Perubahan struktur ekonomi Indonesia yang saat ini telah lama melupakan pentingnya peran sektor pertanian, menyebabkan kita harus impor. Ya impor, ditengah-tengah ketidakberdayaan kita mengolah potensi pertanian kita, dan ditengah-tengah terhamparnya lahan pertanian yang beralih fungsi. Indonesia kita tidak lagi Agraris. Problematika struktur ditambah lagi dengan fundamental perekonomian Indonesia yang saat ini kurang stabil.
Usia Produktif, Nyatanya Tidak Semuanya Produktif
            Penduduk usia produktif yang diharapkan sebagai subjek perubahan ekonomi Indonesia nyatanya tidak semuanya produktif. Hal ini didasarkan dengan ancaman penyakit HIV/AIDs di Indonesia yang semakin nyata. Berdasarkan data, jumlah penduduk Indonesia penderita HIV/AIDs mencapai 18442 jiwa[5]. Disinilah yang sangat disayangkan, bahwa agen perubahan tersebut banyak terinfeksi virus yang sangat menurunkan tingkat produktifitas penduduk usia produktif tersebut.
Refleksi
Berangkat dari tulisan diatas dapat disimpulkan jika Indonesia tetap bersikukuh mengambil keuntungan dengan adanya bonus demografi, dengan sigap dan sejak dini harus dipersiapkan, karena jika tidak dipersiapkan dikhawatirkan pesimisme Malthus akan terjadi di Indonesia, terutama pada sektor pertanian, dimana Agrarisnya Indonesia dewasa ini dipertanyakan. Dari sini juga pentingnya pembangunan ekonomi berkelanjutan dimana alam jadi faktor endogenous dalam teori pertumbuhan ekonomi, sedangkan keuntungan alam dalam konteks Indonesia adalah Alam pertaniannya yang memiliki potensi untuk dioptimalkan.Terlalu banyak berharap memang tidak baik, tapi lebih tidak baik jika tidak punya harapan. Akhir kata “seribu orang tua hanya bisa berharap satu anak muda merubah Indonesia.”

Referensi
Badan Pusat Statistik. “PDB Indonesia Berdasarkan Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha 2004-2010.” BPS; Indonesia
Badan Pusat Statistik. “Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010.” BPS; Indonesia
Bank Indonesia. “Tingkat bunga Indonesia” bi.go.id; Indonesia
Bank Indonesia. “Kurs Bank Indonesia” bi.go.id; Indonesia
Basfin Siregar, dkk. “Swasembada Pangan 2014, Sebuah Utopia ?” 2013 http://www.gatra.com/fokus-berita/38571-swasembada-pangan-2014,-sebuah-utopia.html (Diakses 9 Desember 2013)
Data Statistik Indonesia. 2013. Proyeksi penduduk 2014-2025. Data Statistik-Indonesia; Indonesia
Departemen Pertanian. “Basisdata Ekspor-Impor Komoditi Pertanian.” Deptan.go.id; Indonesia
Inungd., “Tahun 2030 Jumlah Penduduk Usia Produktif Capai 180 Juta” 2013. http://poskotanews.com/2013/08/30/tahun-2030-jumlah-penduduk-usia-produktif-capai-180-juta/ (Diakses 8 Desember 2013)
Matra, Ida Bagoes. 2012. Demografi Umum.Yogyakarta; Pustaka Pelajar
Todaro, Michael P dan Smith Stephen C. 2006. Pembangunan Ekonomi. (Terj) Haris Munandar & Puji A.L. Jakarta; Erlangga
Sasu Nanuneni. “Biografi Thomas Robert Malthus.” 2012. http://nanxsu.blog.com/2012/03/25/biografi-thomas-robert-malthus/ (diakses 8 Desember 2013)
dan
Kuliah PI, Ekonomi Pembangunan, Kuliah AKP, Seminar Internasional tentang Pembangunan Ekonomi dan pertumbuhan penduduk.









[1] Data BPS Terlampir
[2]   Rasio Ketergantungan 51,31 berarti tiap 100 orang kelompok penduduk produktif harus menanggung 51,3 kelompok yang tidak produktif.
[3] Data dan Diagram Terlampir
[4] Data Proyeksi Terlampir
[5] Data Terlampir