Alay-isme ?

by

Lagi kepikiran tentang kata ini aja. Alay, sebenarnya apa sih definisi alay ? banyak juga sih blogger mania yang memikirkan tentang kata tersebut, dan sengaja gue nggak mau cari-cari dulu tentang definisi tersebut. Nggak penting, yang jelas gue mengartikan Alay itu adalah orang yang ketika baru mengerti sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang dapat dikatakan setingkat lebih baik dan dia serasa bisa berjingkrak dengan mengeluarkan berbagai macam kenorak-annya dan memamerkannya kepada siapa pun sehingga dia bisa dibilang orang yang lebih baik, dan dia sok-sok menghakimi atau meng-judge orang-orang yang mungkin HANYA setingkat dibawahnya.
Bingung ? Selow gue kasih contoh.
Misalkan seseorang katakanlah anak kemarin sore baru belajar tentang ekonomi yang mungkin dari kakak kelasnya yang banyak orang bilang kakak kelas tersebut orang kritis di angkatannya. Cerita nular ilmu gitulah, pasti kalian pernah lah ngerasain. Terus terkadang-kadang dengan bangganya orang tersebut memperlihatkan—dengan norak—apa ilmu yang telah dia dapat ke orang lain. Ya terkadang mungkin dengan cara yang baik ya kalau begitu mendinglah. Tapi yang gneselin itu adalah jika mereka memamerkan dengan orang-orang yang dibawahnya dengan sangat arogan. Yaelah padahal mereka hanya 1 langkah diatasnya. Terkadang mereka dengan mudahnya dan arogannya menghakimi seseorang karena seseorang tersebut bisa dibilang buruk dalam satu sisi. Contoh men-judge-nya misalkan anak kemarin sore tersebut mengejek “suram” kepada masahasiwa yang bisa dibilang kesulitan terhadap kuliahnya. Yak kalau menurut gue cara menghakimi tersebut pebuatan Alay, dan orangnya kalau menurut gue adalah The Real Alay. Ya namanya juga opini. Contoh lagi misalkan orang tersebut misalkan seseorang merangkai kata-kata dengan huruf gede kecil dan banyak singkatan dan terkadang ditambah simbol-simbol nggak penting, hmmm orang tersebut emang “alay” kalau menurut definisi orang-orang sekarang, dan yap orang tersebut emang perlu dibina, tapi nggak perlu kan dibinasakan ?

Terkadang yang gue merasa aneh adalah orang yang hanya selangkah lebih mengerti aja bisa searogannya gitu untuk menghakimi seseorang sampai-sampai bilang dia suram lah, nggak punya masa depan, atau mereka nggak pantas untuk hidup. Hidup selayaknya Tuhan, dan mereka sampai bersabda, “orang tersebut pantas di Bully” atau mungkin cara halusnya adalah memusuhinya walaupun dibelakangnya aja.
Agak sedih juga sih, mental pemuda ini kok agak otoriter yak. Toleransi itu penting men, bukan hanya hidup berdampingan dalam beragam atau suku, tapi bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan cara berpikir adil dan hidup damai baik itu dengan alay maupun baru lulus dari sifat-sifat alay.
Mereka kan juga manusia kan, ya mereka juga punya hak kan, bukan anak kemarin sore aja yang punya hak. Katanya demokrasi, tapi hak orang lain diambil. Ya kalau merasa risih dengan hidup mereka ya tinggal di bina gampang kan, Bina yak bukan binasakan. Tapi kalau nggak mau ngebina nggak perlu juga menghakimi seenaknya dengan kekuasaan tinggi karena merasa lebih baik. Mungkin mereka emang risih, tapi toh mereka nggak mengganggu kan.
Biasanya hal yang kayak gini sangat terlihat dalam musik. Sangat terlihat banget. Kalau kata dosbing gue yang dilihat bukan karena hasilnya tapi prosesnya. Mentang-mentang udah nggak alay bebas ngejek. Ckckck padahal yang diejek juga berusaha mengerti dan mencari benang merah tentang musik.
Terkadang kita hidup seperti terlalu banyak musuh, sehingga antara manusia satu dengan yang lainnya punya berbagai ambisi pribadi. Ibaratnya ketika tangan mereka saling bersalaman, tapi tangan kiri mereka di belakan saling memegang pisau. Kenapa nggak bunga aja atau kado atau apalah sesuatu yang positif. Kan asyik. Semuanya saling menghargai yang senior menghargai yang junior dan yang junior nggak belagu ke senior. Tapi ya udah terlalu membudaya mungkin hidup seperti itu, dan malahan orang-orang yang benar-benar mengerti akan sesuatu malah masa bodoh terhadap problematika tersebut.
Yah inti tulisannya sih, Mereka alay, tapi mereka juga manusia. Punya hak yang sama. Nggak perlu ada penghakiman-penghakiman. Anak kemarin sore itu ibarat seorang Alay yang baru mandi. Nggak perlu kan men-judge mereka orang – orang yang belum mandi ? Setuju atau nggak secara tidak langsung kita mendambakan liberalisme, kita mendambakan hidup yang bebas, ya bebas lah, kan kita semuanya punya hak untuk hidup, tapi ingat, bebas bukan berarti mengambil kebebasan orang lain. Kolektiv itu namanya dan otoriter. Mungkin Quote yang sesuai untuk mengakhiri tulisan ini adalah Quote-nya Pramoedya Ananta Toer, dan ini adalah Quote favorit gue diantara banyaknya Quote-quote keren lainnya. Yakni :
“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”
                        Pramoedya Ananta Toer