Indonesia (masih) Miskin

by


Hmmm… Anies Baswedan pernah bilang gini :
“Cara berpikir yang mengatakan kekayaan bangsa adalah minyak, gas, tambang, adalah cara berpikir penjajah kolonial. Kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya.”
Tepat, sangat tepat. Gue bukan Pro Jokowi—walaupun pilpres gue mendukung dia karena beberapa alasan—bukan simpatisan mereka juga, tapi gue setuju dengan quote  Pak Anies. Berdasarkan kata-kata tersebut Pak Anies mengingatkan kalau mindset berfikir manusia Indonesia belum berubah-berubah. Kita selalu mengukur kekayaan bangsa Indonesia selalu dengan sumber daya alamnya. Memang nggak ada yang salah, tapi yang menjadi bahan perbincangan adalah kita kurang memperhatikan diri kita sendiri sebagai manusia. Alam memang penting, tapi kemampuan Manusia mengolah alam jauh lebih penting. Dengan tingginya kemampuan manusia, kita bisa mengolah ketersediaan alam dengan efisien dan optimal, dan perlu untuk diketahui ketersediaan alam Indonesia tidak kekal suatu saat ketersediaannya akan menipis dan habis. (Baca Tulisannya Pak Faisal Basri). Eksploitasi besar-besaran terus dilakukan tanpa pikir panjang kedepannya. Disinilah yang menjadi perdebatan serius.
Indonesia memang (masih) kaya jika kita ukur dengan ketersediaan sumber daya, namun jika kita ukur sesuai dengan quote-nya Pak Anies yaitu manusianya, Indonesia miskin, Indonesia masih miskin dan sangat miskin. Manusia Indonesia memang banyak, salah satu negara yang memiliki populasi manusia terbesar. Namun yang memprihatinkan adalah hanya sebagian kecil kaum berpendidikan dari jumlah populasi Indonesia. Sedangkan tidak semua kaum-kaum berpendidikan itu cerdas dan kritis. Hanya segelintir manusia Indonesia yang mendapatkan predikat kaum berpendidikan yang cerdas dan kritis.

Bahkan yang muncul ke permukaan adalah orang yang (mengaku) kritis namun tidak berpendidikan. Mahasiswa berdemo sampai bakar ban tanpa mengerti arti permasalahan yang sesungguhnya. Mahasiswa menjadi tukang kritik karena hanya perbedaan pendapat dan memusuhi rekannya sendiri. ALAY.
Itu merupakan ciri-ciri manusia Indonesia, dan mengapa gue melihat Indonesia masih miskin jika dilihat dengan manusianya. Manusia Indonesia masih mudah terprovokasi dengan media. Gara-gara pesta bodoh tanggal 9 juli 2014 kemarin, banyak orang yang menjadi fanatik buta baik untuk kubu 1 maupun kubu 2, saling menjatuhkan satu sama lain dan saling merasa bahwa kubu yang dipilihnya adalah kubu yang benar dan terbaik. Akhirnya yang ada adalah saling membenci satu sama lain padahal tidak mengerti. Inilah tanda manusia Indonesia masih miskin, masih bodoh. Yang perlu menjadi catatan adalah, mereka yang fanatik adalah mereka kaum berpendidikan, hampirnya kebanyakan mahasiswa yang lagi-lagi (mengaku) kritis tapi dengan cara fanatik buta.
Indonesia itu memperihatinkan, ada bahaya laten terhadap sumber daya alam kita yang akan terkuras habis, disisi yang lain manusia sebagai objek sekaligus subjek pembangunan lebih mementingkan ego-nya dibandingkan ancaman yang sedang terjadi. Manusia Indonesia sedang dalam kebodohan, pantas saja banyak pihak yang memiliki kekhawatiran mengenai datangnya masyarakat ekonomi asean.
Quote yang dilontarkan oleh Pak Anies tersebut bukan mencerminkan kekayaan bangsa Indonesia, tapi menunjukkan kalau bangsa Indonesia itu Miskin. Tidak ada yang menunjukkan manusia Indonesia itu kaya, tidak ada. Ditambah lagi pers media yang sudah tidak netral dalam memberitakan, sedangkan banyak sekali masyarakat Indonesia hidupnya terbatas dalam akses informasi.
Hal ini senada dengan yang diungkapkan Pidato Prof. Quraish Shihab dalam peluncuran buku putih Syiah. Beliau mengutip seorang penulis besar di Mesir, yang mengatakan bahwa Islam berada dalam kebodohan umatnya dalam ketidakmampuan ulamanya.
Mungkin hal tersebut bisa dijadikan contoh juga sebagai bukti Manusia Indonesia itu miskin. Jika kaitkan Islam di Indonesia sangat besar, namun kebanyakan dari mereka hidup dalam kebodohan. Coba ambil contoh sederhana, misalkan dalam kata “pasar”. Kata yang merupakan interpretasi murni dari persaingan yang adil dalam perekonomian namun bermakna konotatif dalam konteks negara Indonesia. Hampir kebanyakan seseorang memahami bahwa pasar adalah sinonim dari kapitalisme, dan kapitalisme merupakan produk orang-orang kafir. Ini contoh lain dari bodohnya bangsa Indonesia. Mengungkapkan sesuatu tanpa landasan apapun. Indonesia negara demokrasi yang bebas, setiap orang memiliki pendapat dan pendapatnya itu harus diaspirasikan tapi tiap kali Manusia Indonesia mendengar kata-kata "liberal" terus saja bermakna konotatif. Tidak pro rakyat lah, hanya memikirkan para kapitalis lah, padahal sebenarnya tidak mengerti. Juga seperti kata "filsafat", yang selalu identik dengan istilah "Atheisme", dan anehnya Atheis selalu dipandang buruk oleh manusia Indonesia. Banyak orang yang ber-Tuhan menyalahkan dan membodohkan orang-orang yang tidak ber-Tuhan. Salahkah mereka jika menjadi "Atheis" ? Kalau mereka salah kalian yang ber-Tuhan juga salah.
Mereka Atheis juga karena mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan lebih mendalam dan lebih kritis daripada mereka yang Theis. Sedangkan dengan mudahnya manusia Indonesia menganggap miring tentang Atheis tersebut. Inilah sebabnya Indonesia tidak maju dalam pengetahuan, bagaimana bisa untuk mengelola sumber daya alam yang jumlahnya besar namun dari kita sendiri saja membatasi pengetahuan diri kita sendiri, sedangkan kita sendiri yang membiarkan diri kita dalam kebodohan dan kemiskinan.
Sedihnya menjadi Manusia Indonesia. Semoga presiden Indonesia 5 tahun mendatang sadar akan miskinnya manusia Indoneisa.
Dua Quote terakhir :
“Don’t hate what you don’t understand.”
—John Lennon
“Tidak usahlah kau belajar hingga jauh mengarungi kedalaman tafsir dan hadits seperti MQS, toh akhirnya kau akan dituduh syi’ah.”
“Tidak usahlah kau ahli di bidang Mantiq dan Balaghah seperti Kyai Said Aqil Siroj, toh akhirnya kau akan dituduh sekuler.”
“Tak usahlah kau memiliki akhlak mulia hingga sangat santun dalam berbiacara, toleran kepada sesama dan kelompok minoritas, seperti buya safi’i maarif dan Gus Mus, toh akhirnya kamu akan dicap liberal.”
“Tak Usahlah kau belajar sains hingga jauh dan menjadi kritis terhadap dogma-dogma agama, seperti S. Hawking, toh akhirnya kamu akan dicap atheis.”
“Pakai saja jubah dan surban, maka kau akan dipanggil ustadz.”
“Pekikan saja takbir sambil menuding bid’ah, syi’ah dan kafir kepada sesama, maka kau akan dibilang ahli agama.”
“Cukuplah aku menjadi orang bodoh saja.”
—Akhmad Syakir Kurnia (Dosen IESP FEB Undip)