Archive for July 2015

(Masih) Karena Korupsi ?

Kemarin-kemarin sempat heboh di media elektronik mengenai jembatan yang sudah mulai rubuh dan putus di Kabupaten Lebak, Banten. Sekilas dilihat jembatan tersebut relatif panjang, dan sangat tinggi. Jembatan tersebut seperti nadi di dalam tubuh manusia yang mengalirkan darah dari jantung ke bagian dalam tubuh lainnya. Sehingga dapat dikatakan jembatan tersebut sangat penting dalam kehidupan kedua desa yang terhubung tersebut. Walaupun hanya sekedar fasilitas penghubung, tapi dampak negatif yang dirasakan sangat besar, dan gue yakin itu. Sangat menghambat anak kecil yang ingin pergi kesekolah, bahkan sempat diberitakan ada siswa SD yang terjatuh dari jembatan tersebut.

Coba deh dibayangkan, anak kecil, Ingin sekolah aja hambatannya complicated sekali. Belum lagi bagi para kaum produktif diantara kedua desa tersebut dimana dapat menghambat kegiatan pencarian nafkahnya. Hampir dapat dipastikan jika jembatan tersebut dibiarkan seperti itu pastinya akan membuat salah satu desa terisolasi, ya pastinya pembangunan jadi tersendat. Untuk sekedar info, jembatan kayu yang telah putus tersebut, sebelumnya juga mengizinkan kendaraan bermotor bebas melewati jembatan tersebut, dan katanya jembatan tersebut sudah ada atau beroperasi sejak tahun 1960-an.

Menurut gue kalau sampai sepeda motor melewati jembatan tersebut itu adalah kegilaan. Mereka tidak berfikir panjang untuk keselamatan dirinya dan keselamatan antara dua desa tersebut. Mungkin bisa dibilang hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tapi yang terpenting dari poin ini bukan “kegilaan” tersebut. Mungkin saja memang sudah kebutuhan zaman sekarang, yang dituntut untuk memiliki mobilitas yang lebih cepat, sehingga para pengguna jembatan rela melakukan “kegilaan” tersebut. Kalau alasannya seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin hanya jembatan tersebut satu-satunya akses yang bisa dilewati. Poin utama yang perlu digarisbawahi adalah siapa yang tidak peka atau pura-pura tidak peka terhadap “kegilaan” tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Skripsi temen gue, Provinsi Banten termasuk dalam kondisi daerah tertinggal. Ya jelas aja, sampai sekarang masih banyak daerah-daerah yang terisolasi, dan suku badui-nya masih kental. Namun yang gue sesalkan adalah masih kentalnya suku badui di Provinsi Banten selalu disebut-sebut sebagai keberagaman budaya. Menurut gue itu omong kosong belaka, karena menurut gue fenomena seperti itu adalah contoh pembangunan yang tidak meretas sampai kebawah (Trickle Down Effect).

Read more »

Percaya Atau Kenyataan ? Awas Ada Black Hole!

Kamis kemarin, saya sempat wawancara dengan petinggi di kemenko bidang ekonomi makro dan keuangan. Mungkin dia sendiri Deputi I. Sempat gugup, karena sudah lama juga tidak me­-review tentang perkuliahan, sehingga ketika ditanya mengenai “ekonomi pembangunan, ekonomi publik, ekonomi moneter itu apa saja yang dipelajari?” Dari awal wawancara gue emang nggak terlalu berharap. Diterima Alhamdulillah, nggak lolos ya yaudah, belum rezeki dan bahkan gue cukup bersyukur karena sudah mendapatkan kesempatan untuk wawancara.
Pas waktu wawancara kemarin ada sesuatu yang menarik, pewawancara menanyakan sesuatu yang menjebak. Pertanyaan seperti ini “Dalam menyusun sesuatu, sudut pandang manakah yang harus dimulai, percaya atau kenyataan?” Jujur sempat kaget ditanya seperti itu, tapi gue berani dengan lantang dan tetap senyum, menjawab “percaya”. Seketika pewawancara membantai habis gue dengan logika Strawman Fallacy-nya, “Kalau seperti itu, berarti hasil dari penelitian kamu bisa tidak valid dong, kamu mengutak-atik segala macam agar semua hasilnya bisa sesuai dengan yang kamu percayai.” Kesal sebenarnya ditikam seperti itu, tapi gue tetap jawab dengan argumentasi gue dan mengklarifikasikan mengapa gue lebih memilih “percaya” daripada “kenyataan”. Panjang lebar gue jelasin alasan gue juga dengan cara yang tidak ambisius.

Read more »