Tapal Batas Status Quo

by

Nuansa sendu, suram, kini kian tergantikan dengan suasana cerah, penuh harapan dan kegembiraan. Pergantian nuansa tersebut tidak terjadi begitu saja. Selalu ada upaya untuk perubahan. Sekecil apapun perubahan, memerlukan upaya untuk berontak dari keinginan kaum minoritas untuk mempertahankan status quo. Pramoedya pernah bilang, seseorang terpelajar harus adil sejak dalam pikira. Kalau boleh dimodifikasi, berlaku inklusif juga harus dimulai sejak dalam pikiran.
Setiap hati kecil seseorang menginginkan perubahan, namun keinginan tersebut pupus sendirinya karena pikiran seseorang yang sudah terlanjur menikmati status quo dan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya. Akhirnya perubahan yang didambakan tidak pernah terjadi.
Mungkin motto Kant, bisa dipraktikan, yakni, Sapere Aude! Intinya berani berpikir diatas pemikiran sendiri. Terkadang manusia menginginkan kebebasan, namun ironi yang terjadi adalah manusia sendiri lah yang membatasi kebebasan mereka. Mereka sendiri yang menutup rapat dari perubahan yang terjadi disekitarnya, sehingga perubahan yang diinginkan tidak pernah terjadi.

Hingga akhirnya yang dapat melakukan perubahan hanyalah orang-orang yang berani. Mereka yang berani keluar dari keterikatan norma-norma, berani berontak atas aturan yang berlaku, berani menjadi lebih bijak, dan berani untuk dewasa. Pikiran yang inklusif atau ekstraktif sendiri mencerminkan kedewasaan seseorang.
Bahayanya adalah bagaimana seseorang kekanak-kanakan memimpin suatu bangsa?

~ Nggak sabar dapat gelar S.E. :(