Tentang Sebuah Nama

by

Identitas. Yak, kalau menurut gue cukup satu kata tersebut untuk memaknai tentang bagaimana pentingnya sebuah nama untuk seseorang. Dengan nama, kita bisa mengetahui siapa sih diri kita dan bagaimana kita nanti jadinya. Agak sok ngerti dan sok bijak juga sih, tapi gue pernah punya pengalaman yang berkaitan dengan Nama gue, ya meskipun itu cuma nama panggilan. Tapi itu penting.
Sejak gue kecil, dan karena gue cadel, orang tua gue selalu manggil gue dengan sebutan “Nia”. Padahal laki-laki, dan nama asli gue Aris Caesar Kurnia Jaya. Sekitar sampai kelas 3 SD gue selalu dipanggil nia, itu dari nama ketiga gue yaitu “Kurnia”. Baik sekolah atau di madrasah atau di daerah rumah gue, gue dikenal dengan nama Nia. Iya pas lagi itu mah gue cuek-cuek aja, toh Cuma nama panggilan. Tapi semenjak kelas 4 SD, walikelas gue kelas karena guru baru, tapi sudah tua, dia manggil gue dengan nama “Aris Caesar”. Seinget gue, pas absen nama tersebut, gue agak kurang ngeh, bukan Cuma gue tapi temen-temen gue. Hampir semuanya pada keheranan, dan mengira kalau nggak ada siswa dengan nama Aris Caesar. Tapi tiba-tiba tanpa sadar gue asal tunjuk tangan aja. Seingat gue dalam hati gue berkata, “itu nama lo, ya itu nama lo !”. Dan akhirnya semenjak itu gue meyakinkan ke temen-temen di sekolah gue kalau nama gue Aris, lengkapnya Aris Caesar Kurnia Jaya. Yak sepertinya Bu Paryah—orang yang pertama kali manggil gue dengan sebutan Aris—sepertinya banyak berjasa pada hidup gue.

Okelah, ini cuma nama, dan yaelah apa sih artinya sebuah nama ?
Penting dan sangat-sangat penting sob. Ya senggaknya gue merasa sedikit lebih pede dengan panggilan aris. Walaupun terkadang juga ada temen gue bilang kalau keberatan di Nama. Hmm J. Ya nggak masalah, setelah gue pikir-pikir itu sebuah embanan yang diminta dari orang tua gue terhadap gue dan gue juga percaya kalau orang tua ngasih nama itu nggak sembarangan, pasti penuh doa. Ya Cuma orang bodoh yang mengasih nama anaknya asal-asalan. Karena kalau menurut gue sebuah Nama adalah sebuah harapan dan Doa.
Gue juga pernah nanya, ke nyokap gue kalau Nama lengkap gue itu Penuh dengan sarat akan doa dan harapan. Contohnya “Aris” Nama tersebut karena dokter yang menangani kelahiran gue namanya Aris dan nyokap gue sangat terobsesi gue bisa jadi dokter—ya karena nyokap gue sendiri seorang suster sih—tapi sepertinya gue gagal jadi dokter, tapi gue masih punya kesempatan untuk jadi Doktor tentunya dibidang gue. Udah cukup ssalah satu aja gue kasih contoh. Iya intinya sih Nama mencerminkan identitas lo. Nggak masalah misalnya orang lain terkadang memanggil lo dengan nama aneh. Contohnya kayak dulu gue pernah dipanggil, aris bibiw, aris jeber, ayis, atau aris jonggol dan chucky. Itu nggak masalah kalau menurut gue, yang penting lo pede kalau lo sudah mengenalkan Nama lo sendiri ke orang lain. Prinsip gue sih terserah mereka memanggil gue apa, yang jelas gue tetap Aris Caesar J.
Dan cara bersyukur paling mudah juga adalah kalau lo bangga dengan nama lo sendiri, dan sekaligus cara berbakti paling mudah terhadap kedua orang tua lo. Ingat men, mereka sudah ngasih nama dengan penuh doa dan harapan, masa bisa-bisanya lo nggak pede dengan nama lo sendiri. (Beda kasus dengan orang yang muallaf).
Dan sesampah-sampahnya orang adalah orang yang nggak pede dengan namanya sendiri. Karena kalau menurut gue dia lebih pede memakai topeng dibanding yang originalnya, dan mereka sangat-sangat tidak menghargai harapan dan doa orang tuanya. Sangat egois. Yak gue nulis begini terinspirasi dari acara kick Andy yang kalau nggak salah tema acaranya “misteri sebuah nama”.
Gue nggak habis pikir sama mereka, termasuk budayawan yang sering dibangga-banggakan dan sering nyindir-nyindir pemerintahan di acara sentilan sentilun. Kalau nggak salah namanya Butet Kertaredjasa. Gitu tuh seorang budayawan ? ya kalau menurut gue dia nggak lebih dari seorang sampah yang kebetulan bisa terkenal dan kayak dengan pake topeng.
Pantes aja gue sama sekali nggak bisa menikmati acara sentilan-sentilun di metro, ternyata intuisi gue bener, itu orang yang biasa mengkritik ternyata seorang sampah. Ckckck
Dan katanya sih dia karena sudah konsul dengan Dr Arkhan, yang katanya dia adalah seorang konsultan Nama. Hmmm terserah lo dan ilmu-ilmu yang udah lo pelajarin dan lo sebarin eh maksud gue yang udah lo sesatin ke orang-orang. Gue tetap kekeh sama prinsip gue, Orang yang nggak pede dengan namanya sendiri adalah sesampah-sesampahnya orang, dan kalau menurut gue bukan suatu alasan kalau seseorang selalu mendapatkan sial terus dia mengganti namanya.
Dan baiknya sampah itu nggak perlu kebanyakan kritik, ya kecuali sampah tersebut sudah didaur ulang. Ya kalau Bahasa jawa tuh “rak sah kakean CANGKEM”. Karena sampah itu tempatnya ya di tempat sampah dan nggak punya akses politik untuk mengemukakan kritik dan pendapatnya, ya mungkin karena pakai topeng sih jadinya orang-orang pada nggak ngira kalau orang tersebut adalah sampah.
Oiya ini Negara Demokrasi dan Indonesia sudah memasuki kebebasan pers dan ini blog gue sendiri dan Cuma gue empu di Blog ini. Berarti gue punya hak untuk mengkritik apa yang rasanya kalau menurut gue aneh dan layak untuk dikritik. J