Archive for May 2014

Alay-isme ?

Lagi kepikiran tentang kata ini aja. Alay, sebenarnya apa sih definisi alay ? banyak juga sih blogger mania yang memikirkan tentang kata tersebut, dan sengaja gue nggak mau cari-cari dulu tentang definisi tersebut. Nggak penting, yang jelas gue mengartikan Alay itu adalah orang yang ketika baru mengerti sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang dapat dikatakan setingkat lebih baik dan dia serasa bisa berjingkrak dengan mengeluarkan berbagai macam kenorak-annya dan memamerkannya kepada siapa pun sehingga dia bisa dibilang orang yang lebih baik, dan dia sok-sok menghakimi atau meng-judge orang-orang yang mungkin HANYA setingkat dibawahnya.
Bingung ? Selow gue kasih contoh.
Misalkan seseorang katakanlah anak kemarin sore baru belajar tentang ekonomi yang mungkin dari kakak kelasnya yang banyak orang bilang kakak kelas tersebut orang kritis di angkatannya. Cerita nular ilmu gitulah, pasti kalian pernah lah ngerasain. Terus terkadang-kadang dengan bangganya orang tersebut memperlihatkan—dengan norak—apa ilmu yang telah dia dapat ke orang lain. Ya terkadang mungkin dengan cara yang baik ya kalau begitu mendinglah. Tapi yang gneselin itu adalah jika mereka memamerkan dengan orang-orang yang dibawahnya dengan sangat arogan. Yaelah padahal mereka hanya 1 langkah diatasnya. Terkadang mereka dengan mudahnya dan arogannya menghakimi seseorang karena seseorang tersebut bisa dibilang buruk dalam satu sisi. Contoh men-judge-nya misalkan anak kemarin sore tersebut mengejek “suram” kepada masahasiwa yang bisa dibilang kesulitan terhadap kuliahnya. Yak kalau menurut gue cara menghakimi tersebut pebuatan Alay, dan orangnya kalau menurut gue adalah The Real Alay. Ya namanya juga opini. Contoh lagi misalkan orang tersebut misalkan seseorang merangkai kata-kata dengan huruf gede kecil dan banyak singkatan dan terkadang ditambah simbol-simbol nggak penting, hmmm orang tersebut emang “alay” kalau menurut definisi orang-orang sekarang, dan yap orang tersebut emang perlu dibina, tapi nggak perlu kan dibinasakan ?

Read more »

Tentang Sebuah Nama

Identitas. Yak, kalau menurut gue cukup satu kata tersebut untuk memaknai tentang bagaimana pentingnya sebuah nama untuk seseorang. Dengan nama, kita bisa mengetahui siapa sih diri kita dan bagaimana kita nanti jadinya. Agak sok ngerti dan sok bijak juga sih, tapi gue pernah punya pengalaman yang berkaitan dengan Nama gue, ya meskipun itu cuma nama panggilan. Tapi itu penting.
Sejak gue kecil, dan karena gue cadel, orang tua gue selalu manggil gue dengan sebutan “Nia”. Padahal laki-laki, dan nama asli gue Aris Caesar Kurnia Jaya. Sekitar sampai kelas 3 SD gue selalu dipanggil nia, itu dari nama ketiga gue yaitu “Kurnia”. Baik sekolah atau di madrasah atau di daerah rumah gue, gue dikenal dengan nama Nia. Iya pas lagi itu mah gue cuek-cuek aja, toh Cuma nama panggilan. Tapi semenjak kelas 4 SD, walikelas gue kelas karena guru baru, tapi sudah tua, dia manggil gue dengan nama “Aris Caesar”. Seinget gue, pas absen nama tersebut, gue agak kurang ngeh, bukan Cuma gue tapi temen-temen gue. Hampir semuanya pada keheranan, dan mengira kalau nggak ada siswa dengan nama Aris Caesar. Tapi tiba-tiba tanpa sadar gue asal tunjuk tangan aja. Seingat gue dalam hati gue berkata, “itu nama lo, ya itu nama lo !”. Dan akhirnya semenjak itu gue meyakinkan ke temen-temen di sekolah gue kalau nama gue Aris, lengkapnya Aris Caesar Kurnia Jaya. Yak sepertinya Bu Paryah—orang yang pertama kali manggil gue dengan sebutan Aris—sepertinya banyak berjasa pada hidup gue.

Read more »