Dilema Manusia Waras

by

Fakta saat ini, “Satu orang yang waras, berkumpul ditengah-tengah kerumunan orang gila, maka orang waras lah yang dianggap gila!”

Itu fakta paling gila yang ada di Indonesia, hmm mungkin di Dunia. Nggak tau juga deh. Tapi yang jelas, Indonesia mengalami defisit moral. Parahnya defisit moral tersebut sistemik. Parahnya lagi sistem tersebut dibudayakan. Ada seorang wanita Indonesia, yang sangat berjasa untuk Negara Indonesia dengan berbagai kontribusi kebijakannya, tapi malah dianggap gila. Tidak bias diajak kompromi. Malah disebut manusia goa. Beliau pernah menjabat posisi penting di republik ini, dan sangat strategis dalam hal kebijakan ekonomi Indonesia. Namun institusi yang dikepalainya bisa dibilang sangat “basah”. Dia datang dengan ke institusi tersebut dengan membawa suatu nilai, yakni tidak untuk korupsi. Bernyali.

Coba aja dibayangkan, institusi sebasah kementerian keuangan, yang pada saat itu tidak transparan, tidak independen juga pegawainya tidak kompeten, tapi dia langsung mengepalai sistem tersebut dengan nilai yang dia bawa. “Tidak ingin terlibat untuk korupsi dan institusinya harus bersih dari korupsi.

Untuk sekedar info dan sesuai dengan kemiripan tulisan gue yang kemarin-kemarin bahwa, korupsi di Indonesia sudah sangat sistemik, dan sistem tersebut dibudayakan oleh para elit (Birokrat Korup) yang menjabat di Institusi tersebut. Menurut gue, fenomena wanita yang menghadapi institusi “basah” tersebut sesuai dengan fakta yang gue tulis di awal tulisan. Alias sama.

Jadi, dengan kata lain bisa dibilang, institusi tersebut (termasuk didalamnya jajaran pejabat, elit politik, CEO, pegawai juga termasuk sistem yang telah ada) gila, dan wanita tersebut waras. Wanita waras tersebut masuk kedalam institusi dan sistem karena tidak lain sebagai amanah. Tapi, karena nilai yang dibawanya wanita waras tersebut tidak bisa untuk kompromi dalam kegiatan korupsi. Dia mulai merubah sistem tersebut, dimana untuk menekankan nilai-nilai integritas, transparansi dan kompeten.

Namun apakah yang terjadi ?

Tentu saja wanita waras tersebut dianggap gila oleh orang-orang yang berada di institusi tersebut. Wanita itu tidak bisa diajak kerjasama. Ya begitulah, banyak orang yang sebenarnya memiliki nilai yang sama seperti wanita waras tersebut. Namun, cost untuk merubah sistem tersebut sangat mahal, sedangkan tuntutan ekonomi sangat menunjang. Akhirnya orang-orang waras dibuat sedemikian rupa untuk tidak memiliki pilihan ‘kecuali’ ikut melunak dan melebur kedalam sistem tersebut.
Ketika keburukan—dan parahnya itu Korupsi—menjadi sesuatu yang lumrah di kehidupan Indonesia sedangkan melawan korupsi adalah barang inferior. Nilai “melawan korupsi” itu bukan barang langka, tapi memang pada dasarnya barang tersebut tidak diinginkan. Oleh karena itu barang tersebut dinilai rendah (mungkin sangat rendah). Maka tidak salah jika nilai “melawan korupsi” disebut barang inferior.

Disamping itu dibutuhkan cost yang sangat besar untuk meruntuhkan korupsi yang sudah sistemik tersebut, terlebih lagi sistem tersebut dibudidayakan. Akhirnya cuma orang yang 100 % gila yang mampu menaklukan tersebut. Namun, ditengah-tengah tuntutan ekonomi saat ini, rasanya sulit untuk menjadi orang yang 100 % gila.

Untuk sekedar info, wanita waras tersebut akhirnya menyelamatkan ekonomi Indonesia dengan biaya 6,7 triliun. Sangat besar. Dengan uang tersebut, mungkin saja kita bisa memiliki banyak sekolah berstandar internasional, rumah sakit modern, taman kota, infrastruktur jalan dan jembatan, alutsista perumahan murah untuk rakyat dan masih banyak hal lain. Tapi bukan itu permasalahan sebenarnya. Disinilah yang kerap kali menjadi kesalahan berpikir. Wanita waras tersebut juga ahli dibidangnya, dan penentuan angka 6,7 triliun tidak terjadi sehari dua hari. Perlu diskusi dan pemikiran mendalam mengenai kebijakan tersebut, dan sangat perlu untuk diketahui, kebijakan tersebut terpaksa diambil karena perekonomian sedang krisis. Bayangkan jika Indonesia juga terkena dampak krisis juga, biaya untuk menanggulangi krisis tersebut bisa dipastikan lebih dari 6,7 triliun tersebut. Kalau Indonesia terkena krisis, sudah dipastikan proyek pembangunan untuk sekolah berstandar internasional sampai alutsista dan perumahan untuk rakyat tidak akan datang, karena pastinya akan memprioritaskan penyembuhan dari krisis terlebih dahulu. Orang sakit pun harus sembuh dahulu sebelum kembali bekerja. Bukan membeli laptop agar orang yang sakit itu dapat bekerja optimal.

Disinilah yang harus dicerahkan. Yang sangat disayangkan adalah ada suatu media yang memberitakan bahwa kebijakan wanita waras tersebut yang membutuhkan dana 6,7 triliun malah dituduh korupsi. Rasa-rasanya kegilaan yang lumrah yang dianggap biasa saja itu sudah menjalar kemana-mana.

Semoga aja Indonesia melahirkan sosok orang yang 100% gila agar dapat merusak sistem yang dianggap waras tersebut.

NB:
Pada dasarnya sistem yang dianggap waras tersebut bisa dibilang karena kesehalahan berpikir manusia Indonesia terhadap homoeconomicus. Apasih homoeconomicus itu ? Secepatnya akan hadir. Namun yang pasti

“Indonesia terlalu Arab dibandingkan arab itu sendiri, pun begitu Indonesia terlalu Barat dibandingkan barat itu sendiri.”