and Once Again, Do Not Judge The Book by its Cover!

by

Ada yang bilang gini:
“kalau kita menjadi orang lain, maka identitas diri kita akan hilang.”
Yap, gue pastinya setuju dengan pernyataan tersebut. Tapi, karena emang dunia ini panggung sandiwara dan seiring berkembangnya zaman, suka atau tidak suka, banyak juga indentitas kita sebagai individu yang seutuhnya menghilang. Gue menduga rahasia umum tersebut terjadi karena ada satu faktor utama. Hmm... dugaan gue adalah karena keinginan manusia ingin dipuja sehingga tidak tanggung-tanggung mereka menjadi apapun dan mengorbankan apapun untuk mendapatkan pujaan. Sangat perlu untuk diketahui, bahwa fenomena perilaku tersebut terlah di prediksi oleh ekonom Amerika sebelum terjadinya depresi besar yakni, Veblen (Kritikus pemikiran Neoklasi disaat berkembang-berkembangnya). Salah satu pengamatan empiris beliau adalah bahwa manusia—khususnya konsumen—cenderung tidak rasional dalam kegiatan ekonominya. Veblen mengemukakan bahwa manusia tidak selalu berlandaskan ekonomi dalam bertindak, namun lebih keinginan pengakuan mereka sebagai manusia yang eksis. Dan kalau boleh gue menambahkan kecenderungan tersebut membuat manusia hidup dalam kehampaan, karena dengan semakin diakuinya mereka akan semakin dipujanya mereka, dengan demikian tujuan hidup mereka pun tercapai.

Gue nggak patut menyalahkan kalau keinginan untuk dipuja itu salah, bahkan orang lain menurut gue pun tidak patut menyalahkan, karena kecenderungan tersebut adalah manusiawi. Sesuatu yang gue khawatirkan dan gue benci adalah proses mereka dalam mendapatkan pemujaan tersebut. Jalan pintasnya adalah menjadi karakter yang lain. Ada seseorang yang terlihat sangat baik, namun memiliki sisi devil yang orang lain tidak tahu. Kaum-kaum seperti mereka sangat baik dalam memakai “topeng karakter” sehingga orang lain meskipun teman dekatnya tidak dapat melihatnya wajah sesungguhnya. Ya namanya juga ingin dipuja. Ada seseorang yang terlalu memarkan apa yang dia punya, entah itu pengetahuan, ataupun kekayaan. Tapi yang jadi permasalahan adalah apa yang dia pamerkan terlalu berlebihan dibandingkan apa yang sesungguhnya yang mereka miliki. Ya namanya juga ingin dipuja. Ada lagi orang yang sebenarnya tidak suka, tapi sok-sok suka. Ya namanya juga ingin dipuja.
Jadi intinya seperti ini, gue memiliki pemahaman yang sedikit berbeda dengan veblen. Kalau menurut gue bukannya manusia yang cenderung tidak rasional, tapi nilai-nilai rasional yang mulai bergeser tidak hanya pada aspek ekonomi, namun pada aspek sosial, politik dan budaya yang mempengaruhi kegiatan ekonomi.
Mereka yang ingin dipuja merupakan hasil tertentu dari pengorbanan-pengorbanan yang telah mereka keluarkan. Mereka bersedia untuk menjadi seseorang dari antah berantah dengan harapan akan mendapatkan sesuatu pengakuan yang lebih luas dibandingkan dengan menjadi dirinya sendiri. Setiap produksi usaha pasti ada eksternalitasnya. Begitu juga dengan usaha pemujaan, mereka pengakuan yang mereka dapatkan sesungguhnya semu karena yang mereka puja adalah diri kita yang lain bukan yang sebenarnya. Bahanya adalah seiring berkembangnya zaman, seakan-akan pengakuan merupakan kebutuhan utama dan menjadi orang lain adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan pengakuan. Dengan demikian manusia sebagai individu yang mandiri seolah-olah seperti perusahaan dan perebutan pengakuan seolah-olah adalah share market. Perusahaan akan berkompetisi untuk mendapatkan market share. Sementara itu manusia berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan. Oleh sebab itu, carilah sahabat sesungguhnya sebagai teman cerita tentang bagaimana kia menghadapi dunia ini dan kita tidak tahu apa yang ada dipikirkan orang lain dan tidak tahu sesuatu transparan yang melindungi wajahnya. Oleh karena itu janganlah lihat buku dari cover­­­-nya, karena setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk, dan yang baik tidak sepenuhnya baik dan yang buruk tidak selalu buruk.
Berpenampilan menarik itu perlu, menjadi orang lain tidak.
~ Sam Bodo