(Masih) Karena Korupsi ?

by

Kemarin-kemarin sempat heboh di media elektronik mengenai jembatan yang sudah mulai rubuh dan putus di Kabupaten Lebak, Banten. Sekilas dilihat jembatan tersebut relatif panjang, dan sangat tinggi. Jembatan tersebut seperti nadi di dalam tubuh manusia yang mengalirkan darah dari jantung ke bagian dalam tubuh lainnya. Sehingga dapat dikatakan jembatan tersebut sangat penting dalam kehidupan kedua desa yang terhubung tersebut. Walaupun hanya sekedar fasilitas penghubung, tapi dampak negatif yang dirasakan sangat besar, dan gue yakin itu. Sangat menghambat anak kecil yang ingin pergi kesekolah, bahkan sempat diberitakan ada siswa SD yang terjatuh dari jembatan tersebut.

Coba deh dibayangkan, anak kecil, Ingin sekolah aja hambatannya complicated sekali. Belum lagi bagi para kaum produktif diantara kedua desa tersebut dimana dapat menghambat kegiatan pencarian nafkahnya. Hampir dapat dipastikan jika jembatan tersebut dibiarkan seperti itu pastinya akan membuat salah satu desa terisolasi, ya pastinya pembangunan jadi tersendat. Untuk sekedar info, jembatan kayu yang telah putus tersebut, sebelumnya juga mengizinkan kendaraan bermotor bebas melewati jembatan tersebut, dan katanya jembatan tersebut sudah ada atau beroperasi sejak tahun 1960-an.

Menurut gue kalau sampai sepeda motor melewati jembatan tersebut itu adalah kegilaan. Mereka tidak berfikir panjang untuk keselamatan dirinya dan keselamatan antara dua desa tersebut. Mungkin bisa dibilang hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tapi yang terpenting dari poin ini bukan “kegilaan” tersebut. Mungkin saja memang sudah kebutuhan zaman sekarang, yang dituntut untuk memiliki mobilitas yang lebih cepat, sehingga para pengguna jembatan rela melakukan “kegilaan” tersebut. Kalau alasannya seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin hanya jembatan tersebut satu-satunya akses yang bisa dilewati. Poin utama yang perlu digarisbawahi adalah siapa yang tidak peka atau pura-pura tidak peka terhadap “kegilaan” tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Skripsi temen gue, Provinsi Banten termasuk dalam kondisi daerah tertinggal. Ya jelas aja, sampai sekarang masih banyak daerah-daerah yang terisolasi, dan suku badui-nya masih kental. Namun yang gue sesalkan adalah masih kentalnya suku badui di Provinsi Banten selalu disebut-sebut sebagai keberagaman budaya. Menurut gue itu omong kosong belaka, karena menurut gue fenomena seperti itu adalah contoh pembangunan yang tidak meretas sampai kebawah (Trickle Down Effect).

Ya salah satu contohnya adalah kondisi jembatan di Kabupaten Lebak yang dijelaskan di paragraf awal. Padahal di Kabupaten Serang, Ibukota Provinsi Banten atau Tanggerang, kehidupan modern sudah dapat dinikmati, perputaran ekonomi baik di Serang maupun di Tanggerang relatif cepat jika dibandingkan dengan Kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Banten. Mungkin kita bisa menganalisis bahwa terdapat keuntungan lokasi yang sangat jelas dimiliki oleh Kota Tanggerang, yakni dekat dengan Ibu Kota Indonesia, Jakarta jika dibandingkan Kabupaten Lebak yang sangat jauh akses bahkan untuk ke Kota Serang. Namun, gue meyakini bukan itu sebab utamanya yang menyebabkan banyak Kabupaten di Provinsi Banten tertinggal. Tapi karena ada sesuatu oknum atau aparat yang secara terus terang membiarkan Provinsi Banten masih dalam keadaan tertinggal. Banyak sekali jalanan rusak di Provinsi tersebut, kondisi infrastruktur yang tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan ekonmi, sehingga aktivitas ekonomi dinilai sangat rendah.

Investasi infrastruktur sangat penting dalam pembangunan ekonomi, terlebih Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang. Investasi infrastruktur pastinya akan memiliki multiplier effect yang sangat besar terhadap perekonomian. Dengan tersedianya infrastruktur kegiatan ekonomi akan meningkat, sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan usahanya, terlebih Provinsi Banten memiliki berbagai objek wisata alam yang menarik, tentunya hal tersebut dapat menjadikan daya tarik bagi para investor serta menjadi salah satu ikon pada Provinsi Banten. Oleh karena itu, sangat diperlukannya pembenahan besar-besaran pada infrastruktur di Provinsi tersebut, terutama daerah pedalaman yang memiliki jalur menuju tujuan wisata, dengan begitu pemerintah dapat menggandeng wisata untuk ikut andil dalam pembangunan Provinsi Banten.

Namun, pembangunan untuk infrastruktur nyatanya adalah sesuatu yang selalu dipikirkan berulang-ulang. Gue yakin, nggak hanya gue yang memikirkan hal ini. Semua orang pun memikirkan hal ini, juga gue yakin orang lain sudah memikirkan hal ini bertahun-tahun. Tidak hanya untuk ukuran akademisi, tapi semua orang dewasa pun pastinya setuju akan pentingnya infrastruktur, dan termasuk juga PEMERINTAH.

Sangat tidak mungkin rasanya, pemerintah berkata infrastruktur itu tidak penting. Justru investasi infrastruktur berawal dari komitmen pemerintah dalam pembangunan ekonomi. Pemerintah lah sebagai garda terdepan dalam pembangunan infrastruktur, karena kesemuanya harusnya tercatat pada visi misi mereka ketika menjabat.

Hal inilah “kegilaan” dimulai. Seperti tercatat pada paragraf sebelumnya bahwa Provinsi Banten merupakan salah satu Provinsi terbelakang, bahkan jembatan gantung di Kabupaten Lebak dari tahun 1960-an pun dibiarkan sampai putus. Akan tetapi di Provinsi Banten juga korupsi gila-gilaan terjadi, salah satu tokoh utamanya adalah Gubernur Banten itu sendiri, Ratu Atut. Ditengah-tengah keterbelakangan Provinsi yang dipimpinnya mereka dapat hidup dengan kemegahan dan kekayaan yang luar biasa. Kalau seperti itu bagaimana Provinsi Banten bisa maju, kalau dari pemimpinnya sendiri tidak ada kepekaan terhadap daerahnya, yang ada justru ketidakpedulian. Kesejahteraan diri sendiri dan kerabatnya yang prioritas bukan kesejahteraan penduduk Provinsi Banten. Secara tidak langsung, kondisi seperti ini tertuang dalam buku Mengapa Negara Gagal karangan Acemoglu dan Robinson. Secara umum mereka berpendapat bahwa politik yang semakin absolut akan menciptakan kondisi institusi yang semakin ekstraktif sehingga pembangunan di suatu daerah menjadi tersendat. Lebih lanjut mereka mengemukakan bahwa kondisi seperti itu merupakan kondisi yang nyaman untuk rezim yang berkuasa, sehingga dengan sedemikian mungkin rezim yang berkuasa pun akan mati-matian mempertahankan status quo.

Kalau memang seperti itu kondisi yang dialami Provinsi Banten, sampai kapan pun Banten akan terus berada dalam keterbelakangan. Coba sekali lagi dibayangin, seberapa mahal sih membangun jembatan aspal yang menghubungkan dua desa di Kabupaten Lebak tersebut. Kalau ada warganya yang rela melakukan “kegilaan” dengan melewati jembatan dengan sepeda motor, berarti itu tandanya  jembatan itu sangat penting sebagai sendi kehidupan kedua desa tersebut. Masa dari tahun 1960-an Jembatan tersebut masih aja jembatan gantung kayu, bahkan saat ini jembatan sudah semakin lapuk dan rapuh, dan sudah putus. Semahal apa sih emangnya, buktinya mobil-mobil Ratu Atut aja mewah-mewah. Berarti kan yang disini yang salah bukan pengguna jembatannya, tapi justru pemerintahannya. Mengapa kegiatan tersebut dibiarkan berlarut-larut. Jangankan untuk pembangunan sekolah yang layak, jembatan untuk akses sekolah anak aja tidak diperbaiki. Ya kalau Status Quo dibiarkan terus, pastinya pembangunan yang meretas sampai kebawah tidak akan terjadi, kemiskinan akan tetap tinggi kesenjangan akan semakin tinggi, dan kembali lagi pembangunan menjadi tersendat atau mungkin terhenti. Yeah, pada akhirnya kembali lagi salah Rezim-nya. Mengapa ? ya Karena Rezim-nya mengemban tugas yang sangat besar tetapi tidak dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya, pembangunan bukan menjadi prioritasnya tapi kesejahteraan diri sendiri yang menjadi tujuan utamanya dalam mengemban tugas. Akan sangat berbahaya praktik-praktik korupsi dibiarkan terus ada, akses-akses atau celah-celah untuk korupsi dibiarkan terus ada, sehingga terjadi proses “penawaran korupsi”. Sesuatu yang paling mengkhawatirkan adalah ketika hukum J.B. Say yakni “supply create its own demand” berlaku pada penawaran korupsi, sehingga karena institusinya yang sangat ekstraktif,  kemiskinan dan kesenjangan akan terus dibiarkan ada.

NB : gue psimis fenomena tersebut hanya terjadi di Provinsi Banten. Hingga pada akhirnya kembali pada fenomena korupsi, semoga ini Cuma ada di pikiran aja,

Quote :
“Ayam dulu apa telur dulu ? Korupsi itu membudaya atau dibudidayakan ?”