Ilmu Ekonomi, Ilmu yang Membuat Seseorang Menjadi Pelit ?

by


Ungkapan tersebut sangat tidak asing terucap. Hampir berbagai kalangan juga sering mengungkapkan kata-kata tersebut walaupun dengan bentuk pernyataan yang lain. Intinya banyak yang menganggap bahwa Ilmu Ekonomi membuat seseorang menjadi kikir, individualis, atau segala sesuatunya selalu diperhitungkan. Tapi tahukah kalian, walaupun ungkapan tersebut terkesan biasa saja, namun cukup menyakitkan hati bagi seseorang yang telah mendalami dan mengeksplorasi Ilmu Ekonomi.

Kenapa ?

Mungkin sedikit ada benarnya, namun karakter pelit bukanlah karakter yang ditanamkan dari Ilmu Ekonomi. Ilmu Ekonomi mengajarkan kepada yang mendalaminya terutama untuk berfikir rasional. Ilmu Ekonomi mengajari cara berperilaku secara efisien. Ilmu Ekonomi membentuk manusia lebih kritis terhadap apa yang benar-benar menjadi kebutuhannya daripada keinginannya. 

 Contoh :


Individu A dengan penghasilan 20 juta sebulan dikatakan pelit, karena lebih memilih makan ditempat makan yang relatif murah, katakan saja Warteg atau Nasi Padang, dibandingkan dengan restoran-restoran berlokasi di Mall, walaupun begitu dia tidak lupa untuk menyantuni 2,5% dari penghasilannya untuk fakir miskin. Sedangkan Individu B yang berpenghasilan hanya 4 juta sebulan berani untuk mengkonsumsi makanan ditempat-tempat mawah namun sering kali lupa akan hak kaum fakir miskin.

Apakah individu A dikatakan layak untuk dikatakan pelit dalam pengalokasikan penghasilannya ? Tidak. Individu A rasional dalam membelanjakan uangnya. Walaupun hal ini terkait preferensi masing-masing individu, tapi sudah sangat jelas individu A sudah melakukan kegiatan belanja sesuai dengan konsep ekonomi. Bisa jadi sebagian dari penghasilannya dia investasikan kembali pada bidang tertentu. Sedangkan untuk Individu B, yang hanya berpenghasilan se per lima dari individu B sering kali makan-makan di tempat mewah. Jika kita membandingkan kedua Individu tersebut dimana Individu A sebagai ukurannya, tentunya individu B sangat tidak rasional dalam mengalokasikan barangnya, dan lebih berperilaku hedon dibandingkan “melihat kebawah” dan tentunya Individu B sangat tidak ekonomis. 

Terlepas dari kedua hal tersebut kembali lagi ke preferensi masing-masing individu. Perumpamaan diatas setidaknya menjelaskan bahwa Ilmu Ekonomi membantu seseorang untuk berperilaku ekonomi yang rasional. Tapi pada kasus yang lain juga Individu B bisa saja terdapat motif non ekonomi ketika dia makan di tempat yang mewah. Dalam teori ekonomi khususnya bidang kelembagaan juga terdapat istilah “Conspicious Consumption” dimana orang-orang berlomba untuk mengkonsumsi suatu barang yang digunakan untuk pamer. Sehingga dengan mengkonsumsi suatu barang, seseorang tersebut mendapatkan kagum dari orang yang lain. Walaupun ini tertulis dalam teoi ekonomi, namun tetap saja pola konsumsi tersebut tidak berlandaskan kerasionalitas seseorang yang diukur secara finansial.—tapi mengukur kerasionalitas secara “gengsi”.

Dan satu hal lagi yang perlu dicatat adalah bahwa ilmu ekonomi membantu seseorang peka terhadap fenomena sosial yang ada. Problematika kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran merupakan problematika umum yang dihadapi semua negara, dan ketiga problematika tersebut bermuara pada Ilmu Ekonomi. Perlu kalian ketahui, Ilmu ekonomi adalah cabang ilmu humaniora pertama yang memikirkan secara langsung problematika kemiskinan. Hal ini menandakan ilmu ekonomi tidak hanya membuat orang menjadi pelit saja seperti yang dikatakan orang-orang awam. Tapi ilmu ekonomi memberikan suatu tanggung jawab kepada yang mendalaminya berupa perumusan kebijakan untuk menanggulangi problematika kemiskinan dan ketimpangan.

Penanganan kemiskinan tidak akan tercapai sebelum para ekonom memiliki kepekaan terlebih dahulu akan besarnya dan bahayanya masalah kemiskinan, selanjutnya baru perumusan kebijakan ekonomi dari para ekonom di tunggu. Beginilah dilema menjadi ekonom, kebijakannya selalau dibutuhkan namun terkadang diacuhkan dan selalu ada sentimen negatif karena mindset orang awam yang mengemukakan bahwa “ilmu ekonomi membuat orang pelit.”
*Sakitnya tuh disini* *megang Dada*

Jadi, Ilmu Ekonomi masih membuat orang menjadi pelit ? tolong pikirkan kembali. :)

Quote inspirasi :
            “Mana yang benar, makan untuk hidup atau hidup untuk makan ? Silahkan pilih.”
            —Prof. Dr. FX Sugiyanto. S.E., M.Si (Pak Gik)