Hidup dalam Stigma Negatif itu Tidak Enak

by


Salah satu hal paling ngeselin di dunia ini ya seperti itu, terkadang kita harus menerima omongan orang terhadap kita yang padahal nggak seperti itu adanya. Kita selalu dipandang buruk gara-gara sesuatu yang sebenarnya kita nggak seperti apa yang diomongkan orang, giliran kita mencoba untuk membicarakan yang sesungguhnya dan sedetil-detilnya tentang diri kita, tapi orang lain tidak peduli. Ya namanya juga sudah ter-mindset. Bebas. Ini juga karena salah satu buruknya megeneralisasikan seseuatu yang belum tentu umum.
Contoh umumnya tuh, ketika orang islam dipandang teroris. Fenomena terorisme mulai akrab di liput media awalnya dari hancurnya gedung WTC di New York tahun 2001. Mulai dari situ banyak kalangan yang mulai penasaran dengan islam dan terorisme, dan kerap kali khalayak umum memberi kesimpulan kalau terorisme itu ulah dari orang islam. Sejak itulah, orang islam selalu dipandang buruk, teroris dan bodoh. Iya bodoh juga, karena sebagian besar umat islam hidup di negara-negara sedang berkembang, dan negara sedang berkemabng tidak jauh dari permasalahan kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Mungkin ada benarnya kalau ada sebagian warga islam yang terkait langsung dengan terorisme, tapi sekali lagi hanya sebagian. Tidak seluruhnya. Kan nggak enak kalau seperti itu. 

Analoginya seperti ini, ketika seorang anak memiliki ayah maling dan mantan narapidana, tapi anak tersebut memiliki jalan yang berbeda, dia orang baik sering ngaji dan rajin ke sekolah, tapi apa tanggapan yang sering terjadi di lingkungan ? “eh ada anak Napi eh ada anak Napi” Sumpah itu Sakit men. Sebisa-bisanya tuh anak bicara kalau anak tersebut tidak seperti ayahnya tetap aja orang lain tidak peduli, mereka hanya peduli kalau anak tersebut anak seorang napi. Hidup emang keras. Sama seperti umat islam sekeras apapun sebenar apapun, mereka nggak mau tau, mereka nggak peduli yang jelas islam itu teroris. Itu cukup buat mereka.

Sama juga seperti orang tionghoa yang selalu dipandang negatif di Indonesia, sama juga seperti orang yahudi, atau buddha, hindu sekalian. 

Contoh lain pada kasusu indonesia adalah orang yang terinfeksi HIV. Mereka selalu dilupakan dan dijauhkan semua orang. Mereka udah sakit tapi tidak ada yang menolong. Hanya gara-gara stigma negatif, dari perkataan satu orang bodoh kemudian disebarluaskan oleh orang bodoh lainnya, akhirnya menjadi sesuatu yang umum. Sama juga seperti ekonom, yang selalu memiliki stigma “pelit” pada khalayak umum. 

Ya setidaknya hal ngeselin tersebut gue pernah ngerasain. Gue “kesandung” di GM*I. Yang namanya kesandung mah kita nggak ngerti organisasi tersebut apaan, tapi nyatanya sudah masuk. Cerita sama temen kalau kesandung malah mendapat stigma negatif. Di mindset-in ini itu. Aktivis lah, tukang demo lah, anak politik lah. Mau diklarifikasi mereka udah nggak peduli, yah akhirnya cuma bisa diam dan nahan sakit. Mau gimana lagi, mereka nggak akan peduli sampai tua nanti juga nggak akan peduli sedetil apapun kita menjelaskan kalau kita tidak pro ke organisasi tersebut dan klarifikasi kalau kita kesandung. Karena yang mereka peduli cuma aris anak Gm*i. Yah biar Allah yang menjelaskan.