Ilmu Ekonomi, Wanita & Musik

by

Mau bagaimanapun, dan tidak bisa dipungkiri lagi, Ilmu Ekonomi merupakan cabang ilmu sosial atau humaniora. Setiap ilmu memiliki tujuan, dan sesuai dengan cabangnya, sebagai pelabelan ilmu humaniora, Ilmu Ekonomi tidak lepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi manusia terkait bidang ekonomi. Baik secara mikro maupun makro. Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi memang berkembang sangat pesat, menjadi sangat eksklusif tersendiri jika dibandingkan cabang ilmu ekonomi lainnya. Keterampilan matematika yang kemudian ilmu dikombinasikan didalam teori ekonomi hingga menjadi suatu sub cabang tersendiri, yakni Ekonometrika. Ada juga bagian-bagian keterampilan kecil yang termaktub dalam ilmu ekonomi sekarang sudah memiliki pondasi ilmu sendiri. Katakanlah Ilmu Manajemen dan Akuntansi.
Semuanya seakan-akan ilmu ekonomi memiliki ego yang sangat tinggi dalam perkembangannya dan menunjukkan kepada dunia kalau dunia ekonomi itu eksklusif. Hmmm sebenarnya hal ini bisa dijadikan kebanggaan atau bisa jadi blunder. Ke-“ego”-an dalam ilmu ekonomi khususnya ekonomi terapan, memperluas khasanah ilmu pengetahuan, dan memiliki penjelasan yang lebih mendalam pada suatu bidang tertentu. Tapi yang perlu menjadi catatan disini adalah ilmu ekonomi sebagai ilmu humaniora secara tidak langsung melupakan aspek-aspek penting sebagai pembentuk kajian ekonomi. Semenjak The Wealth of Nation-nya Adam Smith, ilmu ekonomi mulai berdiri sendiri dan kian menjadi populer dewasa ini. Apapun itu Ilmu Ekonomi kodratnya adalah ilmu humaniora yang tidak bisa berdiri sendiri dalam kajian-kajiannya. Wawasan mengenati filsafat, sosial, politik, sosiologi, antropologi maupun agama sekalipun sangat membantu ilmu ekonomi menjadi populer hingga dewasa ini.

Ilmu Ekonomi memang eksklusif, tapi itu bukan alasan untuk membuat ilmu ekonomi menjadi sombong dan melupakan aspek lain. Disinilah “blunder” yang terjadi. Data-data kuantitatif, uang-uang dalam jumlah besar, kurs mata uang dan tingkat bunga yang tinggi, tidak lain hanya penerapan dalam faedah yang diajarkan dalam ilmu ekonomi.
Matematika memang memperkaya kajian dalam ilmu ekonomi, tapi ilmu sosial membuat kajian ilmu ekonomi menjadi lebih mendalam. Disinilah Istimewanya ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi juga merupakan kajian filsafat mini dalam ilmu humaniora.
Jika dianalogikan Ilmu Ekonomi seperti perjuangan kaum wanita dalam emansipasinya. Hmmm pada mulanya ilmu ekonomi termasuk dalam pelajaran moral dan etika sebelum Adam Smith mempopulerkan The Wealth of Nation. Sama seperti wanita yang mulai diakui peranannya dewasa ini, bahwa wanita juga punya andil tersendiri dalam perubahan dunia. Hingga saat ini sudah banyak tokoh-tokoh wanita hebat menghiasi peradaban dunia saat ini. Pun begitu, wanita hanyalah seorang wanita. Tidak salah jika wanita memperjuangkan haknya dalam emansipasi wanita dengan catatan tidak melupakan kodrat fitrahnya sebagai wanita.
Pendidikan yang tinggi pada kaum wanita tetap dinilai penting dalam meningkatkan pendidikan dan kesehatan buah hatinya.
Bukan berarti juga ilmu ekonomi itu wanita, yang dikhawatirkan adalah ketika ilmu ekonomi terbang bebas dalam keegoannya yang eksklusif, tapi ilmu ekonomi lupa bahwa ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu humaniora. Berbagai penelitiannya dan kajian untuk kebijakannya dibutuhkan untuk kehidupan orang banyak dalam berbagai dimensi. Kembali ke fitrahnya lagi, ilmu ekonomi tetaplah ilmu ekonomi, yang walaupun memiliki kajian matematika sederhana namun yang terutama adalah manusianya dalam objek kajiannya.
Analogi kedua adalah jika ilmu ekonomi dibandingkan dengan musik. Yang saat ini musik sangat berkembang pesat. Musik sebagai salah seni yang paling banyak digemari oleh khalayak umum dibandingkan karya seni – karya seni lainnya. Namun sepertinya musik saat ini sudah lebih mengedepankan kemampuan bermain instrumen dan penggunaan teknologi dalam menciptakan suatu karya seni musik. Sekali lagi tidak ada salahnya. Yang perlu dijadikan catatan disini adalah Musik itu Seni. Kemampuan bermain instrumen itu hanya sebuah keterampilan. Kita tidak harus hebat dalam memainkan instrumen namun yang perlu ditanamkan adalah jiwa seni itu sendiri. Seni memang biasanya turunan dari pendahulunya, segala sesuatu didunia ini dapat ditanamkan. Jiwa seni seseorang akan terlihat dari attitude-nya dalam bermusik. Tidak perlu unjuk skill, kalau kita hebat memainkan instrumen. Karena itu adalah (maaf) “Alay”. Musik seperti kehilangan jati dirinya sebagai seni, hal ini diakibatkan karena musik sudah dirusak oleh para hipster baik secara mikro maupun makro. Sebut saja Dream Theater (gue nggak suka). Apakah dengan kemampuan instrumen mereka, Dream Theater pantas disebut legenda. Mungkin iya, jika hipster yang menjawab. Tapi apakah layak Dream Theater disandingkan dengan jagoan-jagoan musik terutama tahun 60-an. Satu saja deh Bob Dylan. (kebetulan lagi dengerin lagu-lagu Bob Dylan)
Bob Dylan adalah salah satu orang hebat dalam perkembangan musik dunia yang meletakan salah satu roots dalam musik-musik saat ini, dan memberikan panduan attitude dalam bermusik dimana musik sebagai karya seni. Sama seperti ilmu ekonomi, musik sangat terkait dengan fenomena-fenomena sosial. Contohnya lagu Imagine yang didengungkan oleh John Lennon yang sangat terkait dengan isu perdamaian dimana saat itu perdamaian didunia sedang dipertanyakan keberadaannya. Musik juga tidak lepas dari fenomena politik, sosial, budaya, filsafat, sastra dan ilmu ekonomi itu sendiri. Musik dan seni memang mirip bahkan bisa dikatakan persis. Musik membutuhkan instrumen yaitu alat musik, dan ilmu ekonomi membutuhkan instrumen yaitu ekonometrika dan alat analisisnya.
Namun keduanya rentan “diblunderkan” oleh intrumen-nya sendiri dan attitude yang idealis tapi terkesan pragmatis.
Ada quote menarik,
“Tuhan menciptakan wanita dengan begitu berharganya namun terkadang wanita lupa akan betapa berharga dirinya.”
Quote itu sejatinya relevan juga baik untuk ilmu ekonomi dan musik.
“Tuhan menciptakan “Seni Musik” dengan begitu berharganya namun terkadang “Seni Musik” lupa akan betapa berharga dirinya.”
“Tuhan menciptakan “Ilmu Ekonomi” dengan begitu berharganya namun terkadang “Ilmu Ekonomi” lupa akan betapa berharga dirinya.”
“Sebenarnya agak sedikit curhatan gara-gara skripsi yang tak kunjung usai dan selalu dituntut mengerti Matematika” #sesekali