Selfish dan Ilmu Ekonomi

by

Sebelumnya gue pernah menulis tentang kodrat ilmu ekonomi. Mari kita sedikit review, intinya ilmu ekonomi merupakan merupakan ilmu sosial/humaniora. Manusia sebagai objek dari berbagai kajian ilmu ekonomi. Serumit apapun itu model matematika dan model ekonometrika, dan kerumitan berbagai analisis data dari ilmu statistik tidak akan sanggup merubah kodrat ilmu ekonomi sebagai salah satu ilmu sosial. Se“tomboy-tomboy”nya perempuan pun tidak akan merubah dia sebagai laki-laki. 

Oleh karena itu, dalam perumusan kebijakan mengenai ilmu konomi, harus dimulai dengan kepekaan. ekonom harus peka terhadap lingkungan sosial. Bukan berarti mengarah golongan “kiri” (baca: Sosialisme), namun lebih melihat bagaimana seorang ekonom menjawab/mencari jawaban mengenai problematika ekonomi, tidak hanya mendahulukan sifat selfish-nya. Sebab jika dalam perumusan kebijakan ekonomi, lebih mengedepankan kompetisi diantara para ekonom dan memiliki tingkat selfish yang tinggi maka yang dikhawatirkan berbagai kebijakan ekonomi yang dirumuskan akan salah sasaran atau keliru. Perlu ditekankan lagi, bahwa kodrat ilmu ekonomi adalah ilmu sosial/humaniora, maka kebijakan yang salah sasaran atau keliru 250 juta orang Indonesia yang menanggung kerugian.

Bentuk selfish tersebut sangat beragam, namun secara internal mengapa ekonom menjadi selfish adalah mungkin karena ekonom tersebut lebih mendahulukan kejayaan untuk mereka sendiri dibandingkan dalam mencari jawaban mengenai problematika ekonomi. Hal tersebut yang memancing kompetisi diantara para ekonom, dan hanya berusaha menjadi yang terbaik. Tapi apalah artinya seorang ekonom yang hebat sekalipun dalam hal akademik dan mampu memenangi berbagai perlombaan karya ilmiah namun tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosialnya sendiri. Kaum yang seperti itu, ketika mereka membicarakan ketimpangan, maka usul yang mereka tawarkan dapat menjadi bias, karena attitude mereka pun yang lebih mengejar untuk kejayaan diri mereka sendiri dan acuh terhadap lingkungan sekitar yang masih terlelap dalam kebodohan. Apakah yang seperti itu layak memberikan perumusan dalam kebijakan ? Mereka mungkin kaum berpendidikan namun tidak tercerahkan. 

Sementara itu, faktor eksternal yang membuat ekonom menjadi selfish, adalah tidak lepas dari aspek politik yang mempengaruhi para ekonom. Akan sangat berbahaya jika kebijakan-kebijakan yang dirumuskan para ekonom terdapat kepentingan-kepentingan tertentu. Tentunya hal tersebut akan sangat merugikan rakyat, khususnya rakyat Indonesia. 

Jadi, untuk apa teori-teori ilmu ekonomi yang kita dapatkan namun kita hanya mengejar kejayaan sendiri ? Sementara itu kita acuh dan membiarkan mereka tetap dalam kebodohan. Karena, sesungguhnya ilmu ekonomi tidak hanya berisi teori, namun seperangkat teori (termasuk didalamnya aspek politik, aspek sosial, aspek kebudayaan, geografis dan historis dan aspek lainnya yang mempengaruhi), attitude mengenai cara berpikir, bertindak dan melatih kepekaan, serta kajian matematika, statistika, dan ekonometrika yang turut mewarnai ilmu ekonomi menjadi lebih indah. So, jika para ekonom masih mendahulukan kejayaan, untuk apakah ilmu ekonomi yang telah didapatkan ?  

Jadi, satu hal yang harus dimiliki para ekonom adalah kepekaan, namun kepekaan tidak akan datang jika ekonom tidak tercerahkan. Kondisi tercerahkan sangat penting. Seorang ekonom akan sulit merumuskan kebijakan-kebijakan yang adil dan inklusif jika tidak tercerahkan. 


Karena jika kebijakan Ekonomi salah, maka 250 juta rakyat Indonesia yang terkena dampaknya.
~ Dr. Denny Puspa Purbasari, MSc. (Ekonom UGM Yogyakarta)