Percaya Atau Kenyataan ? Awas Ada Black Hole!

by

Kamis kemarin, saya sempat wawancara dengan petinggi di kemenko bidang ekonomi makro dan keuangan. Mungkin dia sendiri Deputi I. Sempat gugup, karena sudah lama juga tidak me­-review tentang perkuliahan, sehingga ketika ditanya mengenai “ekonomi pembangunan, ekonomi publik, ekonomi moneter itu apa saja yang dipelajari?” Dari awal wawancara gue emang nggak terlalu berharap. Diterima Alhamdulillah, nggak lolos ya yaudah, belum rezeki dan bahkan gue cukup bersyukur karena sudah mendapatkan kesempatan untuk wawancara.
Pas waktu wawancara kemarin ada sesuatu yang menarik, pewawancara menanyakan sesuatu yang menjebak. Pertanyaan seperti ini “Dalam menyusun sesuatu, sudut pandang manakah yang harus dimulai, percaya atau kenyataan?” Jujur sempat kaget ditanya seperti itu, tapi gue berani dengan lantang dan tetap senyum, menjawab “percaya”. Seketika pewawancara membantai habis gue dengan logika Strawman Fallacy-nya, “Kalau seperti itu, berarti hasil dari penelitian kamu bisa tidak valid dong, kamu mengutak-atik segala macam agar semua hasilnya bisa sesuai dengan yang kamu percayai.” Kesal sebenarnya ditikam seperti itu, tapi gue tetap jawab dengan argumentasi gue dan mengklarifikasikan mengapa gue lebih memilih “percaya” daripada “kenyataan”. Panjang lebar gue jelasin alasan gue juga dengan cara yang tidak ambisius.

Penjelasan gue sebenarnya sedikit banyak berhubungan dengan apa yang gue lagi pikirin akhir-akhir ini. Jadi gue menjawab dengan perumpamaan anggaran pendidikan. Setiap tahun pemerintah selalu meningkatkan alokasi anggarannya pada bidang pendidikan. Bahkan, sampai diwacanakan anggaran pendidikan harus 20% dari APBN. Tentunya, peningkatan anggaran pendidikan serta wacana anggaran pendidikan harus 20% tidak terjadi serta merta. Gue yakin sekali ada suatu tujuan tertentu mengapa pemerintah mau memprioritaskan anggaran pendidikan pada aspek pendidikan, dan sedikit mengorbankan aspek lainnya. Umumnya tujuan tersebut adalah Indonesia maju dalam hal pendidikan. Dan hal tersebut sesuatu yang gue percaya sekaligus ragu. Percaya dalam hal ini adalah karena berangkat dari anggaran pemerintah, subsidi pendidikan, kesejahteraan guru serta berbagai hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar dapat terbantu, sehingga yang diharapkan guru berhasil menciptakan murid-murid yang berkualitas lebih dari sebelum-sebelumnya. Salah satu contoh lainnya adalah dengan tingginya anggaran untuk pendidikan kita kita bisa berharap sekolah-sekolah rusak dapat direnovasi sehingga kegiatan belajar mengajar sesuai dengan semestinya, sehingga proses belajar bisa optimal. Tidak menumpang-menumpang tempat lain. Bro, ini sekolah, dan sekolah bisa dibilang arena pendidikan. Gue yakin setiap orang tua sangat sadar dengan pendidikan anaknya, (kalau ada yang nggak sadar, mereka bukan orang tua). Lah ini pemerintah yang dapat dikatakan memegang kunci dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia, terus menerus menutup mata dan telinganya, terhadap problematika pendidikan ini. Hey Pak, ini sesuatu yang saya percayai, dan oleh karena itu, apakah hubungan antara anggaran pendidikan berjalan dengan semestinya, yakni positif. Gue yakin, gue nggak sendirian terhadap hal ini, pasti banyak yang lebih memilih percaya juga, termasuk Pak pewawancara itu, gue tau tuh orang Cuma mempermainkan logika Strawman Fallacy aja.
Sekarang misalkan ternyata hubungan antara anggaran pendidikan dan tingkat pendidikan justru negatif. Hasil penelitian gue seperti itu, karena memang kenyataannya seperti itu. Ya berarti gue nggak harus mengutak-atik angka atau memanipulasi sehingga hasil penelitian sesuai dengan yang percayai. Itu namanya tidak jujur, tidak integritas alias pembohongan. Jika hasil penelitian gue di­-publish gue sudah melakukan pembohongan publik. Bukan ini maksud gue kenapa gue memilih percaya. Pak pewawancara gue sudah melakukan logika Strawman Fallacy tapi salah kaprah juga lagi.
Kalau emang hubungan yang kita percaya antara anggaran pendidikan dan tingkat pendidikan tidak berjalan semestinya berarti kan ada sesuatu yang salah. Disini bisa jadi karena adanya kesalahan penelitian contohnya dalam pemilihan indikator pendidikan. Namun bisa juga salah pada birokrasi pemerintahnya. Bisa jadi terdapat black hole besar yang berada ditengah-tengah antara anggaran pemerintah dan tingkat pendidikan.
Sehingga kalau kenyataan berbicara seperti itu, ya jelas aja pendidikan Indonesia tidak maju-maju. Sesuatu yang salah tersebut bukan lah suatu alasan kalau gue harus memilih kenyataan. Kalau kenyataannya salah kenapa kita harus ikut salah, padahal kita tahu apa yang semestinya dilakukan. Black Hole pastinya akan sangat menghambat kemajuan Indonesia, dari segala Aspek! Karena Black Hole pada birokrasi Indonesia tidak hanya di pada aspek pendidikan tapi sudah menggurita dan menjalar kemana-mana. Inilah kenyataan yang InsyaAllah tidak akan saya pilih. Sesuatu yang seperti ini, yang sangat menyengsarakan namun justru kian digemari oleh para birokrat-birokrat korup, di mana birokrat-birokrat korup tersebut berusaha menjaga sedemikian mungkin untuk agar Black Hole selalu eksis (mempertahankan Status Quo). Kalau memang kenyataannya seperti ini dipertahankan, gue yakin Indonesia akan sulit untuk maju. Atas penjabaran tersebut, masih harus untuk memilih kenyataan?
“Homoeconomicus itu hanya salah satu karakter dari manusia, tidak lebih. Namun akan sangat berbahaya jika Homoeconomicus berubah menjadi kodrat manusia.”
~ Dr. B. Herry-Priyono (STF Driyarkara)